Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 143


__ADS_3

Setelah mengantar Tiara pulang, Arnold pergi menuju rumah Zean. Mau bagaimana pun ia harus membahas ini semua dan tak ingin terjadi kesalahpahaman antara ia dan Zean yang sudah bersama selama ini. Setiba di sana ternyata Zean sedang duduk di sofa di ruang keluarga.


"Apa kamu sudah makan? Sepertinya kau banyak fikiran." ucap Arnold duduk di samping Zean.


"Apa kau berencana menusuk ku dari belakang? Apa kau merencanakan ini semua?" tanya Zean.


"Ya aku memang merencanakan semuanya, namun aku tidak menyangka ini akan berjalan secepat ini. Ku kira saat Tiara sudah jatuh cinta kepada ku baru ia tau keberadaan mu, ternyata keadaan lebih cepat mempertemukan kalian." ucap Arnold.


"Apa kau benar-benar akan bersaing dengan ku? Kau tau kalau dia masih istri ku." ucap Zean.


"Sudahlah, sepertinya kau harus menenangkan fikiran dan bersantai sejenak. Fikirkan saja apa yang harus di lakukan selanjutnya." ucap Arnold.


Arnold pergi meninggalkan Zean sendiri yang terdiam dengan menundukkan kepalanya.


Arnold keluar dari apartemen Zean dan melihat ponselnya. Ternyata yang meneleponnya adalah Paul, mereka pun memilih untuk bertemu di sebuah cafe. Arnold pun pergi menuju tempat yang mereka janjikan.


"Kau sudah lama menunggu?" sapa Andre.


"Aku baru saja sampai, apa kamu sudah bertemu Zean?" tanya Paul.


"Ya aku baru saja dari sana." ucap Arnold.


"Apa kau yakin akan melakukan ini semua? Dia pasti akan salah sangka terhadap mu." ucap Paul.


"Aku masih belum sampai pada tujuan ku." ucap Arnold santai.


"Bagaimana kalau Tiara menyukai mu? Apa yang akan kamu lakukan setelah itu terjadi?" tanya Paul penasaran.


"Dia tidak akan jatuh hati kepada ku, aku hanya membantunya mengingat semua yang sudah Zean perjuangkan untuknya. Dan juga ia pasti akan kembali ke Zean, aku jamin itu." ucap Arnold yakin dengan ucapannya.


"Kamu selalu merencanakan semuanya tanpa memberi tahu Zean kenyataannya. Ini akan tidak baik bagi mu, kamu terlalu banyak menyembunyikan semuanya." ucap Paul.


"Aku berusaha membuat mereka berfikir akan hubungan yang harus mereka jalani dan pertahankan, agar semua yang sudah terjadi tidak sia-sia kau harus tetap menjadi asisten Zean." perintah Arnold.


"Aku benar-benar gila mengingat rencana mu." ucap Paul sambil menggelengkan kepalanya

__ADS_1


Arnold memiliki rencana sendiri untuk menyatukan Zean dan Tiara kembali. Walaupun itu harus menyakiti perasaan Zean, namun ia ingin Tiara membuka matanya lebar-lebar siapa yang ia perjuangkan selama ini. Setelah akhirnya Arnold mendepak pergi Andre dari hubungan Zean dan Tiara.


Keesokan harinya, seperti biasa Arnold mendatangi apartemen Tiara untuk sekedar sarapan.


"Apa kamu tidak bosan makan pancake tiap hari?" tanya Tiara.


"Tidak, aku menyukainya. Apa kamu ada rencana keluar hari ini?" tanya Arnold.


"Aku belum ada rencana hari ini, mungkin aku akan ke perpustakaan saja untuk memperdalam bahasa ku." ucap Tiara.


"Kau mau ikut aku ke suatu tempat? Hari ini adalah hari perayaan seseorang." ucap Arnold.


"Kamu mau mengantar buket bunga lagi?" tanya Tiara penasaran.


"Ya, bergegaslah aku akan menunggumu di bawah." ucap Arnold sambil pergi meninggalkan Tiara.


