
"Kamu tau Bii, aku sangat bahagia sekarang. Aku benar-benar bersyukur dapat kembali kepada mu Bii, terima kasih sudah mau menerima ku lagi dengan semua kesalahan ku." ucap Zean sambil menatap ku.
"Aku hanya mencoba mempertahankan apa yang aku punya, dan juga mencoba menyadari dimana letak kesalahan ku juga Zean." ucap ku lirih.
"Baiklah, mulai sekarang mari kita melangkah bersama. Kamu tau aku akan menjadikanmu wanita yang berharga Bii." ucap Zean.
"Aku akan memegang janji mu itu, baiklah kita harus melempar ini. Jika tidak mereka akan ribut dan terus berdiri di belakang kita." ucap ku sambil menunjukan buket bunga pernikahan.
Zean tertawa mendengar ucapan ku dan ikut memegang buket bunga yang ada di tangan ku. Pandangan kami menyatu dan Zean pun mendekatkan wajahnya, kami melempar buket bunga ke belakang sambil menautkan ciuman mesra antara satu sama lain.
"Walau bagaimanapun, aku sama sekali tidak menyesali apa yang aku perjuangkan. Karena aku yakin aku memperjuangkan orang yang benar. Mungkin dia pernah salah, biarlah itu menjadi sebuah pelajaran bagi kami. Setidaknya aku sudah menunjukan perjuangan ku mempertahankan semuanya dan itu nyata di hadapannya. Perjuangkan orang yang mau di perjuangkan, jika kau menyerah mungkin akhirnya akan jauh lebih buruk. Dari Zean aku belajar bahwa tidak semua yang kamu inginkan itu bisa berjalan mulus, tidak semua yang ada di genggaman mu dapat di pegang dan tidak semua apa yang kamu miliki itu sempurna. Selama kamu dapat memahaminya dan mencobanya kembali itu bukanlah suatu kesalahan. Tidak ada manusia yang tidak gagal, pasti ada kegagalan dalam hidup ini. Tergantung bagaimana cara menghadapinya. Aku sudah bangkit Zean, dan aku tidak menyesal untuk mencobanya lagi bersama mu." Batin Tiara sambil mengecup mesra bibir suaminya.
Sedangkan di belakang mereka sudah riuh akan perebutan buket bunga yang sudah terjadi. Di antara mereka sangat antusias untuk mendapatkan buket bunga pernikahan yang di lempar Tiara, namun ada juga yang hanya ikut meramaikan saja. Aku dan Zean melepaskan kecupan mesra kami dan melihat kebelakang, melihat siapa yang mendapatkan lemparan bunga dari ku. Mata kami terbelalak melihat Naya yang mendapatkannya.
"Naya berikan itu pada ku." ucap Dita .
"Ini punya ku, aku sudah susah-susah mendapatkannya." ucap Naya mempertahankan.
"Yang akan menikah selanjutnya kan aku dengan Richard, jadi kamu tidak memerlukan bunga itu." ucap Dita meminta.
"Siapa bilang, bisa jadi pernikahan ku lebih dulu di bandingkan dengan pernikahan kalian." ucap Naya berlalu.
Dita yang mendengar ucapan Naya merasa sedikit kesal dan menatap Richard yang ada di sampingnya.
"Aku akan membelikan mu bunga yang lebih besar dari itu nanti ok." ucap Richard menghibur.
"Sudahlah, kau tidak akan mengerti sama sekali." ucap Dita berlalu meninggalkan Richard.
Kami tertawa melihat Richard yang di tinggalkan oleh adiknya dan pacarnya sendirian. Aku dan Zean pun menghampirinya untuk menghiburnya.
__ADS_1
"Sudahlah, itu akan sering terjadi jika kamu sudah menikah nanti." ucap Zean.
"Mereka awalnya sangat dekat dan saling berbagi, hanya karena bunga ini aku di salahkan. Kau lihat tadi mereka meninggalkan ku begitu saja di sini." ucap Richard kesal.
"Mereka akan berbaikan lagi, dan juga kamu kenapa tidak berusaha untuk menangkapnya. Tinggi mu jauh beda dengan Naya, tapi kenapa kamu tidak menangkapnya lebih dulu?" tanya ku sambil tertawa.
"Ahh, kamu tau Raa. Mereka memegang kedua tangan ku dan melompat secara bersamaan. Bagaimana aku akan menangkapnya?" ucap Richard.
