
Beberapa waktu kemudian,...
Pada akhirnya, Mikaila dan juga Fandi memutuskan untuk mendekat satu sama lain. karena entah mengapa, hati dari keduanya semakin lama semakin seperti didekatkan. apalagi di sana, ada Moza yang menjadi alat penguat di antara mereka berdua.
Sehinggalah, kedua manusia itu sering pergi bersama seperti sebuah keluarga yang begitu utuh dan juga harmonis. dan terkadang, Mikaila akan mengajak Moza untuk berjalan-jalan. sungguh, Wanita itu sangat memiliki perasaan yang cukup mendalam pada gadis berusia 2 tahun itu. dan hal itu sama sekali tidak dimengerti oleh Mikaila.
Hingga membuat beberapa orang yang ada di sekitarnya, merasa sedikit tercengang dan juga tertohok begitu saja saat melihat bagaimana akrabnya antara Mikaila dan juga Moza.
"kenapa aku merasa mereka seperti pasangan ibu dan anak?"celetuk Sarah secara tiba-tiba.
Membuat Hana dan juga Aditya yang mendengar itu, serempak menatap horor ke arah wanita yang sedikit macho itu.
"mana bisa seperti itu? kita melihat sendiri bahwa di dalam ruangan itu ada sesosok bayi yang sudah berlumuran darah? dan di sana tidak ada bayi lain selain milik bayi Mikaila."sahut Aditya dengan cepat.
Sarah seketika memajukan bibir bawahnya karena merasa kesal akibat argumentasinya yang dipatahkan begitu saja oleh laki-laki yang sangat ia benci beberapa waktu itu.
"sudahlah mungkin karena Mikaila sangat merindukan putrinya. sehingga saat bertemu dengan Moza, Mikaila akan bertingkah seperti itu."ucap Hana secara tiba-tiba mencoba untuk menengahi kedua manusia yang sering ribut itu.
"kalau memang alasannya itu, kenapa dia tidak memperlakukan hal yang sama dengan anak-anak yang ada di panti? mereka kan juga memiliki usia yang hampir sama dengan Moza?"tanya Aditya yang mulai berpikir keras.
Sementara Sarah dan juga Hana yang mendengar itu, mencoba untuk berdiam diri. karena kedua wanita itu tidak ingin ikut campur atas masalah yang dialami oleh sahabatnya itu.
Bukan karena tidak sayang ataupun apa? hanya saja, Hana dan juga Sarah tidak mau ikut campur jika memang hati Mikaila sudah tertaut kembali kepada laki-laki lain. karena memang, sahabat mereka itu sudah lama menyendiri hampir 2 tahun lebih. dan mereka pikir, Tidak ada salahnya untuk membuka hati kepada laki-laki lain. Sekalipun, itu adalah Fandy. orang yang sempat membuatnya kecewa beberapa tahun lalu akibat obsesinya itu. tapi sekarang, laki-laki itu sudah menunjukkan perubahan yang cukup maksimal.
__ADS_1
Mereka pikir, Tidak ada salahnya untuk memberikan kesempatan pada laki-laki itu. karena semua manusia, berhak mendapatkan kesempatan Kedua. termasuk juga dengan Fandy. lagi pula, kesalahan yang dilakukan oleh laki-laki itu tidak terlalu fatal. tidak seperti Arthur yang dengan sengaja menghilangkan barang berharga milik Mikaila.
****
"kamu lelah atau tidak? Jika kamu lelah, lebih baik kita istirahat dulu."ucap Fandy pada Mikaila. saat ini, mereka bertiga tengah berada di sebuah wahana permainan yang ada di sebuah mall ternama di kota itu.
Sebenarnya, itu sudah direncanakan oleh Fandy beberapa hari sebelumnya. tentu saja laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu tak akan pernah memanfaatkan sebuah celah sedikitpun untuk menyia-nyiakan kesempatan itu.
