
Kriiiinnngggg.....
Alarm ku berbunyi kencang, dan aku pun mematikannya dengan malas aku bangkit dari kasur dan menuju kamar mandi. Tak sengaja aku menghidupkan air dingin yang membuat ku terkejut seketika.
"Aaahhhh..... Dinginnya." pekik ku menggigil.
Aku tersadar dan mulai mengatur kran air ku agar menjadi hangat, sudah sebulan lebih aku di sini tapi tetap saja aku melupakan keberadaan ku sekarang. Seperti biasa, setelah selesai mandi aku menyiapkan sarapan ku. Semakin kesini aku semakin dekat dengan Arnold, bukan sebagai pasangan. Kami hanya sebatas teman dan itu pure kami jalani seperti kehidupan lainnya. Sudah hampir jam 9 Pagi tapi aku tak melihat sosok Arnold yang biasanya numpang sarapan di tempat ku. Aku pun mengunjungi kamarnya, mungkin saja dia kesiangan.
Tok.... Tok.... Tok
Aku mengetuk pintu apartemen milik Arnold, namun tidak ada jawaban sama sekali. Aku mencoba meneleponnya namun tetap sama, dan aku mencoba mengetuk pintunya lagi agar dia sadar aku ada di luar saat ini.
"Arnoooolllddd..... ini udah siang. Kamu belum bangun apa?" tanya ku dari luar.
Tiba-tiba pintu di buka dan aku melihat sosok yang masih baru bangun tidur di hadapan ku.
"Kamu baru bangun? Ini udah jam 9 loh. Kamu gak kerja ya?" tanya ku.
"Tiara.... Sepertinya kamu anak yang rajin banget ya waktu sekolah dulu, sampai-sampai hari libur pun mau masuk kantor." ucap Arnold sambil menatap ku kesal.
Aku melihat ponsel ku dan ternyata memang hari ini adalah tanggal merah, aku pun tersenyum malu ke arahnya.
"Masuklah, aku akan buatin kamu sarapan" ucap Arnold sambil menarik tangan ku.
"Tapi aku sudah buat sarapan di rumah, sayang kalau gak di makan." ucap ku.
"Kamu bisa simpan untuk nanti, sekarang kamu sarapan di sini aja." ucapnya.
Jujur saja ini baru pertama kali aku masuk ke kamar Arnold walau pun kami sudah lumayan dekat. Aku sama sekali tak menyangka kalau rumahnya sangat rapi dan jauh dari kesan berantakan karena melihat sikap cueknya Arnold selama ini. Aku duduk di meja makan dan Arnold pergi ke kamarnya, mungkin dia mau mencuci mukanya dan mengganti pakaiannya.
Aku yang penasaran akan seluk beluk apartemen Arnold akhirnya beranjak dari kursi ku dan berjalan melihat-lihat seluruh sudut ruangan apartemen ini. Saat di ruang keluarga aku melihat foto dua anak laki-laki kisaran berusia 4-5tahun. Mungkin itu foto Arnold dengan saudaranya, fikir ku. Lumayan banyak foto itu terpajang di bufet ruangan tersebut. Saat asik melihat-lihat aku di kejutkan dengan kehadiran Arnold.
"Dia sahabat ku dari kecil, kami sudah seperti saudara kandung." ucap Arnold mengagetkan ku.
__ADS_1
"Owh ya, aku kira ini adik atau kakak mu. Dimana dia sekarang?" tanya ku penasaran.
"Ada, tapi kondisinya sekarang sudah jauh berubah di bandingkan dulu waktu kami masih kecil." ucap Arnold sedih.
"Kenapa? Apa dia sakit?" tanya ku serius.
"Iya, dia lumpuh. Dan itu membuat dia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk membuatnya bisa berjalan lagi." ucap Arnold.
"Ya Tuhan..... Jadi kondisinya sekarang bagaimana?" tanya ku lagi.
"Kondisinya belum berubah sama sekali, aku berharap kalau ada seseorang yang sangat mencintainya yang akan membantunya pulih lagi." ucap Arnold sambil meninggalkan ku di ruangan itu.
"Maksudnya? Apa hubungannya dia bisa berjalan dengan seseorang yang mencintai dia?" tanya ku sambil menghampiri Arnold dan duduk di meja makan.
"Karena kekuatan cinta." ucapnya.
"Apaan sih? Gak jelas banget."
"Kamu kesambet setan apaan sih? Pagi-pagi udah ngomongin cinta-cinta. Kelamaan jomblo ya." ledek ku.
"**** banget sih jadi orang, ya udah kamu tunggu di situ biar aku buatin makan." ucap Arnold kesal.
