
Hari ini malam natal, seperti yang di janjikan Arnold kepada ku ia akan mengajak ku ke menara Eiffel untuk melihat perayaan malam natal di sana. Aku masih menunggunya untuk menjemputmu, tak lama aku menunggu ia pun datang dan mengetuk pintu ku. Aku membukakan pintu dan melihatnya sudah berdiri di hadapan ku.
"Apa kamu sudah siap? Ayo kita berangkat." ajak Arnold.
"Iya, tunggu sebentar aku akan mengambil tas." ucap ku masuk.
Aku mengambil tas ku dan menutup pintu apartemen ku, kami pun bersiap untuk berangkat.
"Nanti malam akan lebih dingin dan turun salju, gunakan syal mu dengan benar." ucap Arnold sambil membetulkan syal ku di leher.
Aku hanya diam menuruti tanpa protes akan perlakuan Arnold kepada ku. Ia menggenggam tangan ku dan kaki berjalan menuju mobil. Dari apartemen ke menara Eiffel membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama, kami pun sudah tiba di sana dan memilih duduk di bangku-bangku taman yang sudah di sediakan. Ternyata memang banyak orang malam ini ada di sini, sepertinya mereka sangat antusias untuk menyambut perayaan natal.
"Waaaahhhhh di sini sangat cantik." ucap ku kagum.
"Kenapa kita gak duduk di dalam cafe aja sih Raa? Di sana kan lebih hangat di bandingkan di sini." ucap Arnold.
"Kau tau, ini kali pertama aku mengunjungi Eiffel dalam perayaan seperti ini dan melihat keramaian di sini. Selama ini aku ke sini hanya di siang hari, jadi aku sangat menantikan hari ini." ucap ku antusias.
"Cepatlah nikmati pemandangan mu, hari akan semakin dingin. Lebih baik kita mencari tempat yang hangat." ucap Arnold.
"Tidak bisakah kita menghabiskan waktu malam ini di sini, aku mau lihat lampu-lampu menyala di menara nanti jam 12 malam." rengek ku.
"Baiklah.... Baiklah, kamu tunggu di sini. Aku akan mencari makanan dan minuman hangat." ucap Arnold
Aku mengangguk menyetujui ucapan Arnold yang sudah berdiri dari bangku. Ia pun pergi meninggalkan ku seorang diri dan menunggunya di sini. Pemandangan Eiffel pada malam hari benar-benar sangat indah, dan aku lupa akan dinginnya malam ini. Tak berapa lama Arnold datang membawa beberapa makanan dan minuman hangat.
"Ini makanlah sebelum dingin." ucap Arnold memberikan makanan.
"Bakpau....? Kamu dapat ini dari mana?" tanya ku sedikit tertawa.
"Di sana ada jual itu juga ada burger dan coklat hangat." ucapnya.
__ADS_1
"Apa aku makan sebanyak itu? Kamu beli seolah-olah aku belum makan seminggu." ucap ku.
"Sudah makanlah lagian aku juga sudah lapar." ucap Arnold membuka bakpaunya dan melahapnya.
Aku tertawa mendengar ucapan Arnold karena memang saat ini sudah lewat jam makan malam. Kami menikmati makanan di bawah naungan langit yang menurunkan bulir-bulir salju yang dingin namun lembut. Selesai makan aku di ajak Arnold untuk berkeliling berjalan santai menyusuri taman. Memang malam ini sangat ramai dan waktu pun berlalu sangat cepat. Waktu yang aku tunggu sudah tiba, lampu-lampu di menara Eiffel sudah hidup dan sangat cantik.
"Waaaaa cantiknya. Kamu lihat itu Arnold ini benar-benar cantik." ucap ku takjub.
"Aku sudah sering melihatnya, itu biasa saja." ucap Arnold.
Tak lama ada beberapa petasan kembang api yang ikut mempercantik sisi menara Eiffel.
"Lihat itu.... Lihat itu, waahhhh malam ini sangat meriah." ucap ku sambil menarik-narik lengan baju Arnold.
"Ya karena besok natal malam ini semua sangat berantusias untuk menyambutnya. Apa kamu menyukainya?" tanya Arnold.
