
Aku merasa bosan karena kesendirian ku, setelah kejadian beberapa bulan ini membuat ku penat dan sedikit frustasi aku berniat untuk mencari pekerjaan yang baru. Agar aku dapat mengisi waktu luang ku. Toh dulu alasan ku untuk berhenti kerja karena ingin punya anak, tapi apa daya jangankan anak untuk menyentuh suami ku pun aku tak bisa. Aku membuka leptop ku, namun tiba-tiba ada telepon masuk dari ponsel ku. Saat ku lihat di layar, alangkah kagetnya aku ternyata yang menelepon adalah pak Edo. Ya dia adalah notaris kami, ada keperluan apa dia meneleponku tiba-tiba?
"hallo pak Edo, ada kabar apa pak? Tumben telepon" tanya ku langsung
"owh, selamat siang bu Tiara. Maaf saya mengganggu waktunya bu, saya mau mengkonfirmasikan kalau surat-suratnya akan saya selesaikan. Tapi saya butuh sedikit tanda tangan ibu, kalau boleh tau posisi ibu dimana? Biar bisa langsung saya temui" ucap pak Edo
Aku pun bingung dengan omongan pak Edo. Padahal aku sama sekali tak ada mengurus apa-apa kepada beliau.
__ADS_1
"eehhm maaf pak, kalau saya boleh tau surat-surat buat apa ya pak? Saya nggak ngerasa beli apa-apa deh" ucap ku bingung
"lah masak ibu nggak tau, kan pak Zean yang minta saya untuk mengubah semua surat rumah dan tanah itu jadi atas nama ibu. Pak Zean sendiri yang bilang ke saya" ucap pak Edo
"Zean mau ganti nama rumah sama tanah? Maaf ya pak Edo, sebelumnya saya sama sekali nggak tau soal itu. Jadi untuk sementara saya akan konfirmasi atau rundingkan dulu sama Zean, nanti saya akan hubungi bapak lagi" ucap ku kaget
Aku pun langsung menutup leptop ku yang belum sempat ku hidupkan tadi. Aku tak menyangka jika Zean benar-benar serius dengan ucapannya. Aku mencoba menghubunginya berkali-kali namun dia tak mengangkat teleponnya. Lalu aku berinisiatif untuk pulang ke rumah dan mengecek secara langsung.
__ADS_1
Setiba di rumah, aku langsung masuk dengan kunci yang masih ku bawa-bawa selama ini. Tanpa pikir panjang aku mencari Zean di seluruh sudut rumah namun aku tak menemukan dia, aku mencoba ke kamar kami dulu. Saat membuka pintu kamar itu, aku pun tak menemukan Zean di sana. Kamar itu kosong, bahkan sedikit berantakan. Mungkin karena Zean masih membereskan barang-barangnya. Tiba-tiba mata ku tertuju pada suatu dinding yang penuh dengan foto kami dulu. Ada satu dinding khusus untuk menempelkan foto-foto mesra kami. Aku melihatnya dan merabanya, masih teringat jelas di kepala ku semua moment yang kami lewati bersama. Dan tiba-tiba bulir-bulir air mata ku jatuh membasahi pipi ku, membuat dada ku sedikit sesak. Aku pun terduduk di lantai dan bersandar di pinggiran kasur smbil menatap foto-foto itu.
"ya tuhan, apa yang sudah aku lakukan? kebencian ku malah menutup hati nurani ku untuk mempertahankan rumah tangga kami"
Aku pun menangis sekuat-kuatnya, menangisi semua masalah yang menghampiri keluarga kami. Menyesali keegoisan ku yang menutup hati untuk memperbaiki semuanya. Dan tiba-tiba aku teringat ucapan ayah "setiap orang pasti buat kesalahan nduk, tapi setiap orang juga berhak mendapatkan maaf dan kesempatan keduanya". Aku bangkit mengingat ucapan ayah, aku mengakui bahwa aku masih mencintai Zean. Bahkan sampai saat ini aku masih ingin memperjuangkan apa yang harusnya aku miliki. Aku pun menelepon ayah, dan akan memastikan semua baik-baik saja.
"hallo assalamualaikum yah, Tiara udah ngerti dengan ucapan ayah. Tiara akan mencobanya lagi yah, sekali lagi. Kali ini Tiara nggak akan takut lagi yah, karena Tiara memperjuangkan cita Tiara sendiri" ucap ku yakin
__ADS_1