Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 141


__ADS_3

Hari sudah beranjak siang, Zean berencana untuk mendatangi Tiara ke rumahnya dan mencoba menjelaskan semuanya. Ia berharap bisa bertemu dan berbaikan kembali bersama Tiara, dan mengulang kembali hubungan mereka yang sudah sempat terputus begitu lama akibat beberapa konflik. Dengan di temani Paul, Zean pergi menuju apartemen Tiara. Berbekal alamat yang di berikan oleh Andre semalam, tapi yang membuatnya sedikit aneh mengapa alamatnya malah mirip dengan alamat apartemen Arnold. Namun Zean tidak terlalu memperdulikannya dan terus pergi ke sana.


Aku masih duduk di meja makan ku dan menikmati sarapan ku, mata ku sembap karena menangis semalam dan kepala ku sedikit pusing. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan aku membukanya, ternyata itu adalah Arnold.


"Kamu baru bangun?" tanya nya.


"Ya. Masuklah aku baru mulai sarapan, perutku terasa kosong karena menangis semalam." ucap ku duduk kembali


"Baiklah makanlah sebanyak yang kamu mau. Kamu butuh banyak asupan gizi untuk energi yang besar." ucap Arnold meledek.


"Berhenti meledekku atau kau aku usir dari sini, mau kopi?" tanya ku.


"Boleh. Apa yang aku katakan itu benar, aku rasa Zean nanti akan ke sini untuk mencoba menjelaskan semuanya kepada mu." ucap Arnold.


"Aku masih belum tau apa yang akan aku ucapkan saat bertemu dengannya Arnold. Aku masih sedikit marah dan kecewa akan kelakuannya." ucap ku sambil memberikan kopi ke Arnold.


"Kau harus dewasa Raa, mulai lah dari hal yang termudah. setelah itu kamu akan lebih mudah menerima kesulitannya." jelas Arnold.


"Maksud mu...?" tanya ku tak mengerti.


"Maksudku, mulailah dari mencoba untuk memaafkan kesalahannya. Setelah itu mendengarkan kenyataannya dan memahaminya kalau sudah melakukan itu semua mulailah untuk membuka hati mu lagi." jelas Arnold.


"Itu gak segampang yang kamu ucapkan Arnold, mungkin berbicara lebih mudah dari pada melakukannya." ucap ku lirih.


"Yaa kalau begitu mulailah dari memaafkannya." ucap Arnold.


"Andaikan posisi mu ada di tempat ku saat ini, apa kamu akan melakukan hal tersebut? Seperti yang barusan kamu bilang?" tanya ku.


"Ya, karena dengan begitu kita bisa tau jawaban untuk ketahap selanjutnya." ucap Arnold yakin.


Aku memandangnya yang menyeruput kopi, mungkin dia memiliki jiwa yang cukup besar untuk menerima kesalahan setiap orang. Tapi setelah ku fikir-fikir hal itu pun ia lakukan kepadaku dulu, ya dia melakukan hal yang sama sebelum mengenal ku lebih jauh. Saat sedang berbincang-bincang pintu ku kembali di ketuk dengan orang yang aku tidak tau, namun sepertinya apa yang di katakan Arnold benar. mungkin Zean datang untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada ku.


"Arnold, bantu aku membukakan pintu. Aku akan mengganti pakaian ku sebentar." ucap ku sambil lari ke kamar.

__ADS_1


"What...? Kenapa harus aku?" tanya Arnold namun Tiara keburu kabur kedalam kamarnya.


Arnold melangkah dengan malas untuk membukakan pintu, ia yakin Zean pasti akan salah paham dengan keberadaanya di sini.


"Seharusnya aku cepat pulang tadi agar tidak terkena masalah seperti ini." gumam Arnold.


Arnold membukaka pintu dan jelas saja kalau yang berdiri di depannya saat ini adalah Zean. Zean sedikit terkejut karena yang membukakan pintu bukan orang yang dia harapkan melainkan orang lain.


"Apa aku salah nomor kamar? Sepertinya aku benar, tapi kenapa kamu yang di sini?" tanya Zean penasaran.


"Masuklah, orang yang kamu cari sedang di kamar. Sebentar lagi akan keluar." ucap Arnold mengajaknya masuk.


"Apa yang kau lakukan disini dan sejak kapan kalian saling kenal?" tanya Zean penasaran.


"Aku menolongnya saat dia pertama kali datang, dan juga dia bekerja di perusahaan yang sama dengan ku." jelas Arnold sambil duduk di depan kopinya tadi.


