
Zean mendapatkan beberapa kiriman dari Indonesia yang ternyata itu salah kiriman dari Tiara. Ia membuka paket tersebut dan berisi beberapa makanan kesukaan Zean dan undangan pernikahan mereka. Di antara yang lain ia melihat nama Andre dan Arnold yang tertulis di beberapa undangan tersebut. Zean menelepon Tiara untuk memberi tahu kalau paketnya sudah sampai.
"Hallo Bii, paket ku sudah sampai. Sebagian undangan ini aku tidak mengenal mereka, bagaimana aku akan mengantarkannya?" Tanya Zean.
"Selain punya Andre kamu titip aja sama Arnold, itu anak-anak satu kerjaan ku kemarin." ucap ku.
"Baiklah, apa kamu kelelahan Bii? Kamu yakin dapat menyelesaikan ini semua sendiri? Atau kita undurkan saja pernikahannya? Biar aku bisa membantu mu untuk mempersiapkannya." ucap Zean.
"Aku dan Dita sudah menyelesaikan hal yang rumit, tinggal hal yang sepele belum selesai. Aku akan meminta bantuan Richard jika merasa kesulitan. Kamu cukup menyelesaikan pekerjaan mu dengan cepat. Dengan begitu kamu akan pulang ke sini dan bisa melihat hal-hal yang tidak kaku sukai." ucap ku yang masih mengantuk.
"Maafkan aku menyulitkan mu Bii, aku akan menyelesaikan semua ini secepatnya. Kamu istirahatlah lagi, i love you Bii." ucap Zean mengakhiri teleponnya.
Zean mematikan ponsel dan meletakan ponselnya ke atas meja. Satu persatu ia membuka isi di dalam paket yang di kirim Tiara seminggu yang lalu. Terdapat beberapa makanan olahan yang sangat ia rindukan dan sempat di kirim oleh Tiara untuknya. Zean pun tak membuang waktu untuk menghangatkannya dan memakannya. Sudah cukup lama dia tidak merasakan masakan khas Indonesia dan dia benar-benar sangat menikmatinya.
Setelah makan ia pun bersiap-siap akan berangkat ke tempat Arnold untuk mengantarkan undangan pernikahan mereka. Tak butuh waktu lama bagi Zean untuk ke rumah Arnold, karena ia sudah mendapatkan izin mengemudi dari dokter ia tidak terlalu bergantung dengan Paul lagi sekarang. Ia pun tiba di apartemen tempat Arnold tinggal dan mengetuk pintunya. Selang berapa waktu pintu kediaman Arnold pun terbuka dan Arnold muncul di balik pintu.
"Ini akhir pekan, apa tidak ada hari lain kamu datang kesini pagi-pagi?" tanya Arnold yang masih mengantuk.
"Apa kau semalam ke bar? Sepertinya kau menikmati kehidupan lajang mu." ucap Zean sambil masuk tanpa memperdulikan ucapan Arnold.
"Aku di undang oleh teman ku, dia akan menikah Minggu depan jadi kami melaksanakan pesta lajang untuknya terakhir kali. Kau mau sarapan?" tanya Arnold menyusul Zean masuk.
"Tidak aku ke sini ada sesuatu yang akan aku berikan kepada mu." ucap Zean duduk.
"Sesuatu? Sepertinya ini bukan seperti dirimu yang biasanya." ucap Arnold penasaran.
Zean mengeluarkan undangan dari tasnya dan meletakkannya ke atas meja. Arnold mengambil undangan tersebut dan membacanya.
"Owh God, apa ini penghinaan terhadap ku yang masih sendiri?" ucap Arnold sambil mengusap mukanya dengan kedua tangannya.
"Kau harus datang, aku akan mengenalkan mu dengan wanita-wanita di sana. Kau akan tertarik oleh pesona mereka." ucap Zean.
__ADS_1
"Jangan lagi, aku masih ingin sendiri sekarang." ucap Arnold.
"Terserah mu, yang jelas kau harus hadir di acara pernikahan kami." ucap Zean.
Arnold tersenyum mendengar ucapan Zean, ia hanya mengangguk pelan sambil melihat-lihat undangan yang di tujukan untuknya itu.
"Apa kamu tidak keberatan aku menitipkan ini? Kata Tiara mereka adalah teman-temannya saat bekerja dulu." ucap Zean.
