Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 119


__ADS_3

Aku sudah sampai di bandara Charlles de gaulle Airport, sebenarnya bandara ini berada tidak tepat di paris melainkan terletak sejauh 26 Km timur laut kota Paris, Perancis. Aku menarik koper ku keluar, seperti yang ayah bilang akan ada sepupu ku yang akan menjemput di luar. Saat keluar aku mencari-cari sosok yang akan mengantar ku itu, dan bodohnya aku lupa meminta foto sepupu ku itu ke ayah. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku dari belakang.


"Tiara..." sapa seorang laki-laki yang lumayan tampan


"Ya...? Kamu kenal sama aku?" tanya ku penasaran


"Ya kenal lah, kalau aku gak kenal ngapain jemput kamu" ucapnya


"Owh, kamu anaknya pak le Nandar ya? Maaf aku lupa minta foto kamu sama ayah, jadi aku belum lihat muka kamu" ucap ku sambil tertawa


"Ya sudah ayo aku antar kamu ke apartemen mu" ajaknya sambil membawakan koper ku


"Owh iya, kalau boleh tau nama kamu siapa?" tanya ku mengikutinya


"Panggil saja aku Ian, nanti kalau aku kasih nama panjang ku kamu susah hapalin" ucap Ian bercanda


Aku hanya tertawa kecil mendengar guyonan yang di buat oleh Ian, selain cakep dia juga humoris. Perjalanan kami di penuhi dengan candaan Ian, ia sangat mudah bergaul dan membuat ku sama sekali tidak merasa canggung terhadapnya. Padahal kami sama sekali belum pernah bertemu. Pak le Nandar mempunyai bisnis di Paris, karena sudah menganggap paris sebagai lumbung rejekinya ia pun mendapatkan jodoh di sini dan menetap di sini juga. Pak le pulang ke Indonesia hanya sesekali saja, lebih tepatnya saat lebaran. Dan terkadang Pak le pulang hanya bersama istrinya, karena anaknya yang harus sekolah. Kami berhenti di sebuah bangunan yang cukup mewah namun klasik.


"Kita sudah sampai, ayo aku antar kamu ke kamar mu. Aku pilih apartemen yang ini agar kamu lebih mudah untuk berangkat kerja" ucap Ian

__ADS_1


"Oh ya...? Kamu juga tau aku akan kerja di sini?" tanya ku


"Iya tau lah, sebelum aku nyari apartemen kamu ini ya aku harus tau dulu tujuan kamu ke sini ngapain. Jadi biar aku bisa milih apartemen yang bagus dan mudah untuk kamu bisa berangkat ke kantor nantinya" jelas Ian sambil membawa ku masuk


Ian mendatangi resepsionis apartemen ini, mungkin dia ingin mengkonfirmasi bahwa mulai hari ini aku tinggal di sini. Aku menunggu Ian di sofa lobi yang sudah di sediakan, bangunan ini sangat cantik.


"Ini Card mu dan kode pin pintu mu, jangan sampai ada yang tau ini. Walau pun ini apartemen dengan kemanan yang full, tapi kamu harus tetap jaga-jaga" ucap Ian menasehati


"Ok, makasih ya..." ucap ku sambil mengangguk


Kami menaiki lift menuju kamar ku, dan aku masih merasa gugub untuk tinggal sendiri di sini. Tiba-tiba saja aku sudah rindu dengan rumah ku dan Zean dulu.


"Raa....? Kamu melamun? Mikirin apa?" tanya Ian tiba-tiba


"Yaa besok kalau kamu sudah keliling dan lihat-lihat kota ini juga bakalan betah. Ini kamar mu coba kamu buka" ucap Ian


Aku pun mencoba membuka kamar ku, lumayan cantik dan luas. Kamar ini pun di lengkapi dengan dapur mini dan meja makan yang muat untuk dua orang. Aku membuka tirai kamar yang dari tadi tertutup, saat ku buka benar-benar nampak pemandangan yang cantik dari kamar ini. Aku membuka setiap kaca kamar ku agar udara segar dari luar bisa masuk ke kamar.


"Jangan di buka semuanya, ini sudah mau masuk ke musim dingin. Nanti kamu flu" nasehat Ian

__ADS_1


"Tapi di luar masih terasa hangat" ucap ku


"Iya memang masih terasa hangat, tapi hawa pergantian musim itu biasanya bikin sakit" jelasnya


Aku mengangguk mendengar ucapan Ian, karena selama ini aku datang ke Paris hanya pas musim dingin jadi aku kurang mengetahui akan hal seperti itu.


"Kamu istirahat dulu, dua jam lagi aku akan jemput kamu. Kita keluar beli makan dan baju hangat untuk kamu sekalian" ucap Ian


"Kamu mau kemana?" tanya ku penasaran


"Aku masih harus antar dokumen ke tempat ku bekerja, tadi aku izin sebentar buat jemput kamu" ucap Ian memberi tahu


"Owh, ok. Kalau gitu aku antar kamu ke bawah ya, sekalian aku mau lihat-lihat area sini juga" ucap ku


"Udah, kamu istirahat di sini aja. Perjalanan mu tadi kan bukan sebentar, lagian nanti kamu juga terbiasa kalau sudah lama di sini" ucap Ian menasehati


Aku hanya diam mendengar penolakan Ian. Sejujurnya aku sedikit kecewa akan hal itu, tapi ku fikir mungkin Ian merasa khawatir jika aku keluar sendirian. Jadi aku pun menurutinya untuk tetap tinggal di kamar ku ini.


"Raa, jangan buka pintu sama orang yang enggak kamu kenal ok" pesan Ian sambil menutup pintu ku dan pergi

__ADS_1


Aku menghempaskan tubuh ku di kasur dan membuka ponsel ku.


"Hy Zean, aku sudah di paris sekarang" pikir ku sambil melihat fotonya di layar ponsel ku


__ADS_2