Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 57


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Karena sudah merasa tidak tahan dengan situasi seperti ini pada akhirnya Arthur memutuskan untuk nekat menemui istrinya. rasa rindu yang telah membuncah di dalam dada, membawa laki-laki itu berbuat nekat untuk mendatangi istrinya. dan jika perlu, laki-laki itu akan menyeret istrinya itu untuk pulang.


Karena bagaimanapun juga, Arthur masih memiliki wewenang penuh terhadap Mikaila. jadi laki-laki itu bisa menggunakan kuasanya untuk tidak membiarkan istrinya menjauh.


"Kau mau ke mana?"tanya Oma Juwita saat melihat cucu laki-lakinya berjalan tergesa-gesa seperti orang yang baru saja dikejar oleh sesuatu.


Namun bukannya menjawab, Arthur malah melanjutkan langkahnya semakin cepat. laki-laki itu tampaknya tidak mengindahkan teriakan dari orang-orang yang berada di rumah itu. bahkan Claudia sendiri pun, tidak dihiraukan oleh Arthur.


Sepertinya, laki-laki itu benar-benar sudah diambang frustasi. dan orang-orang seperti itu, akan memilih nekat karena sudah terlanjur merasakan sesuatu di dalam dadanya.


"kejar anakmu itu Bahrun, Ibu merasa ada sesuatu yang akan dilakukan oleh bocah itu!"tegur Oma Juwita pada putranya yang malah diam saja menyaksikan bagaimana Arthur pergi seperti itu.


Baru setelah disentak oleh Oma Juwita, laki-laki paruh baya itu segera mengikuti langkah dari putranya diikuti oleh Claudia di belakangnya. sementara Oma Juwita sendiri, membuang nafasnya kasar setelah Semua orang pergi dari hadapannya.


"dasar lemah!"gumamnya Seraya berlalu dari sana.


"Pak, Ibu ikut!"teriak Claudia yang menyusul suaminya itu dari belakang. membuat Bahrun yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Arthur dari kejauhan agar tidak ketahuan oleh anak laki-laki mereka.


Keduanya saling pandang saat mobil yang dikendarai oleh Arthur malah menuju ke jalan lain.


"dia mau ke mana, Pak?"tanya Claudia pada sang suami.

__ADS_1


"entahlah aku juga tidak tahu tapi lebih baik kita ikuti saja."balas Bahrun dengan pandangan mata masih lurus ke depan menatap ke arah jalan anyang dilewati oleh putranya itu.


"kenapa dia ada di sana?"pertanyaan dari seseorang yang entah dari mana datangnya itu, sukses membuat Claudia dan juga baru yang mendengarnya sejenak terjingkat. dan tak lama berselang, keduanya saling pandang.


"si..siapa yang berbicara? masa iya siang-siang ada hantu?"tanya Claudia pada sang suami Seraya mengusung tengkuknya yang terasa meremang.


Sementara Bahrun sendiri, laki-laki paruh baya itu memutuskan untuk berdiam mencari sumber suara yang baru saja keluar itu. dibandingkan dengan hal mistis seperti itu, Bahrun lebih percaya dengan seseorang yang memasang alat pengintai di sekitaran mereka.


Hingga tak sengaja, kedua mata laki-laki paruh baya itu menangkap sebuah benda kecil yang tertancap di ponsel yang dipegang oleh Claudia. seketika itu pula, Bahrun terkekeh pelan.


Claudia yang melihat itu, seketika melotot. warna wanita paruh baya itu merasa, sang suami tengah menertawakan dirinya.


"kenapa malah tertawa Pak?! bapak ngejek ibu?!"tanyanya Seraya menatap tajam ke arah laki-laki itu.


"kenapa kalian malah bertengkar? sudah! Bahrun, setelah nanti kamu sampai di tempat tujuan, tolong langsung kirimkan alamat itu pada ibu."titah sosok suara itu kembali.


Baru setelah mengatakan hal itu, Claudia menyadari akan sesuatu. dan dengan refleks, wanita itu menoleh ke arah sebuah alat yang memang tertancap di ponsel mewahnya. wanita itu seketika meringis karena menyadari kebodohannya.


