
"Tiara memiliki senyum yang indah, bukan begitu pak Richard?" Tanya Andre tiba-tiba
"Owh, iya. Dari wajahnya pun nampak sosok wanita yang baik. Owh panggil Richard saja, karena anda teman Tiara jadi saya juga ingin menjadi teman anda" ucap Richard
"Iya, baiklah. Mari bergabung bersama mereka. Aku takut, kalau kita terlalu lama mereka akan meneriaki kita" ajak Andre
Mereka pun bergabung dengan Tiara dan yang lainnya. Mereka menikmati weekend hari ini, tanpa beban dan tanpa memikirkan apa pun.
Zean menemani Melati berbelanja, tapi fikirannya tidak fokus di sana. Ia sangat memikirkan Tiara saat ini, bagaimana mungkin Tiara menolaknya untuk bergabung dengan teman-temannya.
"Kamu lagi mikirin apaan sih? Kok muka mu dari tadi kusut banget?" Tanya Melati tiba-tiba
"Owh, kemarin ada sedikit masalah di kantor, jadi aku kebawa pikiran" jawab Zean beralasan
"Hmm, aku udah siap beli baju gimana kalau kita makan siang? Aku lapar"
"Ok, ayo kita makan. Kamu mau makan apa?"
"Terserahlah, aku udah lapar banget soalnya" rengek Melati
Zean tersenyum melihat rengekan Melati, ia pun menarik tangannya dan membawanya menuju restoran. Tanpa sadar Zean membawa Melati ke restoran yang biasa ia dan Tiara datangi.
"Kok kita makan di sini?" Tanya Melati bingung
"Owh iya, tiba-tiba aku pengen makan di sini. Jadi aku bawa kamu makan ke sini. Di sini makanannya enak-enak kok" jawab Zean
"Ok. Kamu yang pesan ya" ucap Melati
Zean memesan beberapa makanan dan minuman, dan ia pun memesan makanan yang bisa ia makan dengan Tiara pula. Ia pun merasa aneh pada dirinya, entah kenapa hari ini fikiranya tertuju ke Tiara.
"Sayang, Senin nanti kamu jadi kan ke pengadilan agama?" Tanya Melati
"Owh kemarin aku udah buat janji, Senin depan bisa ketemu sama orangnya" ucap Zean beralasan.
__ADS_1
Entah mengapa ia saat ini ingin mengundur perceraiannya dengan Tiara. Rasanya ia masih berat untuk melepaskan Tiara. Dan masih belum enggan untuk berpisah darinya.
Kami menghabiskan makanan yang kami buat, sangat puas rasanya menikmati akhir pekan seperti ini. Menyenangkan dan membuat semua fikiran ku yang kusut menjadi lebih baik.
"Kak Tiara, kenapa suami kakak nggak di ajak?" Tanya Naya tiba-tiba
Richard terkejut mendengar pertanyaan adiknya itu. Ia tak menyangka kalau Tiara sudah berumah tangga. Karena sangat tak nampak pada dirinya.
"Suami?.... Kamu udah menikah?" Tanya Richard
"Iya, aku udah menikah. Tapi nggak tau sampai kapan akan bertahan. Ada permasalahan yang membuat kami memutuskan untuk jauh terlebih dahulu. Makanya dia nggak bisa ikut" ucap ku menjelaskan
"Owh maaf ya kak. Aku nggak maksud ngerusak mood kakak" ucap Naya
"Nggak kok Nay, aku malah berterima kasih banget sama kamu. Karena mau ngundang aku ke acara seperti ini. Aku emang lagi butuh hiburan" ucap ku sambil tersenyum
"Kamu memang harus lebih memikirkan diri mu" sela Dita
Kami pun tertawa bersama mendengar ucapan Andre. Tiba-tiba ponsel Andre berbunyi, dan ia bergegas mengangkatnya. Tak lama ia menerima telepon tersebut, ia pun menghampiri kami lagi dengan muka serius.
"Hmm, aku minta maaf ya. Aku mau pamit pulang duluan. Ada masalah di kantor, jadi aku harus ke sana secepatnya" ucap Andre tegang
"Owh, iya iya... Kamu baik-baik aja kan?" Tanya ku
"Aku baik. Maaf banget ya aku duluan, dan Naya terima kasih sudah ajak aku hari ini" ucap Andre
"Aman kak.... Hati-hati ya kak" ucap Naya
"Iya, terima kasih. Richard Senin kita jumpa di kantor ok"
Richard mengangguk mengiyakan perkataan Andre. Andre pun pergi meninggalkan kami. Aku pun melihat jam, dan ternyata sudah sore.
"Wow, sudah sore banget ya ternyata" ucap ku
__ADS_1
"Jam berapa sih? Ya ampun, setengah enam? Aku mau antar pesanan bude ku. Gimana dong Raa, aku nggak sempat kalau antar kamu pulang dulu" teriak Dita panik
"Owh nggak apa-apa, aku pulang naik taksi aja. Kamu buruan sana" ucap ku
"Maaf banget ya Raa, aku benar-benar lupa"
"Iya... Iya... Kamu hati-hati jangan ngebut"
Dita pun lari meninggalkan kami. Karena sudah sore aku pun berpamitan kepada Naya dan Richard untuk pulang.
"Kalau gitu, aku pamit pulang juga ya Nay" ucap ku
"Owh iya kak. Kakak pulang biar Naya antar ya" Naya menawari
"Nggak usah, aku bisa naik taksi aja. Nggak apa-apa" ucap ku
"Udah kakak tunggu ya, Naya ambil kunci mobil" Naya berlari masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa kunci di tangannya.
"Ayok kak, Naya antar" ajaknya
"Kamu bisa bawa mobil Nay?" Tanya ku ragu
"Bisa kak, tapi hari ini yang nyupir bukan Naya tapi kakak Naya" ucap Naya sambil melempar kunci ke Richard
Richard yang terkejut dengan cepat menangkap lemparan dari Naya. Ia nggak menyangka akan di jadikan supir oleh adiknya sendiri.
Richard dan Naya akhirnya yang mengantar ku pulang. Setiba di rumah, Richard pun turun dan mengantarku sampai ke pagar depan rumah ku.
"Kamu nggak seharusnya ngantar aku sampe pagar gini loh" ucap ku
"Iya kalau nggak aku turutin kemauannya Naya, nanti aku mau tinggal di mana?" Candanya
Aku pun tertawa mendengar ucapan Richard, selain tampan dan baik ia juga mempunyai sisi humoris. Richard pun berpamitan kepada ku dan pergi. Aku melambaikan tangan ku sambil tersenyum ke arah mobil mereka. Sangat nampak dari sikap Richard yang menyayangi adiknya. "Mungkin ia juga akan sangat menyayangi istrinya kelak" fikir ku yang terdiam di depan pagar rumah.
__ADS_1