
Ian menelepon ku dan mengatakan kalau dia sudah di luar kamar ku, aku dengan langkah malas membukakan pintu kamar ku.
"Hy... Kamu lagi tidur?" sapa Ian di depan pintu.
"Iya, aku baru aja tidur sebentar. Kamu kan udah punya card sendiri dan tau pinnya, kenapa gak buka sendiri aja sih?" tanya ku sedikit kesal.
"Kan kamu di dalam, gak mungkin dong aku nyelonong masuk gitu aja ke kamar cewek. Nanti di sangka ngapa-ngapain lagi." ucap Ian beralasan.
"Ya habis hari ini aku sial banget tau gak sih?" ucap ku.
"Sial kenapa?" tanya Ian sambil duduk di sofa kamar ku.
Aku menceritakan kejadian tadi dengan Ian, sontak saja itu membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Aku pun semakin malas untuk membahasnya lagi.
"Seharusnya kamu itu bersyukur Raa, ketemu sama orang kayak gitu. Biasanya ada yang lebih parah dan memutar balikan fakta." jelas Ian.
"Iya cuma aku kesal banget tau gak sih? Tapi ya dia juga bantuin aku lapor ke resepsionis tadi." ucap ku.
__ADS_1
"Emang kamu ada urusan apa ke resepsionis?" tanya Ian penasaran.
"Ya karena tadi card sama Hp ku tinggal di dalam kamar, jadi aku gak bisa masuk dan telpon siapa-siapa." ucap ku polos
"Ya ampun Raa, kamu itu benar-benar ya. Untung aja cowok itu baik." ucap Ian memuji.
"Ya sudahlah sekarang aku lapar, kita jadi makan gak nih?" tanya ku.
" ya ayok, kamu aja dari tadi gak jadi siap-siap." ucapnya.
"Ian, aku butuh kartu sama wifi. Aku belum telpon ayah sama sekali, pasti ayah khawatir banget sekarang." ucap ku sambil menyisir rambut.
"Tadi pak de sudah telepon aku kok, aku bilang kamu sedang istirahat di apartemen terus belum cek Hp" jelasnya
"Oh ya...? Baguslah kalau begitu, aku takut kalau ayah benar-benar khawatir saat ini." ucap ku.
Kami pun berangkat menuju sebuah restoran, menikmati makan malam dan membeli beberapa pakaian dan kebutuhan ku selama di sini. Aku menikmati perjalanan dengan di pandu oleh Ian, untunglah dia bisa ku andalkan saat ini.
__ADS_1
Arnold berjalan keluar dari apartemennya, seperti biasa ia akan mengunjungi Zean dan menemaninya makan malam. Karena Arnold tidak tega membiarkan Zean membuat dan makan sendiri, siang hari ada seorang pelayan yang membatu Zean. Namun jika sudah malam, pelayan itu pun harus pulang. Arnold sudah berkali-kali mengajak Zean untuk tinggal bersama, namun Zean selalu menolak keinginan Arnold yang sangat ingin membantunya. Alasannya karena Zean masih ingin waktu sendiri dan menikmati kesendiriannya. Arnold sudah sampai di depan apartemen Zean, tanpa di suruh ia membuka sendiri pintu kamar Zean. Karena ia sudah di beri izin dan pin kamar oleh Zean untuk masuk, jadi tanpa harus menunggu Zean membukakan pintu Arnold dapat masuk dengan leluasa.
"Kamu makan itu lagi?" tanya Arnold mengagetkan Zean.
"Aku agak malas hari ini, kamu dari mana?" tanya Zean balik sambil menawarkan potongan pizza ke arah Arnold.
"Apa kamu akan terus makan-makanan instan begini? Sudah hampir tiap malam kamu pesan makanan siap saji." omel Arnold.
"Ya setidaknya ini mengenyangkan dan juga praktis." ucap Zean santai.
Arnold mengambil potongan pizza di dalam kotak dan berjalan menuju kulkas, setelah membuka kulkas ia pun menuang jus jeruk kemasan ke dalam gelas. Ia pun memberikan gelas yang berisi jus tersebut ke Zean.
"Nih, kamu itu harus bisa jaga kesehatan mu sendiri. Kamu gak mau pulih lebih cepat apa?" tanya Arnold.
"Aku sudah tidak berharap banyak lagi sekarang, aku menyerahkan takdir ku kepada Tuhan." ucap Zean santai
Arnold hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menemani Zean menghabiskan pizza. Saat ini ia bingung untuk memberi tau kebenaran tentang Tiara kepada Zean atau. menyembunyikannya. Karena Arnold takut jika Zean tau kalau Tiara berada di sini sekarang nanti Zean berinisiatif akan pergi dari sini, seperti yang di lakukannya waktu masih di indonesia.
__ADS_1