
Sementara itu di tempat lain, terlihat keluarga dari Stanley merasa sangat kebingungan. karena keluarga itu benar-benar telah mengerahkan seluruh anggota keluarganya untuk mencari keberadaan Mikaila.
Tak jarang beberapa kali umpatan lolos begitu saja dari bibir keriput Oma Juwita. karena kebodohan dari cucu laki-lakinya itu, membuat cucu menantunya melarikan diri seperti ini.
"kalau kamu masih tidak bisa untuk membuka hati untuk Mikaila, seharusnya kamu tidak melakukan pernikahan dengan wanita itu. sekarang, apa yang harus kita lakukan. jika tiba-tiba saja, keluarga dari istrimu itu datang ke sini?"tanya wanita renta itu Seraya menatap tajam ke arah sang cucu.
membuat Arthur yang mendengar itu, seketika terdiam. sampai saat ini pun, dirinya masih merasa sangat kebingungan jika tiba-tiba keluarga dari istrinya itu, datang untuk melabrak.
"aku bingung apa yang harus aku lakukan!"ucap laki-laki itu Seraya mengacak-acak rambutnya. dan setelah puas, Arthur seketika berlutut di hadapan mereka semua.
"tolong aku bantu aku untuk mencari keberadaan wanita yang aku cintai!"mohon laki-laki itu Seraya mengatupkan kedua tangan di depan dada. dan jangan lupakan, raut wajah yang begitu melas.
Namun hal itu sama sekali tidak membuat orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi iba. justru mereka mencibir bergantian.
"wanita yang kamu cintai? siapa wanita yang kamu cintai itu? apakah itu Naima?"tanya Oma Juwita cara yang menatap tajam ke arah laki-laki itu.
"Oma, please!"ucap laki-laki itu semakin menampilkan raut wajah yang begitu memelas dengan kedua mata yang memerah siap untuk menumpahkan sesuatu dari dalam sana.
Oma Juwita yang mendengar dan melihat itu, seketika memalingkan wajahnya disertai dengusan kasar dari dalam mulutnya.
"makanya kalau apa-apa itu dipikir dulu! kalau sudah begini saja, nangis-nangis minta bantuan Oma!"email wanita renta itu Seraya merogoh saku jaketnya untuk menghubungi seseorang.
Tak berselang lama, Oma Juwita kembali dengan menatap lekat ke arah laki-laki itu. "anak buah Oma akan berusaha untuk mencari keberadaan istrimu! tapi, jika sekali lagi kamu menyakiti Mikaila, maka Oma sendiri yang akan memaksa kalian untuk berpisah."ucapnya dengan nada yang terdengar sangat serius dan juga mengerikan.
"Oma, kenapa bilang seperti itu?"tanya Arthur dengan raut wajah tidak suka.
__ADS_1
Sementara Oma Juwita yang mendengar ucapan tidak suka dari cucunya, seketika menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman sini s yang tercetak jelas.
"kamu pikir, ada wanita yang ingin menikah dan hidup bersama dengan laki-laki yang masih terbayang-bayang dengan masa lalunya? hanya orang bodoh yang bisa melakukan hal itu! dan Oma rasa, Mikaila bukan salah satu dari orang bodoh itu. berdoa saja, semoga keluarga dari Wardani tidak melakukan apa-apa. karena jika memang melakukan suatu gerakan, maka Oma tidak akan pernah bisa bantu!"setelah mengatakan kalimat panjang lebar seperti itu, Oma Juwita segera pergi dari sana.
Meninggalkan Arthur yang masih termenung di tempatnya. kemudian, laki-laki itu menatap ke arah kedua orang tuanya yang juga tengah menatapnya.
"Bu, Pak, bantu Arthur. Arthur mohon!"ucapnya kembali mengatupkan kedua tangan di depan dada.
Claudia dan Bahrun yang melihat itu, menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelahnya, menghembuskan secara perlahan.
