Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 104


__ADS_3

"Kamu sudah mau berangkat mas?" tanya Adi kepada Zean


"Iya, aku sudah pesan taxi buat antar ke bandara" ucap Zean memastikan


"Mas kamu yakin melakukan ini semua ke mbak Tiara? Aku nggak tega loh mas, mbak Tiara itu sangat mencintai mas. Aku yakin dia akan terima kondisi mas sebenarnya" ucap Adi membujuk


"Sudahlah Dii, aku nggak mau berdebat dengan mu. Aku melakukan ini demi kebaikan dia" ucap Zean


Tak lama setelah berdebat, taxi yang di pesan Zean pun tiba. Adi membantu masnya untuk masuk ke dalam mobil dan meletakan ranselnya di bangku sebelah. Sedangkan kopernya sudah di masukan oleh supir taxi ke dalam bagasi.


"Aku berangkat, kamu jaga diri baik-baik. Dan juga jangan sampai ada yang tau keberadaan ku" ucap Zean

__ADS_1


"Setidaknya mas kasih tau ibu sama bapak mas, mereka orang tua kita. Aku takut kalau hasilnya akan buruk jika ku bilang mas meninggal" ucap Adi takut


"Lebih buruk lagi kalau kamu bilang aku masih ada, aku yakin Tiara pasti akan ke sini lagi. Dia orang yang tak mudah putus asa, jadi lebih baik merahasiakan semuanya" ucap Zean


"Ok, setidaknya mas kasih tau aku kemana tujuan mas pergi. Biar aku sedikit tenang mas" bujuk Adi


"Paris..." ucap Zean singkat


Aku duduk di depan meja rias ku, mengangkat kedua kakiku dan meletakan dagu di dengkul kaki. Dita membantu ku untuk mengeringkan rambut dan mengusirnya.


"Baiklah, ini sudah selesai. Kamu bisa keluar sekarang, jangan hanya mengurung diri di kamar" ucap Dita

__ADS_1


"Aku masih ingin sendiri Taa, aku akan di sini untuk beberapa saat. Kalau kamu bosan kamu bisa keluar" ucap ku memastikan


"Jangan bodoh Raa, kamu itu harus melanjutkan hidupmu" ucap Dita


"Ya aku tau itu, kalian sudah berulang kali mengatakan itu kepada ku. Tapi saat ini aku benar-benar ingin sendirian" ucap ku lagi


Dita pun pergi meninggalkan ku tanpa sepatah kata, mungkin dia sedikit kesal dengan sikap ku yang keras kepala. Tapi aku benar-benar ingin sendiri saat ini. Mata ku tertuju ke surat yang ada di atas meja rias ku, aku pun melihat surat itu. Surat itu belum terbuka sama sekali dan masih rapi. Ya... itu adalah surat titipan Zean yang di berikan oleh Adi kepada ku. aku belum sempat membukanya karena belum siap untuk menerima hal buruk terjadi. Aku pun memberanikan diri untuk membaca surat dari Zean itu.


" Hy Bii,,,,


Bagaimana keadaan mu sekarang? Aku rasa kamu sudah jauh lebih baik saat ini. Maaf aku memanggilmu seperti ini lagi. Tapi aku tidak terbiasa untuk memanggil mu Tiara ataupun Raa, aku lebih suka memanggil mj Bii. Aku tau Bii, saat ini kamu pasti marah kepada ku, kamu kecewa, kesal bahkan mungkin saat ini kamu menangis karena ku. Maafkan aku ya Bii, karena selalu membuat mu menangis. Bii.... kamu harus percaya, aku melakukan ini bukan karena aku merasa bersalah telah menduakan mu. Tapi aku melakukan ini karena aku benar-benar mencintai mu, jadi jangan menyalahkan diri sendiri lagi Bii. Kamu harus percaya bahwa aku sangat bersemangat untuk menjalani operasi, walau kamu tau aku takut untuk bertemu dengan jarum suntik. Tapi aku dapat melewatinya demi kamu Bii, semuanya demi kamu. Bii... jangan merasa kalau aku melakukan ini membuat mu sulit untuk menerimanya, atau bahkan kamu berfikir aku meninggalkan mu. Tidak Bii, aku sama sekali tak meninggalkan mu. Percayalah setiap detik kehidupan mu itu adalah nyawa ku, dan aku akan selalu melihat mu dari tempat yang berbeda. Dan yang harus kamu yakin Bii, aku akan selalu mencintai mu. Kamu harus bahagia Bii, jika kamu bersedih itu berarti aku melakukan kesalahan yang besar dan membuat ku sulit untuk memaafkan diri sendiri. Tertawalah Bii, kamu cantik saat tertawa lepas. Lanjutkan hidup mu sayang, jangan sia-siakan semua ini. Aku mencintai mu"

__ADS_1


__ADS_2