Tiara hanya diam mendengar ucapan Arnold yang tanpa persetujuannya terlebih dahulu. Mau tak mau ia pun menuruti ucapan Arnold dan bergegas mengganti pakaiannya. Hampir satu jam mereka di dalam mobil dan akhirnya mereka pun tiba. Namun Tiara sedikit merasa aneh karena yang di datanginya bukanlah sebuah pesta melainkan sebuah pemakaman.


"Arnold, bukannya kita mau mengantarkan buket mawar ini ke sebuah acara?" tanya Tiara sedikit takut.


"Ya, ayo. Sebentar lagi acaranya akan di mulai." ucap Arnold menarik tangan Tiara.


"Chritine lorent" sebuah nama yang terukir di batu nisan yang ada dihadapan mereka.


"Hy, selamat hari pernikahan." ucap Arnold.


Tiara terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Arnold. Ternyata makam ini adalah makam calon istri Arnold yang sudah meninggal dan hari ini adalah hari pernikahan mereka.


Setelah menemani Arnold ke pemakaman calon istrinya, mereka memutuskan pulang. Hampir setengah perjalanan mereka saling berdiam diri, akhirnya Tiara mencoba untuk memulai percakapan.


"Kamu sangat menghargai wanita itu ya." ucap Tiara.


"Dia orang yang rela mati demi aku dan rela melakukan apapun demi ku, bagaimana mungkin aku bisa mengabaikannya." ucap Arnold.


"Kenapa kamu tidak mencoba membuka hati untuk wanita lain?" tanya Tiara.

__ADS_1


"Tidak semudah itu, bila aku mengingat semuanya apa yang aku korbankan tak sebanding dengan apa yang sudah ia korbankan untuk ku. Kamu tau Raa? Bukan hanya hatinya yang ia berikan untuk ku, dia bisa memberikan semua yang aku minta. Kalau sudah seperti itu, bagaimana bisa aku mencari wanita lain?" ucap Arnold.


"Tapi bagaimana bisa kau mengatakan kalau kau saat ini sedang mengejar ku?" tanya ku heran.


"Aku hanya mencoba hal baru. Mencoba membuka perasaan dan mengerti akan kehidupan." ucap Arnold.


"Ternyata aku hanya sebagai pelampiasan." ucap Tiara sambil tertawa.


"Ha ha ha... Apa kamu harus berfikir sejauh itu?" tanya Arnold.


"Ya bagaimana tidak aku berfikir seperti itu aku masih mengharapkan rumah tangga ku baik-baik saja. Tapi masih sedikit kecewa akan hal kemarin." ucap ku memelas.


"Dia hanya berusaha agar kamu bahagia dan memulai hidup yang baru." ucap Arnold.


"Sudahlah, aku masih ingin menenangkan fikiran ku." ucap Tiara sambil menatap ke arah jendela.


Arnold diam mendengar ucapan Tiara yang seakan-akan menyerah akan hubungannya.


_________________


Zean berfikir bagaimana cara agar dapat memperbaiki hubungannya dengan Tiara. Tiba-tiba Paul mengejutkannya.


"Tuan apa ada rencana keluar hari ini? Saya akan menyiapkan keperluan anda." ucap Paul.


"Aku belum ada rencana hari ini, apa kamu ada rencana akan keluar?" tanya Zean.


"Tidak ada, saya hanya mengingatkan tentang hari ini adalah acara perayaan pernikahan tuan Arnold dan mendiang istrinya." ucap Paul.


"Aku akan menghubungi dia nanti, mungkin dia saat ini sedang ada di makam. Aku akan mengucapkannya nanti setelah dia pulang dari sana." ucap Zean.


"Apa kita juga akan mengirimkan buket mawar ke makam mendiang istri tuan Arnold?" tanya Paul.


"Baiklah, pesanlah dan kirimkan saja ke sana. Setidaknya kita menghargai perjuangan cinta mereka." ucap Zean.


Zean membuka ponselnya dan melihat foto Tiara.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku mati? Apa kau akan mencari ku seperti yang Arnold lakukan? Aku akan berusaha memperbaiki ini semua Ras. Aku benar-benar akan membawa mu kembali ke sisi ku." batin Zean.


Paul pun memesan buket mawar yang di tujukan ke makam mendiang istri Arnold, ia pun tak menyangka kalau ini adapah tahun ke empat tahun pernikahan mereka.


__ADS_2