
Saat ini Mikaila bersama dengan kedua temannya masih berada di dalam kamar wanita itu. sepertinya Mikaila masih mencoba untuk meluluhkan hati salah satu sahabat untuk bisa memaafkan Aditya.
Karena memang terlihat laki-laki itu begitu sangat menyesali perbuatannya dulu. namun sepertinya, hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Sarah.karena memang wanita tomboy itu masih sangat membenci laki-laki yang berstatus sebagai kakak sepupu dari sahabatnya itu.
"udahlah sampai kapan kamu ingin bermusuhan dengan laki-laki itu? nanti kalau Tuhan menakdirkan kalian untuk berjodoh, bagaimana?"tanya Mikaila Seraya menaik turunkan alisnya menggoda sahabat tomboy yaitu.
Sontak saja, ekspresi wajah dari Sarah berubah menjadi begitu garang. dan tak lama berselang, wanita tomboy itu memberikan satu kali pukulan tepat di lengan Mikaila. membuat si pemilik seketika mengadu kesakitan. namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Sarah.
Karena wanita tomboy itu, malah memalingkan wajahnya ke arah lain. lain halnya dengan Hana. wanita yang sedikit kalem itu malah tertawa lepas saat melihat tingkah laku dari kedua sahabatnya itu.
"udahlah nggak usah marah-marah. nanti kalau kalian malah menjadi jodoh kan gengsi."ucapnya Seraya terkekeh pelan.
Sarah semakin menatap tajam ke arah dua sahabatnya itu. kemudian dengan segera, langsung membungkus tubuhnya dengan selimut. dan tak menghiraukan ucapan dari para sahabat-sahabat yaitu yang masih setia meledeknya.
Tok tok tok
Di tengah keseruan mereka menggoda Sarah, ada suara ketukan pintu dari depan kamar milik Mikaila. membuat tawa itu seketika reda. dengan segera, Mikaila membuka pintu.
"ada apa Ma?"tanya wanita itu saat melihat Ruri berdiri tepat di hadapannya.
"ini ada kiriman dari calon suamimu."ucap wanita paruh baya itu cara yang menyerahkan sebuah paper bag yang cukup besar pada Mikaila.
Blusshh
Kedua pipi dari Mikaila seketika berubah menjadi panas. dan tak lama berselang wanita cantik itu, merasa salah tingkah saat mendengar kata-kata. 'suami.'
Seakan menyadarkan, bawa sebentar lagi Mikaila akan menjadi istri dari seorang Fandy. laki-laki yang dulu pernah Ia benci. tapi sekarang, malah menjadi laki-laki yang sebentar lagi mengisi hari-harinya dan membuat kesan di sisa umurnya.
__ADS_1
"kenapa pipinya merah gitu?"tanya Ruri menggoda putrinya. dan hal itu semakin membuat Mikaila semakin merasa salah tingkah dan juga semakin terlihat memerah seperti kepiting rebus.
"ih Mama!"rengek wanita itu. dan hal itu sukses membuat orang-orang yang ada di sana, seketika tertawa lepas. tak terkecuali, Winarto dan juga Aditya Yang sepertinya baru datang dari luar.
"udah udah nggak usah di goda lagi. nanti kalau calon suaminya marah, bisa bahaya ini."bukannya meredakan ledekan yang dilakukan oleh ibu dan juga teman-temannya, Winarto justru malah menambahnya.
Membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika semakin merengut sebal.
Drrrttt Drrrttt
Di tengah suasana yang begitu lucu dan juga menggemaskan itu, terdengar suara ponsel yang berdering. dan setelah dilihat, itu ternyata dari Fandy. sontak saja semua orang semakin meledekki wanita itu.
Malu? tentu saja. Karena pada saat ini, kedua telinga dari wanita itu pun memerah. hal itu semakin membuat orang-orang tertawa lepas.
"sssstttt." desisnya dengan tatapan yang sangat tajam. dan tak lama berselang, segera mengangkat telepon itu.