Zean mengikuti Arnold dan duduk di hadapannya saat ini, ia sangat tak menyangka jika Arnold sudah sedekat ini dengan Tiara. Sepertinya apa yang Arnold ucapkan kepadanya saat itu benar-benar ia lakukan. Namun Zean masih bekum tau sejauh apa hubungan Arnold dengan Tiara.


"Apa kau yang merencanakan ini semua? Haruskah sejauh ini?" tanya Zean sedikit kesal.


"Arnold, haruskah aku bersaing bersama mu? Kau tau kondisi ku saat itu." ucap Zean.


"Berhenti untuk mengasihani dirimu sendiri, apa kau memahami perasaan orang lain? Dengan secara tak langsung kau ingin di kasihani berpura-pura seolah-olah merelakan Tiara namun di sisi lain kau mengikatnya dan tak ingin melepaskannya kepada siapapun. Kenapa seegois itu?" tanya Arnold sambil menyeruput kopinya.


Zean terdiam dengan ucapan Arnold, ia sama sekali tidak menyangka akan menjadi rival dengan sahabat kecilnya itu. Tak lama kemudian Tiara keluar dari kamar melihat ke arah mereka berdua.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang. Kalian berbicaralah berdua dulu untuk menyelesaikan masalahnya." ucap Arnold beranjak dari meja makan.


"Arnold, temani aku di sini ok." ucap ku sedikit gugup.


Arnold melihat ku dengan pandangan bertanya-tanya, jujur aku sangat tidak tau apa yang harus aku hadapi saat ini dan apa yang harus aku katakan.


"Aku akan berbicara bersamanya di sana, kamu bisa menunggu di sini dan makan pancake yang aku buat ok." bujuk ku.

__ADS_1


Arnold mengusap kepala ku mengerti dengan ucapan ku.


"Tenanglah, kau harus mencoba membuka hati untuk memaafkannya. Tidak perlu gugup, ini bukan ujian sekolah." ledek Arnold.


Ucapan Arnold membuat ku sedikit tenang, aku tau dia berusaha keras agar aku tidak gugup lagi. Saat ini aku dan Zean duduk di sofa berhadap-hadapan, masih dengan suasana canggung dan diam seribu bahasa.


"Raa, kamu masih marah?" tanya Zean tiba-tiba.


Aku hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan bodoh seperti itu.


"Aku minta maaf Raa, aku gak bermaksud untuk membohongi mu. Aku cuma gak ingin kamu punya pasangan yang cacat, itu akan menyusahkan mu dan membuat mu malu." jelas Zean.


"Apa kamu memang berniat untuk meninggalkan ku selamanya Zean?" tanya ku memberanikan diri.


"Saat itu aku hanya memikirkan yang terbaik untuk mu Raa, aku ingin kamu hidup bahagia tanpa beban." ucap Zean.


"Tanpa beban? Kau tau Zean berapa lama aku harus berdamai dengan hati ku untuk menerima kematian palsuku ini? Aku selalu berfikir kalau aku hidup di atas kematian orang lain, aku tersiksa Zean setiap mengingat hal itu." ucap ku kesal.


"Akupun tersiksa akan hal ini Raa, cuma hanya dengan cara seperti ini kamu akan berhenti untuk mencari ku. Dengan cara aku berpura-pura mati kamu akan lebih merelakan ku dan dapat melanjutkan hidup lagi." ucap Zean mencoba menjelaskan.


"Baiklah, jadi apa tujuan mu kesini sekarang?" tanya ku.


"Aku hanya minta maaf karena menyusahkan mu selama ini Raa." ucap Zean.


"Baiklah, aku akan memaafkan mu. Hanya itu kan? Setelah ini berpura-puralah kalau kau tidak melihat ku lagi. Dan terima kasih, karena kamu menghilang aku sedikit lebih mudah untuk melupakan mu" ucap ku.


"Maksud mu Raa? Tidak bisakah kita memperbaiki ini semua dan memulainya dari awal lagi?" tanya Zean.


"Apa kamu yakin dengan pertanyaan mu itu Zean? Kamu yang merusak hubungan ini dari awal, kamu lebih memilih pergi untuk menyelesaikan maslaah mu sendiri tanpa meminta ku untuk ikut campur. Kalau kamu merasa aku ini pasangan mu, tidak seperti ini Zean. Suami istri itu berjuang bersama-sama bukan sendiri-sendiri." ucap ku sambil meninggalkan Zean sendiri.


"Raa aku tau aku salah dan aku benar-benar minta maaf dengan ini semua." ucap Zean menahan ku.


"Aku sudah memaafkan mu Zean, tapi aku tidak bisa menerima mu lagi." ucap ku pergi.

__ADS_1


Zean terduduk dengan kepala tertunduk membisu, ya ini adalah hukuman baginya yang selalu membohongi perasaan istrinya.


__ADS_2