Kami tertawa mendengar ucapan Richard dan mencoba menghiburnya. Tiba-tiba pandangan ku teralihkan ke Andre yang ada di sana. Aku melihatnya yang lagi menatap wajah Lucy, dan berbicara berdua. Mereka tertawa bersama dengan cerita mereka sendiri.
"Syukurlah, kamu sudah baik-baik saja sekarang. Dengan begini aku tidak akan merasa sangat bersalah lagi. Tuhan itu adil, dia akan memberikan kita pasangan yang sempurna untuk melengkapi kekurangan kita." batin ku sambil tersenyum melihat Andre dan Lucy dari kejauhan.
"Owh, aku akan mencari Arnold. Kalian berbincang dan selesaikan masalah barusan ok." ucap ku tersenyum.
Zean mendekati wajahnya ke telinga ku tiba-tiba sambil menarik lengan ku dan membuat ku ikut mendekat.
"Jangan terlalu lama jauh dari radar ku ok, aku akan mencari mu jika kamu terlalu lama." bisik Zean.
"Ah.... Itu dia, Arnold." pekik ku.
Aku mendekati Arnold yang duduk di sebuah bangku dengan santai. Aku duduk di sampingnya dan membuatnya terkejut.
"Ahh, sepertinya kamu benar-benar menikmati pesta ini." ucap ku tersenyum.
"Di sini hangat, aku menyukai cuaca di sini." ucap Arnold sambil menengadahkan kepalanya ke atas langit.
"Apa kamu berniat akan pindah ke Indonesia?" tanya ku.
"Hmm, itu belum terpikirkan oleh ku. Aku masih belum terbiasa dengan kehidupan di sini." ucap Arnold.
__ADS_1
"Ayo ikut dengan ku, kau tidak boleh sendirian di saat aku mengadakan pesta." ucap ku sambil berdiri dan menarik tangan Arnold.
Namun Arnold malah menarik kembali tangan ku dan membuat ku hampir terjatuh ke bqdannya yang masih duduk di bangku. Mata kami bertemu satu sama lain dan membuat ku canggung.
"Arnold berhenti bermain-main. Aku tidak ingin orang salah paham ." ucap ku berdiri dan merapikan poni ku.
"Aku hanya mencoba menggoda mu, baiklah kemana kita akan pergi?" ucap Arnold sambil tertawa.
Aku hanya diam dan melepaskan tangan ku dari genggamannya. Jujur wajah ku benar-benar memerah saat dia menggoda ku seperti tadi. Bukan karena aku menyukainya, namun aku benar-benar takut jika sempat Zean melihat dan menjadi salah paham ini akan menjadi awal yang rumit bagi ku lagi.
Aku melihat Dita yang masih membujuk Naya untuk dapat memberikan buket bunga tadi kepada nya. Aku memberi isyarat kepada Arnold untuk berjalan duluan bertemu Zean dan Richard. Arnold mengangguk dan meninggalkan ku yang masih menatap Dita dan Lucy.
"Sudahlah, bukankah itu hanya sebuah bunga?" tanya ku.
"Aku hanya tidak ingin gagal kali ini." ucap Dita.
"Tapi aku sudah berusaha untuk mendapatkannya kak." ucap Naya yang mencoba mempertahankannya.
"Bukankah kalian akan mencari sepasang adik kakak nantinya? Apa hanya karena bunga ini kalian akan bertengkar?" tanya ku serius.
Mereka masih diam dan enggan untuk saling menatap.
"Baiklah, aku akan berbicara pada Richard jika kalian tidak bisa berbaikan. Dengan begitu pernikahan kalian batal dan kamu juga tidak akan menjadi adik ipar Dita." ucap ku sambil menunjuk Naya.
"Ya jangan dong kak, kak Richard itu udah cinta banget sama kak Dita. Dan juga kak Dita kan bisa di beliin sama dia bunga yang lebih besar." ucap Naya memelas.
"Taa, berhentilah berebut hal yang seperti itu. Aku akan memberi ku buket bunga yang lebih besar lagi." bujuk ku.
"Baiklah, karena Naya masih mengharapkan aku menjadi kakak iparnya Aku akan merelakannya." ucap Dita sambil memeluk Naya.
__ADS_1
Aku tertawa melihat tingkah laku mereka dan bergabung untuk memeluk mereka.