" iya Fandy, ada apa?"tanya Mikaila dengan nada suara yang sedikit kikuk. karena orang-orang itu masih berada di tengah-tengah ruangan kamarnya dan tengah menunggu apa yang diobrolkan oleh wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri orang lain itu.
Mikaila seketika tersentak kaget. kedua bola mata dari wanita itu seketika membulat sempurna. karena saking merasa senangnya, Mikaila sampai menabrak orang-orang yang ada di sana.
Hingga membuat orang orang yang wanita itu tabrak, seketika menatapnya dengan tatapan tajam. namun hal itu sama sekali tidak dipedulikan oleh Mikaila. wanita cantik itu justru malah duduk di karpet berbulu dan juga mengalihkan panggilan itu menjadi video call.
"halo Sayang gimana kabarmu?"tanya wanita itu Seraya menatap ke arah Moza yang begitu menggemaskan.
("halo Tante Moza baik-baik saja. Moza merindukan tante.")
Suara yang begitu menggemaskan membuat Mikaila yang mendengar itu semakin merasa gemas.
__ADS_1
"duh gemes banget sih kamu sayang. Tante jadi pengen cium dan uyel-uyel pipi kamu."ucapnya menahan gemas sampai membuat gigi-giginya bergemeletuk.
"Halah alasan. paling juga ingin ketemu dengan ayahnya. sok-sokan kangen anaknya."cibir Aditya dengan nada yang begitu sulit.
Sontak saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana, seketika menoleh. dan tak lama berselang, Mereka pun menganggukkan kepala Soraya tekek kecil.
Berbeda halnya dengan Mikaila. karena Wanita cantik itu, sudah melayangkan tatapan maut kepada kakak sepupunya itu.
"bisa diam atau enggak?!"tanya wanita itu Seraya mengeram kesal.
Namun bukan Aditya jika tidak mengganggu kembali. karena laki-laki jangkung itu kembali berceloteh saat mendengar suara tawa dari adik sepupunya itu bersama dengan Moza. Seakan-akan, laki-laki itu tidak merasa puas karena sudah membuat Mikaila naik darah.
"mah Mama nggak ada niatan untuk bawa satu laki-laki itu keluar dari sini?"tanya Mikaila dengan nada suara yang begitu ketus Seraya menunjuk ke arah Aditya menggunakan ekor matanya.
Ruri justru malah tertawa pelan saat mendengar penuturan dari putrinya itu. tak lama berselang, wanita paruh baya itu pun menggelengkan kepalanya.
"udahlah Dit. nggak usah udah adik kamu lagi. emangnya kamu mau diterkam oleh singa betina?"tanya Winarto dengan nada berbisik tentunya.
Dan pada akhirnya, setelah melalui drama yang cukup panjang. Aditya pun bersedia untuk dibawa keluar oleh orang-orang yang ada di sana. Sehinggalah, di dalam ruang kamar itu hanya tersisa Mikaila dan juga Moza yang masih berada di seberang sana.
("tante kapan kita bertemu?") Tanya bocah kecil itu dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.
"emm besok kayaknya kita sudah bisa bertemu sayang."ucapnya Setelah lama berpikir.
("beneran tante besok kita bertemu?") tanya gadis kecil itu dengan raut wajah tidak percaya. karena memang Moza begitu sangat merindukan Mikaila. dan tak lama berselang, bocah kecil itu pun melompat-lompat di atas tempat tidur.
("ada siapa sayang?")
__ADS_1
Kedua pipi dari Mikaila seketika kembali bersemi merah saat membayangkan sebentar lagi dirinya dan Fandi akan benar-benar menjadi satu dalam sebuah ikatan pernikahan.
"semoga saja, ini adalah pernikahan terakhirku. karena aku, tidak ingin kembali merasakan sakit."gumam wanita itu lirih Soraya mengusap air matanya yang sedikit jatuh membasahi pipi.