
Hari ini adalah hari keberangkatan ku ke paris, tentu saja aku di antar oleh ayah, Dita dan Andre. Ada rasa sedih karena akan meninggalkan mereka, namun aku harus melanjutkan hidup ku. Aku tidak ingin terus merasa sedih akan meninggalnya Zean. Setelah Melati di tetapkan sebagai tersangka, kami semua pun merasa lega akan hal tersebut.
"Barang-barang penting mu udah di simpan kan nduk?" tanya ayah
"Udah yah, ini yang penting-penting Raa letak di tas ini" ucap ku sambil menunjuk tas ransel ku
"Jaga kesehatan mu ya, jangan makan sembarangan. Kalau ada apa-apa kamu harus langsung hubungi kami di sini" nasehat ayah
"Iya, kamu jangan sok jago ngadepin maslah sendirian" ucap Dita
Aku hanya tertawa mendengar ucapan mereka yang sangat mengkhawatirkan aku. Andre hanya diam dari kami tiba tadi, seperti ada sesuatu yang mengganggu fikiran nya.
"Tenang, aku pergi gak bakalan lama kok. Aku benar-benar akan merindukan mu Taa" ucap ku sambil memegang tangannya
Dita memeluk ku dengan erat, sangat sedih rasanya untuk meninggalkan mereka saat ini.
"Ayo masuk. Nanti kamu terlambat" ucap Andre tiba-tiba
__ADS_1
Aku mengangguk mengiyakan ucapan Andre dan melepaskan pelukan dri Dita. Ku sandang kembali ransel ku dan bersalaman ke ayah, nampak mata ayah sedikit basah melihat akan kepergian ku.
"Raa pamitan ya yah, ayah sehat-sehat dan jangan lupa minum vitamin ayah" ucap ku sambil mencium tangannya
"Iya nduk, kamu baik-baik di sana ya. Segala keperluan mu sudah ku siapin di sana, kalau nanti ada yang kurang kamu bisa telepon anaknya pak le Nandar" ucap ayah
"iya yah nanti Raa hubungin dia pas sampai di sana" ucap ku
Aku dan Andre menuju ruangan chek-in, penerbangan hari ini tidak terlalu ramai mungkin karena bukan masa liburan. Andre membantu ku membawakan koper, ia berjalan duluan sambil menggandeng tangan ku.
"Tuhan, andai saja perasaan ini mudah untuk berubah dan berpaling. Mungkin aku akan hidup lebih baik dengan Andre saat ini. Maafkan aku Ndre, karena tidak dapat membohongi perasaan ini" batin ku
"Ndre...." ucap ku sambil menarik tangannya
"Ya...? Ada yang ketinggalan?" tanya Andre penasaran
"Enggak, makasih ya. Dan maaf karena aku gak bisa ..." ucap ku terputus
__ADS_1
"Raa, aku memang sedikit sedih dengan penolakan mu. Tapi aku juga harus menghargai keputusan mu, aku tau ini tak semudah yang di bayangkan. Aku akan selalu ada di belakang mu Raa dan akan selalu mendukung mu" ucap Andre
"Tapi kamu juga harus mencoba membuka hati untuk yang lain Ndre, aku gak mau kamu nungguin aku yang belum pasti" ucap ku
"Akan ku usahakan, sekarang kamu tunggu di sini. Takutnya nanti kamu terlambat untuk chek-in" ucapnya
Aku menganggu kan kepala menyetujui ucapannya dan duduk di kursi yang sudah di sediakan. Aku melihatnya yang semakin menjauh dan aku melihat jam di ponsel ku yang sudah menunjukan pukul 10.23 WIB.
"Ini tiket mu, kamu udah bisa masuk ke ruangan boarding pass. Apa mau beli minuman?" Tanya Andre mengagetkan ku
"Enggak usah, aku sudah banyak minum tadi. Makasih ya, aku berangkat ya Ndre" ucap ku sedih
Tiba-tiba Andre memeluk ku, aku tau dia merasa kehilangan akan kepergian ku ini. Aku pun membalas pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Kamu jaga diri baik-baik ya Raa, jaga kesehatan mu" ucapnya dengan suara sedikit bergetar
Aku melepaskan pelukannya dan mengangguk, aku mulai berjalan meninggalkan Andre yang berdiri terpaku akan kepergian ku. Saat aku masuk ke ruang tunggu Andre mengirim pesan.
__ADS_1
"Tak bisakah kamu bekerja di sini saja? Aku benar-benar merasa kehilangan saat ini. Kamu bisa kerja di kantor ku, dan aku akan memberikan gaji yang besar untuk mu Raa" tulis Andre
Aku tau Andre merasa terpukul akan kepergian ku ini, tapi tujuan ku yang sebenarnya bukan hanya ingin bekerja di luar negeri melainkan ingin mencoba melupakan Zean dan memulai kehidupan yang baru.