
Sementara itu di dalam kamar, terlihat Debby tengah tertawa terbahak bahak. hingga beberapa kali, wanita itu sampai memegangi perutnya. karena sudah tak kuasa menahan tawanya.
"hey! kau ini kenapa?!" teriakan dari seseorang itu, membuat aktivitas tawa dari sepupu suaminya itu.
"eh, kamu sudah bangun?"tanya Debby dengan tersenyum kikuk. Mikaila yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis.
"kamu kenapa?"tanya Mikaila dengan raut wajah bingung saat melihat tingkah laku dari sepupu suaminya itu.
"oh. emm. tidak apa-apa hanya tadi aku melihat ada orang yang bertingkah aneh sehingga aku tertawa."ucapnya tersenyum lebar.
brakkk
brakk
Mikaila dan juga Debby seketika kembali terfokus arah pintu kamar yang terasa diduga dari arah depan.
"siapa itu?"pertanyaan konyol seketika meluncur bebas dari dalam mulut Mikaila. membuat Debby yang mendengar itu, seketika melipat kedua bibirnya ke bawah menahan tawa.
Astaga! lucu sekali wanita yang ada di hadapannya saat ini. bisa-bisanya istri dari sepupunya itu, menanyakan hal yang jelas-jelas sudah ada jawabannya.
Benar-benar menggemaskan.
"ini Mas sayang!"sahut Arthur dari luar kamarnya. membuat kedua mata dari Mikaila, seketika melebar dengan sempurna. tanpa pikir panjang lagi wanita yang tengah hamil 6 bulan itu, bergegas membuka pintu dengan secepat yang ia bisa.
sementara Debby sendiri, sedang mencari ancang-ancang untuk bergegas keluar dari kamar sepupunya itu sebelum terkena amukan dari laki-laki mengerikan seperti Arthur.
"lari!!"ucap wanita itu dengan berlari sekuat tenaga seperti seseorang yang baru saja melihat penampakan di dalam kamar itu.
"awas aja ya Kau dasar wanita yang menyebalkan!"teriak Arthur mengeram tertahan.
Sementara Mikaila sendiri, menatap tingkah laku dari sepupu dan juga suaminya itu dengan tatapan yang penuh dengan keheranan. Sesekali wanita yang tengah hamil 6 bulan itu menatap mereka secara bergantian. walaupun salah satu diantaranya sudah lari terbirit-birit entah ke mana.
__ADS_1
"kalian itu kenapa sih?"tanya Mikaila Seraya memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut akibat merasa pusing dengan tingkah laku kedua orang itu.
"tidak apa-apa lebih baik, kita segera menuju ke meja makan. karena pasti semua orang sudah berada di sana."ajak Arthur pada istrinya itu dengan menggandeng wanita itu dengan posesif.
Sesampainya di ruang makan, kedua orang itu segera disambut oleh semua orang yang sudah berada di sana termasuk juga Debby. membuat Arthur yang baru saja meredakan emosinya, seketika tersulut kembali saat melihat keberadaan wanita itu.
"dasar wanita aneh!"umpatnya dengan tatapan yang sangat tajam yang ditujukan kepada sepupunya itu.
"dasar laki-laki lemah! bisa-bisanya tertipu hanya dengan trik murahan seperti itu!"ejek Debby tak kalah tajamnya. hingga membuat pertarungan sengit itu tak terelakkan lagi.
Sementara Oma Juwita dan juga yang lain hanya menatap bingung ke arah dua manusia yang tengah bertengkar itu.
"sudah cukup lebih baik kita sarapan saja!" lerai Mikaila dengan suara yang sedikit di naikan dari biasanya. membuat pandangan mereka seketika teralihkan pada wanita yang tengah hamil itu. tak terkecuali, Debby dan juga Arthur sendiri.
"lagian kalian ini kenapa, sih? kalau bertemu tidak pernah akur?"tanya Oma Juwita Seraya memutar bola mata malas menatap ke arah kedua cucunya itu.
"dia yang mulai duluan!"tunjuk Arthur pada sepupunya itu.
