
"Makanlah sesuatu untuk tubuh mu nduk" ucap ayah menegur ku
"Tiara kenyang yah, Tiara nggak nafsu makan" ucap ku sambil mengaduk-aduk nasi di piring ku
"Ya nggak bisa gitu, nafsu enggak nafsu ya kamu harus makan. Jangan menyiksa badan mu sendiri" ucap ayah
"Nanti kalau lapar Tiara makan kok yah..." ucap ku
Saat kami sedang berbincang-bincang ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar.
"Assalamualaikum...." teriak dari luar
Anggi pun membukakan pintu rumah yang ternyata Andre datang ke rumah ku. Ia datang membawa bingkisan yang aku tak tau apa isinya.
"Waalaikumsalam, ayo sini makan sama-sama" ajak ayah
"Waah lagi makan besar ya pak, boleh saya ikut bergabung?" tanya Andre
"Tumben kamu jam segini udah keluar kantor? kamu bolos ya?" tanya ku
"Aku hari ini nggak ke kantor, ada urusan lain di luar. Tolong ambilkan itu..." ucap Andre sambil menunjuk ke arah ikan goreng
__ADS_1
Aku pun mengambilkannya satu dan meletakannya ke piring Andre, setelah itu ia pun menyuap nasi masuk ke mulutnya dan melahap makanannya.
"Hmm, jadi ini kamu bawa apaan? Kok nggak di buka? Buat siapa?" tanya ku penasaran
"Owh itu seblak, sama martabak telur buat bapak" ucap Andre santai
"Waahh, kok repot-repot bawa makanan sih nak Andre?" tanya Ayah
"Enggak repot kok pak, tadi beli sekalian di jalan ke sini" ucap Andre menjelaskan
"Terus? Kamu cuma beliin buat ayah aja? Buat aku gak ada?" tanya ku kesal
"Tapi bukannya kamu nggak nafsu makan ya? Sayang dong kalau aku udah beli tapi gak di makan. Kan mubazir jadinya" ucap Andre
"Ya sudah, kalau kamu mau ya makan saja. Enggak usah berantem kayak anak kecil toh, lagian jugakan barusan kamu bilang kenyang dan gak nafsu makan" ucap ayah melerai
"Ayah kok belain dia sih? Anak ayah tu Tiara loh, bukan Andre. Lagian gak mau ah, orang yang dikasih buat ayah kok. Nanti kalau Raa makan yang ada malah sakit perut, karena yang ngasih enggak ikhlas" omel ku sambil melirik Andre
Andre hanya tertawa melihat aku yang mengoceh sedari dia datang tadi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, seakan-akan mengejek ku saat ini.
"Udah itu kamu makan, nanti punya bapak kita beli lagi" ucap Andre sambil minum
__ADS_1
"Gak mau, orang kamu enggak ikhlas kok. Buat apa?" ucap ku judes
"Iya makanya nanti kita beli lagi, biar yang ini kamu makan. Nanti aku beliin lagi buat bapak" ucap Andre menjelaskan
Aku menarik bungkusan itu dengan muka yang masih masam. Aku berusaha sok jual mahal karena itu, dan meminta Anggi ambilkan mangkuk.
"Mbak Anggi, ambilin Raa mangkuk sama piring dong" ucap ku
"Owh iya mbak, ini mangkuk sama piring nya. Mau sekalian di tuangin gak mbak?" tanya Anggi
"Enggak usah, biar Raa tuang sendiri aja" ucap ku sambil membuka bungkus seblak
"Hati-hati panas loh Mbak Tiara. Nanti kena tangannya" ucap Anggi sambil berlalu
Aku hanya menganggukan kepala mendengar ucapan Anggi, dan tangan ku masih berusaha membuka bungkus plastik yang terlalu kuat ikatannya.
"Sini biar aku yang buka" ucap Andre sambil mengambil seblak ku
"Gak usah, biar aku aja. Lagian enggak usah sok baik deh" ucap ku yang masih merajuk
"Udah nih, buka ini aja gak bisa. Pake acara ngambek segala, padahal butuh" ledek Andre
__ADS_1
"Gak tau ah..." ucap ku malu dan meninggalkan meja makan sambil membawa mangkuk seblak ku ke ruangan keluarga
Melihat tingkah ku seperti itu, ayah dan Andre mentertawaiku. Mereka meledek ku habis-habisan, sedangkan aku merasa malu.