Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
Menerima


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,....


Setelah berpikir cukup lama, Mikaila akhirnya memutuskan untuk menerima kerjasama itu. karena dirinya juga tidak memiliki pilihan lain. jika harus dibandingkan dengan menerima permintaan dari sang ibu, Mikaila lebih memilih menerima tawaran dari laki-laki itu.


Karena dengan memilih penawaran dari laki-laki itu, setidaknya membuat Mikaila merasa sedikit bebas dari aturan kedua orang tuanya terutama sang ibu.


"baiklah kalau begitu. aku akan menerima penawaran dari laki-laki itu."setelah mengatakan hal itu, Mikaila mencoba untuk menghirup udara sebanyak mungkin. sebelum akhirnya, menghembuskannya secara perlahan.


Tut Tut Tut


Terdengar sambungan telepon dari seberang sana. membuat Mikaila, merasa sedikit berdebar. karena ini kali pertama, dirinya akan mengatakan sesuatu hal yang penting pada seorang laki-laki. karena sebelum-sebelumnya, wanita itu belum pernah mengatakan hal sepenting itu pada seorang laki-laki.


"halo iya mikaila ada apa?"tanya seseorang laki-laki dari seberang sana yang tak lain adalah Arthur.


"O..Om tahu dari mana kalau aku yang menelepon?"tiba-tiba saja sebuah pertanyaan tidak penting dan tidak masuk akal terucap begitu saja dari bibir Mikaila. membuat wanita itu sendiri seketika merutuki kebodohannya.


"his Kau ini kenapa sih Mikaila, jelaslah dia mengetahui namamu. kalian kan sudah bertukar nomor telepon. dasar bodoh!"maki wanita itu pada dirinya sendiri.


"eh salah Om maaf. bukan apa-apa lupakan saja."ucap wanita itu Seraya menggigit bibir bawahnya karena merasa konyol dengan tindakannya sendiri.


"ada apa?"tanya Arthur sekali lagi. membuat Mikaila yang mendengar itu, merasakan hati yang campur aduk.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Om. apakah kita bisa bertemu?"tanya Mikaila Seraya menggenggam tangan bonekanya dengan sangat erat karena merasa sedikit grogi.


"baik kalau begitu, kita bertemu di tempat biasa."ucapkan dari seberang sana. membuat Mikaila refleks menganggukkan kepala.


huftt


Setelah panggilan itu terputus, Mikaila menghirup udara dengan sangat rakus. dan setelah itu menghembuskannya secara perlahan.


"memang lebih baik aku menerima tawarannya saja. sepertinya tidak akan menjadi masalah jika aku menjadi istrinya."ucap Mikaila dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Setelah mengatakannya, wanita cantik itu memutuskan untuk bersiap-siap karena sebentar lagi dirinya ingin menemui seseorang yang bekerja di restorannya.


Tanpa disadari oleh Mikaila, bahwa ucapannya itu membuat seseorang menjadi salah paham.


"berarti dia menerima perjodohan ini?"tanya seseorang wanita yang tak lain adalah Ruri ibunda dari Mikaila. saat wanita paruh baya itu ingin menuju ke belakang rumahnya, tidak sengaja wanita paruh baya itu mendengar suara seseorang yang sedang berbincang-bincang.


Dan dengan sengaja, Ruri menempelkan telinganya didaun pintu. dan betapa terkejutnya wanita paruh baya itu, saat mendengar putrinya, ingin menerima lamaran. tentu saja hal itu membuat Ruri merasa sangat bahagia.


"ternyata dia diam-diam juga menyukai Fandy."gumamnya Seraya tersenyum simpul."sebaiknya aku segera hubungi mereka dan mengatakan hal ini agar mereka bersiap-siap."setelah mengatakan hal itu, Ruri segera berlalu dari sana dengan hati yang sangat berbunga-bunga.


"kamu kenapa?"tanya Winarto saat melihat istrinya tengah tersenyum seorang diri.