Laki-laki itu, bahkan sengaja menunda beberapa meeting penting untuk bisa meraih kesempatan kedua dengan Mikaila. sementara wanita itu sendiri, hanya bisa tersenyum canggung.
Karena memang, Mikaila sama sekali tidak mengerti jika semua ini memang telah direncanakan dan juga disengaja oleh laki-laki yang ada di sebelahnya itu.
"Moza mau es krim?"tanya Fandy di mana ada suara yang begitu lembut. membuat bocah kecil itu seketika menatap sang ayah dengan tetapan yang begitu menggemaskan. tak lama berselang, anggukan kecil seketika diterima oleh laki-laki itu.
Sementara Fandy sendiri, hanya mengacungkan jari jempolnya ke udara. membuat Moza seketika tertawa. karena bocah kecil itu memang sangat menyayangi laki-laki itu.
Tanpa sadar, Kayla yang melihat interaksi antara ayah dan anak itu, juga ikut menerbitkan senyuman yang begitu manis dan juga tulus. bahkan Hal itu membuat Fandy terpaku untuk beberapa saat kemudian.
"aku semakin bertekad bahwa kau akan menjadi milikku selamanya."setelah mengatakan hal itu, Fandy segera berbalik badan untuk segera membelikan pesanan dari Moza.
Sementara Mikaila sendiri, wanita cantik itu kembali fokus terhadap bocah kecil yang ada di sebelahnya saat ini dengan sesekali akan mencium pipinya jika mendapati sesuatu hal yang lucu dan menggemaskan.
"gemes kali sih kamu ini."ucapnya Seraya mencubit kecil-kecil pipi dari bocah itu. namun hal itu sama sekali tidak membuat Moza terganggu. Bahkan, gadis berusia 2 tahun itu justru malah tertawa saat mendapati cubitan-cubitan kecil itu.
__ADS_1
Tanpa mereka semua sadari, ada seseorang yang menghafalkan tangannya kuat-kuat dari balik pohon yang ada di taman itu.
"apa kamu ternyata sudah menikah dengan Fandy?"tanya Arthur dengan raut wajah sendu. tak lama berselang, laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu, tersenyum petir saat mendapati kenyataan itu.
"ternyata aku memang tidak ditakdirkan untukmu."ucapnya Seraya mengusap air mata yang mulai mengalir membasahi wajah tampannya itu.
"aku hanya berharap, kau akan berbahagia dengan keluarga baru ini."sambungnya Seraya melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
Karena memang, Arthur sama sekali tidak tahan melihat keharmonisan satu keluarga itu. yang benar-benar mencerminkan sebuah keluarga yang begitu harmonis dan juga bahagia.
"aaarrrgggh! Sialan kau Mikaila!" teriak laki-laki itu dengan begitu lantangnya. tak berselang lama, tubuh dari Arthur seketika merosot jatuh di atas tanah dengan tangisan yang begitu memilukan.
"aku tidak membunuh anak kita. aku bukan pembunuh. kau harus percaya itu." gumamnya dengan nada suara yang begitu lirih dan juga menyedihkan.
Setelah puas menangis, dan menyalahkan keadaan yang ada, pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
****
"bagaimana rencanamu apakah sudah berhasil?"tanya Naima pada Fandy. saat ini mereka tengah berada di sebuah bangunan terbengkalai yang terletak jauh dari keramaian kota.
"tentu saja. aku dengan mudah bisa mendapatkan wanitaku kembali. aku akan membuat Arthur menjadi hancur sehancur-hancurnya. dan setelah itu terjadi, kau harus masuk ke dalamnya menjadi penawar untuk rasa sakitnya. maka setelah itu, kita akan sama-sama mendapatkan apa yang kita inginkan."ucap Fandy dengan begitu bangganya.
Dan hal itu langsung dijawab anggukan kepala oleh Naima. "Itu memang Yang aku tunggu sejak lama. kita akan sama-sama mendapatkan apa yang kita inginkan."sahut wanita itu dengan tersenyum devil.
__ADS_1