
Tiara sudah mencoba berapa kali menghubungi Andre namun tak ada jawaban darinya. Tiara sedikit cemas, apa mungkin dia terlalu berlebihan menyikapi sikap Andre yang khawatir terhadapnya. Namun di sisi lain Tiara sedikit kecewa karena sahabatnya telah bersekongkol di belakangnya dan itu membuat Tiara kurang mempercayai mereka lagi.
"Ahh.... Sudahlah, besok akan ku selesaikan masalah ini." gumam ku sambil membaca alamat apartemen Andre yang ku minta pada Dita barusan.
Andre mengantar wanita yang di temuinya tadi ke sebuah penginapan. Ia pun membelikan beberapa pakaian dan makanan untuk wanita itu.
"Terima kasih Tuan, saya bisa minta nomor rekening Tuan? kalau saya sudah bekerja nanti uang Tuan akan saya kembalikan." ucap wanita itu.
"Kau gantilah baju terlebih dahulu, sesudah itu temani aku di sini." ucap Andre.
Wanita itu menuruti apa yang di katakan Andre, tapi di lain sisi dia sedikit takut. Dia mengira akan di perlakukan tidak baik oleh Andre. Namun karena Andre sudah menolongnya, ia pun menuruti ucapan Andre dan bergegas kembali ke lobby.
"Maaf Tuan kalau saya lama." sapa wanita itu mengejutkan Andre.
"Duduklah, dan makan ini. Aku sudah belikan ini untuk mu, setelah ini kita ke rumah sakit." ucap Andre.
Wanita itu hanya diam membisu, bingung akan maksud ucapan dari Andre.
"Aku membawa mu ke rumah sakit untuk mengobati luka di sekujur tubuh mu itu." tunjuk Andre.
"Maaf Tuan tidak perlu melakukan hal itu, saya sudah terbiasa. Dan nanti juga akan sembuh sendiri." ucapnya.
"Sudahlah, duduk dan makan itu." perintah Andre.
Wanita itu menuruti ucapan Andre dan makan. Sesekali Andre melirik wanita yang sedang makan di hadapannya, wanita muda yang cukup manis. Tapi kenapa dia berada di tempat seperti itu dan di pukuli? Ahhh entah lah, fikiran Andre kembali mengingat perlakuan Tiara terhadapnya. Dan itu membuatnya terpukul kuat, Andre melihat ponselnya dan ternyata banyak panggilan tak terjawab dari Tiara.
"Kenapa kamu mencari ku kalau tadi kamu mengusir ku? Apa kamu sangat suka mempermainkan hati orang yang benar-benar tulus?" Batin Andre sambil memasukan kembali ponselnya.
Ia kembali melihat wanita yang ada di depannya, wanita itu makan sangat lahap. Mungkin dia memang lapar saat ini, atau sudah beberapa hari ia tak bertemu dengan makanan. Melihat kondisi tubuhnya yang sedikit kurus, mungkin ia kekurangan asupan makanan.
__ADS_1
"Hey, apa kau menikmati makanan mu?" tanya Andre.
"Iya Tuan, terima kasih banyak atas bantuannya." ucapnya dan melanjutkan makannya.
"Kenapa kamu berada di sana? Sepertinya kamu masih sangat muda? Gunakan masa muda mu sebaik mungkin." ucap Andre.
Wanita itu hanya diam dan melanjutkan makannya, ia sedikit takut untuk menceritakan semuanya ke pada orang yang baru saja ia kenali. Setelah selesai makan, ia kembali duduk dengan kepala menunduk dan memainkan jarinya.
"Apakah orang tua mu tidak tau kalau kau keluar malam ini? Aku bisa menjelaskannya kepada mereka, dan menjamin mu tidak akan di marahi. Anak muda seperti mu aku tau pasti akan melakukan kesalahan, selama kau berjanji kepada orang tua mu tidak akan mengulanginya lagi aku yakin mereka akan memaafkan mu." ucap Andre panjang lebar.
Namun wanita itu tetap diam dan menunduk, tiba-tiba air menetes di celah pelupuk matanya dan semakin deras. Andre yang melihat itu sedikit panik,
"mungkinkah ada kesalahan dari dirinya berucap? " fikir Andre gugup.
"Ok, aku minta maaf kalau kata-kata ku menyinggung perasaan mu. Aku hanya khawatir karena kamu masih terlihat sangat muda dan ..... Ahhh sudah lah." ucap Andre kehabisan kata-kata.