"eh Papa. Mama sedang senang saja. karena ternyata, Mikaila itu menerima perjodohan ini."ucapnya dengan tersenyum lebar.


Membuat Winarto yang mendengar itu, merasa sangat terkejut. Namun demikian, laki-laki paruh baya itu hanya terdiam dengan raut wajah datar.


****


"semoga apa yang aku ambil ini memang benar-benar jalan darimu Ya Tuhan."gumam laki-laki itu Seraya memejamkan mata.


Tak berselang lama dari itu, terdengar suara pesan masuk dari ponselnya. dan dengan segera, Arthur membacanya dengan suara sedikit keras.


"aku juga menerima."ucapnya dengan senyuman yang terpatri di wajah tampannya itu.


Dan tanpa diketahui oleh laki-laki itu, seseorang tengah menguping tepat di depan pintu kamarnya.


"Yes dia menerimanya."gumam Claudia Seraya bersorak kegirangan. bahkan wanita paruh baya itu melompat-lompat karena saking semangatnya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Claudia segera menyingkir saat mendengar suara pintu yang dibuka dari dalam. jangan sampai, putranya itu melihat dirinya menguping seperti itu. karena pastinya, Claudia akan mendapatkan sindiran dari putranya sendiri.


Karena memang Arthur sangat tidak suka jika seseorang menguping pembicaraannya. walaupun laki-laki itu sendiri terkadang juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"aku harus segera menghubungi keluarga dari Citra. mereka semua pasti merasa sangat terkejut dengan apa yang aku akan sampaikan ini."ucap Claudia dengan senyuman yang sangat manis.


***


"bagaimana apa keputusanmu?"tanya Arthur. saat laki-laki itu, telah berhadapan dengan Mikaila.


"aku menerima perjanjian ini. tapi dengan satu syarat."jawab Mikaila Seraya menyodorkan selembar kertas berwarna putih dan juga sebuah materai di sana.


Arthur dengan segera menerima dan membaca perjanjian itu. setelah selesai, laki-laki itu kembali menyerahkan lembaran kertas itu pada Mikaila.


"baiklah aku terima usulanmu ini. di mana aku harus tanda tangan?"tanya Arthur pada Mikaila.


Dengan segera wanita itu menunjukkan dan menuntun laki-laki yang akan menjadi suaminya itu untuk menandatangani.


"baik. setelah ini, apa yang kita lakukan?'tanya Arthur menatap ke arah wanita itu.


"dua hari lagi, aku akan membawamu menemui kedua orang tuaku. kita harus mengatakan semuanya."jawab Mikaila dengan senyuman.


Arthur yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala."baiklah kalau begitu aku juga akan melakukan hal yang sama. kalau begitu, aku kembali dulu."setelah mengatakan hal itu, Arthur segera pergi meninggalkan tempat itu.


hufft


Mikaila menghembuskan nafasnya kasar setelah kepergian dari laki-laki itu. kemudian dengan segera, wanita itu merokok saku celananya untuk menghubungi teman-temannya.


"apakah kalian bisa datang kemari? aku butuh teman untuk curhat."ucap Mikaila saat panggilan itu telah tersambung kepada teman-temannya.


"oke kita akan datang ke sana 15 menit lagi."ucap Hana dari seberang sana.


"oke kalau begitu aku tunggu."setelah mengatakan hal itu, Mikaila segera menutup panggilan telepon itu.


"apakah yang aku lakukan ini benar ?"tanya mikhaila pada dirinya sendiri. sebenarnya wanita itu, masih merasa sedikit ragu dengan apa yang ia lakukan ini. Namun sepertinya, Wanita itu sudah tidak memiliki pilihan lain.

__ADS_1


Karena sang ibu, sudah mulai mendesak agar dirinya mau menerima perjodohan dengan Fandy. tentu saja hal itu sangat membuat Mikaila tertekan. dan pada akhirnya, wanita itu memutuskan untuk menerima perjanjiannya bersama dengan Arthur dengan berbagai syarat yang ia ajukan sendiri.


__ADS_2