Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 152


__ADS_3

Aku melihat-lihat majalah perencanaan pernikahan yang akan kami laksanakan bulan depan. Sebelumnya kami sudah memberi tahu seluruh keluarga akan masalah Zean yang masih hidup. Memang ada sebagian ada yang marah kerena merasa di tipu mentah-mentah namun ada juga sebagian yang merasa bersyukur akan kehidupan Zean dan mendoakannya menjadi orang yang jauh lebih baik.


Sudah hampir sebulan aku pulang lebih dahulu di bandingkan Zean yang masih mengurus beberapa pekerjaannya di Paris, termasuk mengurus masalah pekerjaan ku juga. Aku memutuskan berhenti bekerja untuk mempersiapkan acara pernikahan kami di Indonesia. Karena hal ini kami pun jadi terpisah antara jarak dan waktu, namun aku berharap ini semua cepat berlalu. Tiba-tiba ada seseorang mendekati ku yang sedang asik melihat-lihat tataan pelaminan.


"Kamu menyukai yang mana?" tanya seorang wanita yang ternyata itu adalah Dita.


"Aku masih bingung, untuk akad nikah pastinya kita harus pakai pakaian kebaya kan?" tanya ku balik.


"Ya jika kamu mau memakai gaun pun tak apa, kamu lebih memilih pernikahan yang indoor atau outdoor?" tanya Dita memberikan pilihan.


"Sepetinya aku masih harus mendiskusikannya dengan Zean. Sebentar aku akan meneleponnya." ucap ku.


Aku mengambil ponsel ku dari tas dan menelepon Zean, beberapa kali aku hubungi namun belum ada jawaban dari dirinya. Aku mencobanya sekali lagi dan juga tidak ada jawaban darinya. Aku mematikan ponsel ku dan memasukannya lagi ke dalam tas.


"Sepertinya dia sudah tidur, aku sudah telepon berkali-kali namun tidak ada jawaban." ucap ku lemas.


"Sabar, kamu yang meminta pulang duluan untuk mengurus ini semua. Kenapa kamu tidak memilih sesuai apa yang kamu inginkan? Aku yakin Zean akan menerima semua apa yang kamu buat." ucap Dita.


Aku termenung memikirkan ucapan Dita dan melihat-lihat lagi majalah yang ada di depan ku. Padahal kalau di pikir-pikir ini hanyalah pernikahan kami ke dua yang akan di hadiri oleh keluarga dekat saja, mengapa aku harus pusing akan ini semua.


"Sepertinya aku akan membuat pernikahan yang sederhana saja, namun berkesan. Bagaimana menurut mu Taa?" tanya ku.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan ambil pernikahan outdoor yang bertemakan garden. Mengingat juga cuaca sekarang sepertinya bersahabat bagaimana?" tanya Dita balik.


"Baiklah aku setuju, bagaimana dengan undangannya? Apa kamu sudah menyelesaikannya?" tanya ku.


"Sebentar aku akan mengambilkannya, tadi ini sudah di kirim oleh percetakan dan sudah selesai sebagian. Aku juga sudah memilih beberapa undangan untuk keluarga besar." ucap Dita sambil memberikan setumpuk undangan kepada ku.


Aku melihat-lihat nama-nama yang tertulis di dalam undangan, mengecek semuanya agar tidak terjadi kesalahan. Saat akan mengeceknya aku memperhatikan Dita yang juga sibuk memilah-milah undangan dan memasukannya kedalam plastik. Aku tak menyangka jika dia juga bersedia menemani ku sampai saat ini. Aku tersenyum sendiri melihatnya dan tanpa sadar ia pun melihat ke arah ku.


"Ada apa? Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" tanya Dita takut.


"Tidak, aku hanya berfikir kenapa kamu sangat tahan berteman dengan manusia seperti ku." ucap ku sambil tertawa.


"Karena spesies seperti mu itu langka, sudah jangan membahas hal yang aneh-aneh. Ini sebagian harus ada yang kamu kirim ke Paris." ucap Dita.


