Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 148


__ADS_3

Andre mengantar Lucy pulang ke rumah. Setiba di apartemen Lucy membuka pintu kamarnya, ia berbalik menghadap ke arah Andre yang ada di belakangnya.


"Tuan mau masuk dulu?" tanya Lucy.


"Haruskah aku mengingatkan mu tentang panggilan itu?" tanya Andre mendekatkan wajahnya ke arah Lucy yang tingginya hanya sebahu Andre.


Lucy wanita yang cukup manis dan bertubuh mungil. Matanya yang besar dan bibir tipis menunjang wajah manisnya.


"Aku masih belum memastikan untuk memanggil anda dengan sebutan apa. Dan aku sudah terbiasa dengan panggilan itu." ucap Lucy menjelaskan.


"Panggil aku mas..." ucap Andre.


"Mas....? Aku gak suka dengan sebutan itu." ucap Lucy cemberut.


"Mas itu panggilan dari kamu untuk aku, itu sama seperti panggilan ke kakak laki-laki di daerah ku." jelas Andre.


"Hmm baiklah aku akan panggil anda dengan sebutan itu. Tapi apa tidak akan aneh menurut orang-orang nanti kalau aku memanggil anda seperti itu" tanya Lucy bingung.


"Mungkin orang akan merasa aneh, tapi itu lebih baik bukan? Jadi hanya kamu sendiri yang memanggilku dengan sebutan itu. Dan aku akan sangat mudah mengenali mu." ucap Andre.


"Baiklah, tapi aku masih merasa canggung dengan panggilan itu. Jadi kalau aku memanggil anda dengan sebutan mas, anda akan memanggil ku dengan sebutan apa?" tanya Lucy penasaran.


"Aku akan memanggil mu dik." ucap Andre santai.


Lucy menatap Andre dengan pandangan penuh tanya. Dan Andre yang melihatnya mengerti akan ekspresi dari wajah Lucy tersebut.


"Dik itu panggilan dari daerah ku, sama dengan adik." jelas Andre.


"Aku gak suka...." rengek Lucy.


"Hmm baiklah, kamu pikirkan malam ini dan besok kita bahas lagi ok." ucap Andre.


"Baiklah, aku akan memikirkannya malam ini." ucap Lucy.


"Kalau begitu masuklah dan istirahat. Aku akan pulang, kalau sudah sampai aku akan menghubungi mu." ucap Andre membelai kepala Lucy dengan lembut.


Lucy mengangguk sambil tersenyum manis, hatinya sangat bahagia dengan perlakuan Andre tersebut kepadanya.

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati di jalan ya mas." ucap Lucy malu-malu.


Andre terdiam dan menatap Lucy dengan perasaan senang.


"Bisakah kamu mengucapkannya sekali lagi?" pinta Andre.


Lucy menggelengkan kepalanya dengan kuat, nampak di raut wajahnya ia menahan malu yang teramat sangat. Namun itu malah membuatnya semakin menggemaskan dan Andre menjadi semakin suka mengganggunya.


"Aku akan pulang setelah kamu mengatakannya sekali lagi." ucap Andre.


"Aku benar-benar malu sekarang." ucap Lucy menutup mukanya yang memerah.


"Hmm padahal aku sangat mengharapkannya." ucap Andre menunjukan wajah kecewanya.


"Baiklah, hati-hati di jalan ya mas." ucap Lucy memberanikan diri.


Mendengar ucapan Lucy tersebut Andre merasa senang, tiba-tiba Andre melayangkan kecupan ke dahi Lucy dan membuatnya terkejut. Namun belum sempat Lucy mengucapkan kata-katanya Andre pergi meninggalkan Lucy yang masih mematung.


Lucy masuk ke dalam apartemennya sambil memegangi dahi bekas kecupan dari Andre tadi. Ia masih belum menyangka jika hal itu terjadi kepadanya. Ia pun membanting tubuhnya ke atas kasur dan menatap langit-langit apartemennya itu.


Lucy berguling-guling bahagia bagaikan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat. Dia berharap kalau Andre benar-benar akan menerima dan mencintainya. Di sisi lain Andre sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap akan pulang ke apartemennya. Ia masing mengingat apa yang barusan ia lakukan.