"kenapa bapak nggak bilang kalau ada alat pengintai seperti ini di ponsel ibu?"tanya wanita itu berbisik tepat di telinga sang suami.


"makanya nggak usah ngomel-ngomel aja!"jawabnya dengan santai. Claudia yang mendengar itu, seketika membulatkan kedua matanya. dan beberapa saat kemudian, wanita itu memukul lengan milik sang suami.


Bukannya marah ataupun apa, laki-laki paruh baya itu justru tertawa lepas. membuat Claudia yang melihat itu, seketika merenggut kesal. dan setelah itu, mereka berdua segera turun dari mobil. saat dirasa, mobil yang mereka tumpangi, telah sampai di tempat tujuan.


"ayo turun! kita mulai pengintaian ini!"ucap Bahrun ala-ala detektif. membuat Claudia yang melihat itu seketika merinding. Pasalnya, suaminya itu tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. karena pribadi Bahrun adalah sosok laki-laki yang begitu tegas dan juga kaku. jarang bercanda ataupun semacamnya. namun sekarang, bahkan laki-laki itu sedikit melawak.

__ADS_1


***


Sementara itu, Arthur sendiri kini telah sampai di depan rumah dari nenek Kamilah. dan tanpa basa-basi, laki-laki itu segera turun dari dalam mobil untuk masuk ke dalam rumah sederhana itu.


Terlihat di sana, Mikaila tengah berbincang-bincang dengan semua orang yang ada di ruangan itu. dan sesekali, wanita itu akan saling melempar candaan dengan Aditya. dan hal itu, sukses membuat Arthur terbakar api cemburu. tanpa basa-basi lagi, laki-laki itu segera masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya mengucapkan salam.


"selamat pagi semuanya!"sapa Arthur dengan ramah.


"itu kan suami dari kamu Mikaila? ayo diajak untuk masuk ke dalam. kebetulan, baru saja akan melaksanakan makan siang."sambut nenek Kamilah dengan begitu ramah dan juga sangat antusias.


Karena wanita sepuh itu, merasa tersanjung dengan kedatangan suami dari cucunya. sementara orang-orang yang ada di sana, menatap ke arah laki-laki itu dengan tatapan tak percaya. terutama Mikaila. wanita yang tengah mengandung itu, terlihat begitu syok.


Arthur hanya menganggukkan kepala mengikuti langkah kaki dari wanita renta itu. sementara orang-orang yang ada di sana, seketika saling pandang satu sama lain. termasuk juga, Winarto dan juga Ruri. orang tua dari Mikaila itu, merasa tidak menyangka bahwa menantunya akan datang ke rumah ini.


Dan pada akhirnya, mereka semua menikmati makanan itu dengan suasana hikmat dan juga penuh kekeluargaan. sesekali juga, nenek Karmila akan bertanya tentang sesuatu pada Arthur. karena sebenarnya, beliau merasa antusias dengan kedatangan laki-laki itu.


Selesai makan semua orang masih ada di sana. dan hal itu, dimanfaatkan Arthur untuk mengucapkan sesuatu.


"Ada yang ingin aku katakan!"ucap laki-laki itu menatap orang-orang yang ada di sana.


"aku ingin, membawa Mikaila pulang!"berapa kalimat itu, sukses membuat semua orang yang ada di sana, ternganga tidak percaya. tak terkecuali, Mikaila sendiri.


Wanita yang tengah mengandung 3 bulan itu, seketika langsung menggelengkan kepalanya.


"nggak, aku nggak ingin pulang!" sentaknya Seraya bangkit berdiri ingin segera berlari menghindari laki-laki itu.

__ADS_1


Namun ucapan dari nenek Kamilah, membuat wanita hamil itu seketika terdiam di tempatnya.


"kamu tidak boleh seperti itu Mikaila. bagaimanapun juga dia adalah suami yang memiliki hak penuh atas dirimu."ucap nenek Kamila menasehati cucunya itu.


__ADS_2