Arnold mengambil beberapa undangan yang ternyata memang ia kenali.
"Ya baiklah, tapi aku harus berdiskusi dengan mu terlebih dahulu. Apa kalian akan menetap di sana setelah menikah nanti?" tanya Arnold serius.
"Tiara masih trauma akan kecelakaan yang menimpa kami beberapa tahun yang lalu jadi dia memutuskan untuk tidak di sana dulu. Dan akan ikut aku kembali ke sini." jelas Zean.
"Kapan kamu berencana akan pulang?" tanya Arnold lagi.
"Pekerjaan ku akan selesai dalam beberapa hari ini, setelah itu aku akan pulang. Apa masih ada pekerjaan baru untuk ku?" tanya Zean.
"Kau serius...?" tanya Zean tak percaya.
"Ya, aku akan mengurus semuanya besok dan kamu selesaikan pekerjaan mu. Setelah itu kita berangkat, bagaimana?" usul Arnold.
"Deal..." ucap Zean yakin.
Mereka tertawa bersama dan membahas beberapa pekerjaan agar mereka dapat dengan cepat menyelesaikan semuanya. Setelah beberapa jam di tempat Arnold Zean memutuskan untuk pulang, sebelum pulang ia mampir ke kantor pos untuk mengirimkan undangan yang di tujukan untuk Andre. Namun Zean mengurungkan niatnya dan memacu kembali mobilnya menuju apartemen milik Andre berada. Saat tiba di sana ternyata Andre tidak ada di rumahnya, Zean pun mencoba menghubunginya.
"Hy Ndre, aku ada di depan rumah mu. Namun sepertinya kamu tidak lagi di sini." ucap Zean menelepon Andre.
"Ya aku di luar, ada urusan apa sampai kamu datang ke apartemen ku?" tanya Andre.
"Aku mau memberikan titipan dari Tiara untuk mu. Dimana kita bisa bertemu?" tanya Zean.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita bertemu di cafe beberapa menit lagi? Aku akan mengirimkan alamatnya lewat pesan kepada mu nanti." ucap Andre.
"Baiklah, aku akan ke sana." ucap Zean sambil mengakhiri teleponnya.
Zean pun mengambil mobilnya dan mengendarainya menuju tempat yang sudah di janjikan. Tak lama setelah itu ia pun tiba di tempat yang sudah di tentukan dan masuk ke sebuah cafe. Zean melihat Andre yang duduk sendiri di sebuah bangku dan ia pun mendekatinya.
"Maaf membuat mu menunggu." sapa Zean.
"Tidak masalah, aku baru juga sampai." ucap Andre.
"Langsung saja, aku dan Tiara akan melakukan pernikahan. Kami harap kamu bisa datang." ucap Zean sambil memberikan undangan pernikahannya kepada Andre.
Andre mengambil undangan itu dan membacanya. Dengan tersenyum ia membaca nama yang tertulis di undangan tersebut. Dan lagi-lagi namanya hanya tertulis sebagai tamu di sana.
"Baiklah, aku akan datang, mengingat Tiara adalah teman masa kecil ku aku akan melihatnya di hari dia berbahagia." ucap Andre.
"Terima kasih, aku sangat senang mendengarnya." ucap Zean.
"Tapi berjanjilah kau tidak akan mengecewakannya lagi Zean. Aku benar-benar akan mengambilnya jika dia terluka lagi." ancam Andre.
"Apa kau akan menjadikan Tiara selingkuhan mu? Aku dengar dari dia kalau saat ini kau dekat dengan seorang wanita." ucap Zean.
"Aku hanya kan membawanya, bukan untuk memilikinya. Ya aku akan mencoba membuka lebaran baru bersama wanita ini." ucap Andre menjelaskan.
"Jangan lupa ajak dia nanti kalau kau datang ok." ucap Zean.
"Tentu, aku tidak akan datang seorang diri." ucap Andre yakin.
Zean tersenyum mendengar ucapan Andre dan memohon pamit terlebih dahulu karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar dapat kembali ke Indonesia untuk membantu Tiara.
Sepeninggal Zean, Andre kembali membaca undangan yang di tujukan untuknya itu. Dengan wajah sedikit sedih ia mencoba melupakan dan melepaskan semua kenangan dan bayangan Tiara yang masih tertinggal di dalam benaknya.
__ADS_1