"Tenangkan fikiran mu Ndre, dia adalah anak yang mencintaimu dengan tulus. Jangan sampai kau hanya menjadikannya sebagai pelampiasan semata karena penolakan Tiara. Kau harus bisa memulai yang baru, walaupun itu sulit." Batin Andre.


_________________


Hari sudah semakin larut, kantuk pun sudah menggelayut di pelupuk mata Tiara. Zean yang melihat itu pun merasa sudah saatnya dia pulang.


"Tidurlah, aku akan pulang." ucap Zean


"Apa kamu gak berniat menginap di sini?" tanya Tiara mengantuk.


"Aku akan pulang, kamu beristirahatlah. Jangan lupa kunci pintu ok." ucap Zean.


"Kenapa kamu gak menginap di sini?" ucap Tiara kecewa.


"Aku akan tinggal bersama mu nanti, saat ini aku masih belum bisa sayang. Aku janji setelah pekerjaan ku selesai kita akan bersama ok." bujuk Zean.

__ADS_1


"Apakah akhir tahun kau masih menerima banyak pekerjaan? Aku bisa membantu mu menyelesaikannya." ucap Tiara bersemangat.


"Biar aku yang mengerjakannya. Karena aku sudah janji kepada mu aku akan mempercepat pengerjaannya ok." ucap Zean.


"Baiklah, apa kamu sudah menelepon Paul untuk menjemput mu?" tanya Tiara.


"Aku akan naik taksi, hari sudah larut dan juga ini sudah lewat jam kerjanya." jelas Zean.


"Apakah tidak berbahaya jika kamu pulang sendirian seperti ini?" tanya Tiara khawatir.


"Aku akan menghubungi mu jika sudah sampai di rumah." ucap Zean membujuk Tiara.


"Baiklah jika kau bersikeras akan pulang." ucap Tiara dengan wajah cemberut.


"Hey Bii, aku janji kita akan bersama-sama lagi selamanya setelah pekerjaan ku selesai ok." janji Zean.


Tiara hanya menggunakan kepalanya dengan wajah yang masih cemberut. Sean hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan yang di buat oleh Tiara. Sudah lama ia tak melihat Tiara bermanja kepadanya dan jujur saat ini Zean sangat senang melihat tingkah Tiara seperti ini. Tiara mengantar Zean sampai ke depan pintu, walau dengan berat hati ia merelakan kepergian Zean dan menghormati keputusan kekasihnya itu.


"Masuklah, jangan lupa untuk mengunci pintu dan arus penghangat ruangan ok." pesan Zean.


"Baiklah, kamu harus hubungi aku jika sudah sampai di rumah ok." ucap Tiara.


"Siap boss..." ucap Zean sambil hormat.


Zean mengecup mesra kening Tiara sebelum pulang, ia juga mengusap kepala wanitanya itu dengan lembut. Zean pun berjalan meninggalkan apartemen milik Tiara dan pulang. Di bawah ia sudah memesan taksi dan menaikinya langsung setiba taksi itu di depan halte.


"Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan ku dan merencanakan sebuah kejutan untuk Tiara. Aku akan membuatkan sesuatu yang romantis untuknya." batin Zean sambil melihat foto Tiara di ponselnya.


Tiara menutup pintunya dan membereskan meja yang di penuhi dengan Pizza yang masih tersisa sangat banyak. Ia menaruhnya ke dalam kulkas dan mencuci gelas-gelas bekas latte yang ia buatkan untuk Zean dan dirinya sendiri tadi.


"Ahh aku benar-benar kecewa dengan penolakan Zean barusan." gumam Tiara sambil masuk ke dalam kamarnya.


Tiara duduk di kasurnya dan menatap ke arah kaca sambil memegang mukanya dan membelainya.


"Apa aku sudah tidak cantik lagi ya di pandangan Zean? Atau jangan-jangan aku sudah semakin tua." gumam Tiara sambil mendekatkan wajahnya ke kaca.


"Besok aku akan pergi ke treatment wajah, aku harus memeriksa semuanya. Sudah lama aku tidak merawat diri." ucap Tiara sedikit khawatir jika Zean tidak meliriknya lagi.

__ADS_1


__ADS_2