"bapak sama ibu akan mencoba untuk membantumu. tapi kamu jangan berharap lebih. karena kemungkinan-kemungkinan itu, akan tetap ada."ucap Bahrun mencoba untuk menenangkan Sang putra.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Arthur masih terduduk lemas di atas lantai. dirinya tidak menyangka bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. niat hati ingin mengatakan bahwa baru saja Naima datang menghampiri di kediaman barunya, laki-laki itu langsung saja di labrak oleh Oma Juwita.
Karena wanita sepuh itu, tidak sengaja berkunjung ke rumah Bahrun dan mendengar ucapan cucunya. tentunya hal itu, membuat Oma Juwita yang mendengarnya, marah besar.
Dengan langkah gontai, laki-laki itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri. karena dirinya, butuh menenangkan otak dan juga fisik akibat masalah yang selalu menderanya itu.
Sesampainya di pekarangan rumah, laki-laki itu menyipitkan kedua matanya. saat melihat, seseorang datang berjalan menghampiri. pada awalnya, Arthur merasa senang. karena menganggap, bahwa wanita itu adalah Mikaila.
Namun lama-kelamaan, senyuman dari laki-laki itu seketika luntur. saat mengetahui, siapa yang tengah berjalan ke arahnya itu.
"mau apa kau datang ke sini?!" pekik Arthur dengan sangat kencang. membuat orang-orang yang ada di dalam rumah itu, seketika berhamburan keluar.
Mata mereka semua, seketika membelalak saat menyaksikan kehadiran Naima. mantan kekasih dari Arthur.
__ADS_1
Dengan langkah secepat kilat, Oma Juwita mulai bergerak maju menghampiri wanita itu. dan tiba-tiba saja,...
plak
Satu tamparan keras, seketika mendarat mulus di wajah cantik milik Naima. hingga membuat si pemilik, seketika tertoleh ke samping dengan sangat kuat.
"berani-beraninya kau datang ke sini? apa sebenarnya yang kau inginkan? apakah tidak cukup Kau menghancurkan mental dan juga hati cucuku?"tanya wanita rentak itu dengan tatapan merah membara.
Sementara Naima yang mendengar itu, merasakan kebas di pipi akibat tamparan dari Oma Juwita. walaupun, Wanita itu sudah berusia hampir 80 tahun, namun tenaganya masih sangatlah kuat.
"aku ke sini ingin meminta maaf pada kalian! terutama pada kamu Arthur aku benar-benar sangat menyesal dan ingin sekali kembali padamu."dengan wajah sendunya, Naima mencoba untuk kembali mendekati keluarga dari Stanley.
juh
Tanpa diduga-duga, Oma Juwita meludah tepat di hadapan Naima. membuat semua orang yang ada di sana, seketika terkesiap kaget.
"jangan pernah kau mendekati secuku lagi! jika tidak, kau akan menyesal nantinya!"setelah mengatakan hal itu, Oma Juwita segera membawa semua orang yang ada di sana untuk masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya dengan rapat-rapat.
meninggalkan Naima yang masih menatap lurus ke depan. dan tak berselang lama, wanita itu menghafalkan kedua tangan di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
"aku akan membalas penghinaan ini! akan kubuat, kalian bertekuk lutut!"setelah mengatakan hal itu, Naima segera pergi dari sana.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat kondisi dari Mikaila sudah sedikit membaik. saat ini wanita yang tengah berbadan dua itu, tengah berbincang-bincang dengan kedua sahabatnya. dari tadi, Hana dan juga Sarah tidak diperbolehkan pulang oleh wanita itu.
__ADS_1
Beberapa kali Mereka mencoba untuk melarikan diri, keduanya akan berakhir dengan melihat lelehan air mata yang membasahi wajah cantik milik Mikaila. tentunya Hal itu membuat keduanya, merasa tidak tega untuk meninggalkannya. dan pada akhirnya, Sarah dan juga Hana memutuskan untuk menginap di sana barang semalam.