
Arnold duduk di bangku taman dan menengadahkan kepalanya ke arah langit. Dia tertawa, tertawa untuk diri sendiri akan kebodohannya.
"Ha ha ha, aku tau kau masih sangat mencintainya. Syukurlah kalau kau sadar dengan cepat." ucap Arnold sambil tertawa kecut.
Ia pun meninggalkan taman dan kembali ke rumahnya. Setiba di sana ternyata Paul sudah menunggunya dan duduk di ruang keluarga.
"Kau baru pulang? Sepertinya kau menikmati akting mu sebagai perebut istri orang." ucap Paul sambil tertawa.
"Ya, dan akhirnya wanita itu sadar dengan sendiri dan berlari ke mana seharusnya ia berada." ucap Arnold sambil menuang minuman.
"Secepat ini? Kau bahkan belum memulai pertunjukannya." ucap Paul.
"Ya, syukurlah ia cepat sadar. Kalau tidak aku akan sulit untuk melepaskan wanita itu dan keinginan untuk memilikinya semakin kuat." ucap Arnold.
"Baiklah, jadi kapan kau akan menjelaskannya ke Zean?" tanya Paul.
"Tidak ada yang harus di jelaskan, biarkan saja seperti ini. Mungkin ini akan jauh lebih baik di bandingkan aku mengatakan semuanya ke Zean." ucap Arnold.
"Aku hanya takut kesalahpahaman kalian akan berlanjut dan membuat jarak di antara kalian." ucap Paul memberi saran.
"Aku yakin tujuan Zean hanya Tiara, jika Tiara sudah berada di sisinya bagaimana mungkin ia bisa mengabaikan ku. Dia tidak sejahat itu." ucap Arnold membela.
"Ya semoga seperti itu, jadi apa kau berniat membuka hati dan mencari pasangan hidup?" tanya Paul lagi.
"Mungkin saat ini belum, aku terlalu trauma akan masalah percintaan mereka. Mungkin suatu saat." ucap Arnold.
"Dasar bodoh..." ejek Paul.
Mereka tertawa dan menghabiskan malam dengan minum bersama. Tanpa menghiraukan masalah apa yang akan terjadi di kedepannya nanti. Ia hanya yakin kalau ini akan jauh lebih baik, sudah saatnya mereka membenahi kehidupan rumah tangga mereka.
"Aahhh aku masih sedikit kesal akan perlakuan ku tadi. Apa yang akan di fikirkan Tiara terhadap ku yang ingin menciumnya tadi?" batin Arnold.
___________________
Malam ini Andre berjalan-jalan menikmati suasana, tiba-tiba ia berhenti di depan toko kue. Ia masuk ke dalam dan membeli beberapa kue. Setelah pelayan toko mengemasnya ia membayar dan pergi menuju apartemen Tiara.
__ADS_1
"Aku akan minta maaf ke Tiara dan mencoba menjelaskan semuanya." ucap Andre bersemangat.
Setiba di sana ternyata apartemen Tiara kosong, ia sudah mencoba beberapa kali mengetuk namun tidak ada jawaban dari dalam.
"Ahh mungkin dia pergi melihat perayaan natal, aku baru ingat malam ini ada perayaan di Eiffel." pikir Andre.
Ia pun pergi meninggalkan apartemen Tiara dan mengendarai mobilnya lagi, sesekali ia melihat kotak yang berisikan kue kesukaan Tiara. Ia memutar balik kemudinya dan menuju ke apartemen Lucy. Setiba di sana ia mengetuk pintu dan di buka oleh Lucy yang tak menyangka kedatangan Andre.
"Owh, tuan. Ada keperluan apa tuan kemari?" tanya Lucy.
"Boleh aku masuk?" tanya Andre.
"Owh maaf. Silahkan masuk tuan." ucap Lucy mempersilahkan.
Mereka masuk dan Andre duduk di sebuah sofa mungil. Apartemen milik Lucy tidak sebesar yang di miliki oleh Andre, ia sengaja memesan yang minimalis karena takut kalau Lucy merasa tak nyaman tinggal sendirian di tempat yang luas. Lucy membuatkan secangkir kopi panas dan meletakkannya di atas meja.
"Ini, makanlah. Aku melihatnya saat berjalan-jalan di kota." ucap Andre sambil memberikan kotak yang berisikan kue.
"Tuan ini semua sangat enak, kenapa anda membelinya sebanyak ini?" tanya Lucy tak percaya.
"Aku akan mengambil sendok. Tuan tunggu di sini ok." perintahnya.