"Aku sudah menyisihkannya, jadi apa kamu akan mengirim satu persatu undangan ini?" tanya Dita.


"Tidak, aku akan mengirimkannya ke alamat Zean. Dan biarkan dia yang membagikannya di sana." ucap Ku merapikan undangan.


"Baiklah, apa kamu sudah menyiapkan undangan untuk ku?" tanya Dita dengan wajah serius.


"Haah....? Owh bukankah kamu tidak perlu undangan? Seharusnya kamu yang mulai menyusun undangan, tapi karena masalah ku pernikahan kalian jadi di tunda." ucap ku memelas.

__ADS_1


"Aku hanya masih belum siap untuk memikul tanggung jawab sebagai menantu di keluarga Richard yang kaya raya. Aku benar-benar harus banyak membiasakan diri." ucap Dita sambil bersandar di sofa.


"Bukankah bagus jika kamu mendapatkan seseorang yang kaya raya? Kamu akan hidup mewah." ledek ku.


"Aku tidak terbiasa dengan kemewahan yang berlebih Raa, terlebih lagi kemarin ibu Richard mengirimi ku satu paket perhiasan yang membuat ku tidak bisa makan dan tidur selama tiga hari. Ibunya bilang itu hanya hadiah kecil untuk calon menantu." jelas Dita.


Aku tersenyum dengan ucapan Dita yang merasa sedikit tertekan akan kekayaan calon suaminya. Di sisi lain aku juga bersyukur Dita mendapatkan calon yang sangat mengerti dia.


"Apa kamu sudah mendiskusikannya ke Richard? Tidak ada salahnya kamu mengatakan keberatan akan hal itu ke Richard, aku yakin dia akan paham." usul ku.


"Aku sudah mengatakannya, dan dia bilang untuk yang saat ini di terima saja. Selanjutnya ia akan membahas semuanya terlebih dahulu sebelum memutuskan." ucap Dita.


"Lain kali aku akan membantu mu berbicara dengan Richard agar dia dapat mengerti kamu seutuhnya." usul ku.


"Iya, kamu juga harus memarahinya karena aku tidak bisa untuk menikah dengan acara yang terlalu mewah." ucap Dita tersenyum.


Aku tersenyum mendengar cerita sahabat ku itu, di sisi lain aku juga merasa bersalah akan tertundanya pernikahan mereka karena mengurus beberapa kasus ku dahulu. Aku kembali melihat-lihat majalah dan akan memutuskan yang mana yang akan aku pakai di acara pernikahan ku nantinya.


"Baiklah, aku akan ke kantor pos dan mengirim ini semua ke Zean. Agar setelah tiba di sana dia bisa langsung memberikan undangan ini kepada teman-teman ku." ucap ku sambil mengambil tas.


"Apa kamu ingin aku temani?" tanya Dita.

__ADS_1


"Tidak perlu, sebentar lagi Richard akan datang ke sini. Nikmati waktu kalian berdua setelah itu bantu aku menyelesaikan ini semua." ucap ku sambil tertawa dan pergi.


Aku pergi ke kantor pos menggunakan mobil ku, sebenarnya Zean Dangan menentang ku untuk berkendara seorang diri. Dia masih merasa trauma akan kecelakaan beberapa tahun yang lalu yang menimpa kami berdua. Dan tiba-tiba juga aku teringat akan sosok Melati, sudah berjalan tiga tahun masa hukumannya. Masih tersisa satu setengah tahun lagi, dan membuat ku sedikit takut. Bukan karena dia akan merebut Zean lagi namun takut kejadian dulu terulang lagi. Namun aku dan Zean sudah memutuskan untuk tidak di Indonesia untuk beberapa waktu karena pekerjaan Zean yang masih panjang di Paris. Jadi kami memutuskan untuk tinggal di sana setelah menikah dan berharap tidak akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan nantinya.


__ADS_2