Aku hanya diam melihat dia yang tiba-tiba kesal tanpa aku membuat masalah. Sepertinya mood Arnold hari ini kurang baik, mungkin karena aku membanguninya tadi jadi dia kurang puas untuk menikmati tidur panjangnya.
"Sesudah makan nanti temani aku beli bunga ya." ucap Arnold sambil memberikan sarapan ku.
"Bunga...? Bunga buat apa? Buat siapa?" tanya ku.
"Kenapa harus banyak tanya sih? Udah nih habiskan makan mu, aku mandi setelah itu kita pergi." ucapnya.
"Tapi aku belum ganti baju, masa aku pakai bagu beginian." ucap ku polos.
"Habis makan kamu pulang terus siap-siap." ucapnya sambil pergi meninggalkan ku.
__ADS_1
"Dasar laki-laki aneh, tadi aku di suruh masuk sekarang aku di suruh pulang." gumam ku sambil makan.
Setelah selesai aku membersihkan piring dan meja, setelah semua bersih aku pulang ke kamar ku dan mengganti pakaian ku. Ini sudah akhir November, yang artinya sebentar lagi akan ada perayaan natal dan tahun baru. Aku pun harus meminta tolong Arnold untuk menemani ku berbelanja pakaian. Agar aku tidak mati beku di kota ini saat akan keluar. Dan ponsel ku pun berbunyi, ternyata itu pesan dari Arnold yang mengatakan kalau dia sudah di luar. Aku pun bergegas keluar dan pergi bersamanya.
_______________
Andre mengadakan pertemuannya dengan klien di luar jam kantor, mungkin karena akan memasuki musim libur natal jadi kliennya ingin mempercepat kerja sama mereka. Andre mendatangi sebuah cafe untuk membahas bisnisnya. Setelah selesai ia pun berniat ingin mengunjungi apartemen Tiara, melihat keadaan dan kondisi Tiara dari kejauhan. Saat tiba di sana Andre melihat Tiara memasuki sebuah mobil dan pergi, Andre yang penasaran mengikuti Tiara dan mobil itu dari belakang.
"Kamu mau kemana Raa? Kamu pergi sama siapa?" gumam Andre.
Mobil yang di naiki Tiara pun berhenti di sebuah toko bunga, Andre melihat seorang pria turun dari mobil itu menuju toko bunga. Setelah membeli bunga, pria itu memberikannya ke Tiara dan mereka pun melanjutkan perjalanan. Hati Andre merasa tidak tenang karena ia tidak mengetahui siap laki-laki itu terlebih lagi sudah hampir satu bulan ini dia tidak ada berkomunikasi dengan Tiara.
"Siapa laki-laki itu Raa..? Jangan bilang kalau kamu sudah dapat pengganti Zean dan melupakan aku begitu saja." gumam Andre kesal.
Andre terus mengikuti Tiara dan mobil itu, ia ingin memastikan siapa laki-laki itu. Tiba-tiba mereka berhenti ke sebuah pusat perbelanjaan, Andre pun mengikuti mereka dan turun dari mobil. Ternyata tujuan mereka pergi ke sebuah toko perhiasan, Andre pun melihat pria itu memakaikan sebuah cincin di tangan Tiara dan membelinya. Andre yang sudah hilang kesabaran menghampiri mereka yang sudah akan keluar dri toko. Dengan berpura-pura menelepon Andre melewati mereka, dan sontak saja membuat Tiara menyadarinya.
"Andre....." teriak Tiara spontan, karena melihat sosok yang sangat ia kenal.
Andre membalikkan badan dan melihat ke arah Tiara, berpura-pura terkejut dan tersenyum kearahnya.
"Kamu ngapain di sini...?" tanya Tiara tak percaya.
"Owh, aku ada perjalanan bisnis. Cuma beberapa hari aja kok, kebetulan ketemu kamu." ucap Andre.
"Kok kamu gak kasih tau aku kalau ada kerjaan di sini? Kan aku bisa jemput kamu di bandara." ucap Tiara.
"Kamu kan kerja Raa, kalau aku hubungin kamu nanti kamu ke ganggu jadinya." ucap Andre.
"Kita harus pergi Raa." ucap Arnold sambil memegang tangan Tiara.
"Owh, aku pergi dulu ya Ndre. Nanti aku hubungin kamu." ucap Tiara sambil berlalu.
Andre hanya terdiam melihat Tiara yang di tarik oleh laki-laki yang sama sekali dia tidak ketahui. Ia mengumpat di dalam hatinya karena kesal, bahkan ia tak dapat menahan Tiara saat ini.
__ADS_1