"Tidak apa-apa Tuan, saya tidak marah atau pun tersinggung dengan ucapan Tuan. Hanya saja saya benar-benar takut untuk pulang, ibu saya sudah meninggal. Sedangkan di rumah hanya ada ayah saya yang sangat gila judi, saya di Pub tadi karena di jual oleh ayah saya untuk melunasi hutang judinya." ucap wanita itu sambil menangis.
"Baiklah kalau begitu, ayo aku antar kamu periksa ke rumah sakit. Memar di tubuh mu terlalu banyak." ucap Andre sambil melangkah meninggalkan lobby.
Wanita itu mengikuti Andre dari belakang dengan kepala tertunduk. Mereka pun pergi menuju rumah sakit terdekat, karena mengingat hari sudah malam. Setibanya di rumah sakit Andre menemani wanita yang belum ia ketahui namanya itu berobat, ia menemaninya seakan-akan wanita itu adalah kekasihnya. Setelah selesai Andre pun mengantarkan wanita itu kembali ke apartemennya.
"Terima kasih atas bantuan dan kebaikan Tuan hari ini. Saya akan mengingatnya." ucap wanita itu turun dari mobil Andre.
"Hey... Ini, pakai ini untuk mencari apartemen yang murah. Kamu bisa tinggal di sana dan melanjutkan hidup mu kalau kamu takut untuk kembali ke rumah mu. Atau pindah ke kota lain agar ayah mu tidak dapat menemui mu lagi." ucap Andre sambil memberikan sebuah kartu ATM.
"Tidak usah Tuan, saya akan mencari pekerjaan besok dan saya juga akan mencari rumah sendiri. Tuan sudah terlalu baik kepada saya." tolak wanita itu.
Andre turun dari mobilnya dan menarik tangan wanita itu, ia meletakan ATM itu ke tangan wanita itu dan menutup jarinya.
__ADS_1
"Ambil ini, ini tidak banyak. Fikirkan kondisi mu saat ini, PINnya ada di belakang kartu itu." ucap Andre memaksa.
Wanita itu terdiam melihat ke wajah Andre dengan mata berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika yang di temuinya adalah seorang malaikat tak bersayap. Andre pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan wanita itu di depan penginapan.
_____________________
Zean mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Adi, ada suatu hal yang ingin ia bahas bersama adiknya itu.
"Hy mas, haruskah menelepon jam segini?" tanya Adi yang masih mengantuk.
"Maaf, ada suatu hal yang ingin aku bahas. Dan ini menyangkut dengan Tiara." ucap Zean.
"Bukannya mas sudah menyerah dengan hubungan kalian? Mas sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan mbak Tiara." ucap Adi sambil menyandarkan punggungnya.
"Ya... tapi ternyata aku masih belum bisa melepaskannya. Aku akan kembali setelah terapi ku selesai dan mengatakan semuanya ke Tiara." ucap Zean.
"Udah telat mas, lagian kalau pun mas pulang juga gak bakalan ketemu sama mbak Tiara lagi." ucap Adi sedikit kesal dengan tingkah saudaranya.
"Why....? Aku tau kalau aku salah, tapi aku akan berusaha jelasin semuanya ke Tiara." ucap Zean yakin.
"Mbak Tiara itu sekarang sudah gak di kota ini lagi. Dia sudah pergi ke luar negeri, terakhir kali dia ke sini dua bulan yang lalu. Itupun pamitan sama ibu dan bapak buat keluar negeri." jelas Adi.
"Tiara keluar negeri? Kamu tau dia kemana?" tanya Zean terkejut.
"Ya enggak tau lah mas, masa aku tanya-tanya dia kemana. Nanti malah di bilang banyak tanya." ucap Adi.
"Iya masa kamu gak tau sama sekali dia pergi kemana? Dari teman-temannya kan kamu bisa tanya-tanya." ucap Zean kesal.
"Iya itu pun mbak Tiara ke sini sama Dita dan ada cowok satu kebule-bulean gitu yang aku gak tau siapa namanya. Yang jelas kalau mas mau tau, mas cari sendirilah. Jujur aku capek mas buat ikutin cara berfikir mas yang plin plan. Aku mau tidur, bye." ucap Adi kesal.
__ADS_1
Adi mematikan ponselnya dan melemparkannya ke bagian kasur yang lain. Hatinya sedikit kesal melihat tingkah laku Zean yang semena-mena terhadap perasaan orang.
"Cinta kok di bikin ribet sih? Ribet kalau gak nyusahin orang gak apa, ini sampe-sampe aku bohong sama satu keluarga tau gak." omel Adi kesal dan menarik selimutnya untuk melanjutkan tidur.