"Ya ya ya aku sangat menyukainya." ucap ku semangat sambil menatap ke arahnya.
Tiba-tiba pandangan kami bertemu, Arnold mendekatkan wajahnya ke arah ku. Jantung ku berdebar sangat kencang dan aku tau kalau dia akan mencium ku, aku memejamkan mata. Namun saat aku memejamkan mataku terlintas di benak ku wajah Zean dan kenangan kami selama ini. Secara spontan aku mendorong Arnold dan membuka mata ku.
"Raa, kamu mau kemana? Biar aku antar kamu." ucapnya.
"Maaf, aku bisa pergi sendiri." ucap ku tanpa menoleh ke arahnya.
Aku bergegas menaiki taksi yang ke berhentikan, dengan perasaan bersalah aku menuju apartemennya Zean.
"Ya, ini salah. Aku harus mendengarkannya dan memperbaiki ini semua, aku salah." gumam ku di dalam taksi.
Aku merasa tak sabar untuk cepat bertemu dengan Zean. Setiba di sana aku berlari menuju kamar Zean dan mengetuk pintunya. Setelah menunggu beberapa waktu aku menunggu di depan sambil mengatur nafas ku pintu pun terbuka. Zean berdiri di hadapan ku dan menatap ku seolah tak percaya.
"Raa, kamu ngapain malam-malam ke sini?" tanya Zean terkejut.
__ADS_1
"Aku... aku... Aku minta maaf Zean." ucap ku sambil terengah-engah.
"Raa...."
Zean menarik ku dalam pelukannya, aku menangis karena menyesali keegoisan ku selama ini. Zean mendekatkan wajahnya ke arah ku dan aku dengan perasaan rindu menyambut kecupan hangatnya.
Aku bersyukur karena dapat bersama dengan Zean lagi dan berjanji tidak akan melepaskannya dengan mudah lagi.
"Aku akan berjanji melewati semua masalah bersama mu mulai saat ini dan seterusnya Raa." ucap Zean yang masih memeluk ku dengan erat.
"Zean, aku gak bisa bernafas." ucap ku sambil menepuk pundaknya.
"Maaf Raa, aku sangat bahagia malam ini." ucapnya.
"Apa aku tidak boleh masuk ke dalam rumah mu?" tanya ku.
"Ha ha ha aku lupa, ayo masuk aku akan buatkan coklat panas untuk mu." ucapnya.
Aku pun masuk dan duduk di sofa menunggu Zean membuatkan coklat panas untuk ku. Tak menunggu lama dia datang dengan gelas dan sepiring makanan di tangan lainnya.
"Apa kamu berlari ke sini tadi? Kaki mu lecet." ucap Zean sambil melihat kaki ku.
"Owh itu tadi karena aku ingin cepat-cepat bertemu dengan mu, jadi tersandung di tangga luar." ucap ku.
"Ini pasti sakit, tunggu aku di sini. Aku akan mengambil kotak obat untuk mengobati luka mu." ucap Zean pergi meninggalkan ku lagi.
Aku hanya tersenyum melihat perlakuan Zean terhadap ku, ia masih sama seperti dulu. Masih sangat memperhatikan ku dengan sangat detail. Zean pun kembali membawa obat dan mengangkat kaki ku ke pangkuannya. Dengan perlahan ia mengobati luka ku yang tak kurasakan perih karena rasa bahagia ku melebihi rasa sakit itu. Aku senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan Zean yang mengobati ku.
"Apa kamu sangat menyukai luka di kaki mu ini Raa?" tanya Zean tiba-tiba membuyarkan lamunan ku.
"Hah...? Owh, aku hanya memperhatikan mu mengobati kaki ku. Sepertinya kamu sekarang lebih ahli dalam hal mengobati orang." ucap ku gengsi.
__ADS_1
"Aku harus menjaga diri ku sendiri di sini, karena itu aku belajar dengan sangat cepat. Sudah ku plester, jangan sampai kena air dulu biar kering." ucap Zean sambil menurunkan kaki ku perlahan.
Aku hanya tersenyum melihat perlakuan Zean terhadap ku, dan berharap ini tidak akan segera berakhir.