Andre hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu yang benar-benar seperti anak-anak yang mendapatkan coklat kesukaannya. Tak menunggu lama Lucy kembali dengan sendok dan piring kecil di tangannya.
"Kenapa kau tidak langsung memakannya dengan tangan mu?" tanya Andre merasa aneh.
"Kue ini sepertinya sangat enak, jadi aku akan menikmatinya sedikit demi sedikit." ucap Lucy girang.
"Kalau kau suka aku akan membelikannya lagi. Makan lah, tidak usah menggunakan itu, lagian kue-kue ini cukup kecil untuk sekali hap." ucap Andre.
Lucy meletakan piringnya dan mengambil kue itu dengan tangan lentiknya. Ia mengikuti apa yang di katakan Andre, memakan kue itu dengan satu gigitan. Setelah kue masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba ia menangis dan membuat Andre terkejut.
"Kau.... Apa ada yang salah dengan kue itu? Apa kue itu tidak enak?" tanya Andre panik.
Lucy menggelengkan kepalanya dengan cepat dan memasukan lagi kue die dalam mulutnya. Andre yang melihat itu sedikit panik dan menghentikan tangan Lucy.
__ADS_1
"Hey kau akan tersedak jika makan seperti itu." ucap Andre.
"Tuan, ini pertama kalinya aku makan kue seenak ini. Ini pasti mahal kan, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan tuan. Aku bisa menikmati hidup yang layak dan memakan makanan enak." isaknya.
Andre terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Lucy, ia tak menyangka jika gadis kecil itu sangat menderita dan menerima semuanya di umur dia yang masih muda. Andre pun membelai kepala Lucy dengan lembut dan mencoba menenangkannya.
"Sudah, pelan-pelan makannya. Jika kau suka aku akan sering-sering membelinya untuk mu. Tapi berjanjilah, saat aku membelikannya lagi kau tidak boleh menangis ok." ucap Andre.
Lucy mengangguk cepat menyetujui ucapan Andre. Andre pun mengambil potongan lain dan memakannya, memang benar kue ini terasa enak dan manis. Wajar mereka membuat harga yang lumayan untuk sepotong kue. Namun melihat Lucy memakannya dengan lahap Andre merasa bersyukur akan hal itu.
"Nikmati malam mu, aku akan pulang." ucap Andre sambil berdiri.
"Apa tuan akan pergi secepat ini? Anda bahkan hanya makan sepotong kue." ucap Lucy.
"Aku akan datang lagi nanti, kau bisa menghubungiku jika menginginkannya lagi." ucap Andre.
"Baiklah, terima kasih banyak tuan." ucap Lucy sedikit sedih mengetahui Andre akan pulang.
Andre mendekat ke arah Lucy dan membuat Lucy memejamkan matanya. Lucy mengira kalau Andre akan menciumnya, namun ternyata Andre hanya membantunya membersihkan coklat yang menempel di pinggir bibirnya.
"Kau bukan anak kecil lagi, kenapa makan mu begitu berantakan." ucap Andre.
Lucy membuka matanya dan menutup kedua bibirnya. Ia merasa sangat malu karena berfikir kalau Andre akan menciumnya. Pipinya terasa hangat dan memerah karena malu, Lucy hanya menundukkan kepalanya.
"Aku pulang, jangan tidur terlalu larut." ucap Andre.
Lucy hanya mengangguk mengiyakan ucapan Andre dan menutup pintu setelah melihat Andre pergi.
"Aahhhh apa yang ku lakukan, aku berfikir jika dia akan mencium ku? Owh bodohnya.... bodohnya.... Bagaimana aku akan menghadapinya besok." teriak Lucy sambil menggigit bibir bawahnya.
Sedangkan Andre bergegas masuk ke dalam mobil dan setibanya di belakang kemudi ia meletakan tangannya seolah memeriksa detak jantungnya yang tidak normal.
"Owh man, jangan lagi. Kau harus bisa mengendalikan perasaan mu." gumam Andre sambil menghidupkan mobil dan melaju pergi.
Andre teringat kembali kejadian saat di apartemen Lucy, jantungnya benar-benar berdegup kencang melihat reaksi Lucy yang menutup matanya.
__ADS_1
"Apa jadinya jika aku benar-benar melakukannya, Anak itu kenapa terlalu mudah percaya kepada seorang pria yang baru ia kenal? Apa ia akan seperti itu juga jika bukan aku yang menolongnya selama ini? Ahhh kenapa aku jadi memikirkannya." gumam Andre sedikit kesal.