"sudah sudah lebih baik kita makan saja!" intrupsi Bahrun mengakhiri semuanya. karena jika dibiarkan terus-menerus, tidak menutup kemungkinan mereka akan terus beradu mulut sampai kiamat datang.
"lagi pula kalian ini sudah besar kenapa masih bertengkar saja? malu sama anak dan juga keponakan kalian yang sebentar lagi akan lahir." sahut Claudia menambahi.
Membuat keduanya seketika mendengus kesal. namun mereka berdua masih tetap melanjutkan aktivitas sarapannya hingga semuanya habis tak tersisa.
"apakah kau mau jalan-jalan Mikaila?"tiba-tiba saja Debby bertanya seperti itu. membuat semua orang yang ada di sana, seketika menatap ke arah wanita itu.
"tidak usah aneh-aneh. ingat dia itu sedang terancam." sahut Arthur dengan nada suara yang begitu ketus.
Membuat Debby yang mendengarnya, membuang nafasnya kasar. "Ya udah kalau nggak mau. padahal jalan-jalan itu adalah step yang paling penting untuk membuat otak dan juga hati seorang ibu hamil bahagia. dan itu akan berpengaruh pada perkembangan calon anak kalian."ucap wanita itu dengan santai Seraya beranjak dari tempat duduknya.
"lagi pula, apakah kalian tidak kasihan melihat kondisi psikis dari Mikaila? sepertinya wanita itu kurang dalam refreshing. lihat saja raut wajahnya."lanjutnya pada semua orang Seraya menunjuk ke arah wajah milik Mikaila.
__ADS_1
Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Debby. karena wajah wanita yang tengah mengandung itu terlihat begitu murung dan juga penuh dengan aura gelap.
"benar apa yang dikatakan oleh Debby. istrimu terlihat tidak bersemangat. apakah sebaiknya, kau izinkan saja dia untuk berjalan-jalan?"tanya Oma Juwita merasa kasihan pada cucu menantunya itu.
"tapi di luar tidak aman Oma."sergah Arthur masih tetap Keukeh tidak mengizinkan istrinya itu untuk keluar. membuat Mikaila, ketika menundukkan kepala karena merasa sedih entah apa sebabnya.
"berilah dia waktu untuk menyegarkan otak. lagi pula, dia tidak sendiri. ada Debby yang menemani." ucap Bahrun masih mencoba untuk membujuk.
"hanya dengan Debby saja?"tanya laki-laki itu masih dengan raut wajah tidak yakin.
"aku akan menelpon kedua sahabatku dan juga sepupuku. apakah itu masih kurang?"pada akhirnya Mikaila pun, mengeluarkan suaranya. membuat semua orang menoleh dan menatap ke arahnya.
"apakah kau yakin sayang?"tanya Arthur mencoba untuk bersikap lembut pada wanita itu.
"aku yakin."sahutnya dengan semangat.
Arthur menghela nafas kasar."baiklah kalau begitu. kalian boleh pergi. tapi setiap 30 menit sekali, kau harus mengangkat teleponku. bagaimana?"tanya laki-laki itu memberikan penawaran.
Mendengar hal itu Mikaila mengganggu antusias. dan Hal itu membuat Arthur yang melihatnya, seketika terkekeh pelan.
****
Dan di sinilah mereka sekarang di sebuah taman bermain yang ramai dengan orang-orang. tentunya Hal itu membuat Mikaila merasa begitu bahagia. karena jujur saja, Mikaila sedikit merasa bosan berada di rumah setiap hari selama beberapa bulan terakhir ini.
"bagaimana apakah kamu bahagia?"tanya Aditya dengan mengusap lembut kepala dari sepupunya itu.
"aku bahagia Terima kasih sudah menemaniku. dan maaf, karena sudah merepotkan."ucapnya tersenyum tulus.
"kamu ini bicara apa? tidak ada sebuah keluarga yang merasa direpotkan dengan keluarga yang lain."ucap Aditya dengan suara yang begitu lembut.
Membuat dua orang yang ada di sana, merasakan desiran yang cukup hebat di dalam tubuh masing-masing.
__ADS_1