
Zean terdiam setelah menutup teleponnya, hatinya masih setengah tidak menyangka kalau dia akan meninggalkan Tiara. Ia duduk di pingir kasur Melati. Memandangi wajah Melati yang terluka karena cakaran kuku Dita.
“aku sudah bilang ke Tiara, aku nggak bisa ninggalin kamu” ucap Zean kepada Melati
“oh betulkah? Kamu nggak becandakan sayang?” ucap Melati tak percaya
“kapan sih aku bohong sama kamu? Aku ini bicara yang sejujurnya”
“aaaahh senangnya, jadi kapan kamu mau ceraiin Tiara?”
“nanti aku kasih tau kamu. Yang penting sekarang aku udah nepatin janji aku buat sama kamu”
“ok, tapi jangan kelamaan. Aku takut kamu malah berubah pikiran”
“nggak akan kamu selalu ada di hati aku sayang. Selamanya”
Zean pun memeluk Melati. namun hatinya masih merasa gundah, entah ia masih belum berdamai dengan hatinya yang masih menginginkan keutuhan rumah tangganya atau memulai lagi dari awal bersama Melati. wanita yang dari dulu ia cintai.
Hari pun semakin larut, Andre mengajak ku pulang. Sebenarnya bila aku di kota mau pulang pagi pun tak kan ada yang melarang. Namun karena di desa dan Andre yang segan dengan ayah terpaksa aku menurutinya. Kami menyisiri jalan desa di malam hari dengan santai.
__ADS_1
“Raa, kamu mau sampai kapan akan melarikan diri dari masalah ini?” tanya Andre
“entah lah Ndre, aku pun masih sulit untuk menghadapi kenyataan” ucapku
“semakin kamu menghindar maka akan semakin sakit yang kamu rasakan. Kamu harus memutuskan, bila mau kamu maafkan, kamu luakan semua kesalahannya. Kalau tidak mau sama sekali, yaa kamu tinggalkan dengan benar. Aku memberi mu nasehat biar kamu tidak tersiksa terlalu jauh Raa” jelas Andre
“aku masih sangat mencintainya Ndre, tapi hati ku terlalu sakit untuk kembali”
“berdamailah dengan hati mu Raa, kalau kamu masih menginginkannya, kamu harus mencoba untuk memperjuangkannya. Itu tidak kan salah. Karena dia suami mu.tak akan ada yang mengejek mu”
Apa yang di katakan Andre benar, aku terlalu gengsi untuk memperjuangkan hak ku. Aku terlalu memikirkan ego ku untuk di bujuk. Sampai-sampai aku yang tak bersalah malah menjadi seseorang pecundang.
“kamu itu pintar Raa, kamu pasti punya solusi terbaiknya. Setidaknya kamu sudah berani untuk menghadapinya” ucap Andre sambil melihatku dari kaca spion motornya
Aku pun tersenyum melihatnya. Entah siapa yang akan menjadi pendampingnya kelak, sosok laki-laki yang sabar dan juga mempunyai hati yang lembut. “beruntungnya wanita yang akan menjadi istri mu kelak” pikirku.
Kami pun telah sampai di rumah ku, nampak ayah dan mang sugeng duduk di teras depan. Sepertinya mereka mengobrolkan maslah kebun. Aku pun turun dari motor.
“aku langsug pulang ya, besok kamu brangkat ke kota siapa yang antar?” tanya Andre
__ADS_1
“ehhmm, bawa mobil sendiri mungkin, kamu nggak mampir dulu?”
“nggak usah, dah malem. Gak enak sama bapak. Kamu besok hati-hati”
“iya. Makasih ya Ndre, udah mau nasuhatin aku”
“iya sama-sama, udah kamu masuk. Udah malem, dingin. Salam sama bapak ya”
Aku mengangguk sambil tersenyum, Andre pun berlalu.
“lho nduk, kok sampean sendiri? Andre mana?” tanya ayah
“dia pamit pulang yah, dia nggak mampir. Udah malem katanya. Terus dapet salam juga ayah dari Andre” jawabku sambil duduk di sebelah ayah
“ooo iya iya. Anak itu memang nggak ada berubahnya ya nduk, baiknya itu loh”
“dia kan memang udah dasarnya baik” cengir ku
“... yah, besok Tiara ada rencana mau pulang ke kota. Tiara mau nyelesaikan maslah Tiara yah” sambung ku
__ADS_1
Ayah menatapku dan maraih tangan ku, tangan ayah yang kasar dan mulai keriput. Tangan yang selalu memperjuangkan aku dan ibu. Tangan yang menarik ku untuk bangkit.