Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 61


__ADS_3

Karena malas melihat tingkah laku dari sepupunya itu, pada akhirnya membuat Arthur memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. meninggalkan Debby seorang diri. membuat wanita itu seketika menghentakkan kakinya karena merasa kesal.


"kenapa malah ditinggal, sih?!"tanyanya ngomel. Namun demikian, wanita itu tetap mengikuti sepupunya hingga masuk ke dalam kamar.


"kenapa malah ngikutin aku?"tanya Arthur Saraya menghentikan langkah kakinya. membuat sepupunya juga ikut menghentikan langkah.


Tanpa mengindahkan pertanyaan dari laki-laki itu, Debby segera masuk ke dalam kamar. membuat si pemilik kamar, seketika melebarkan kedua matanya. dan tak lama berselang, mengeratkan gigi-giginya karena merasa frustasi dengan kelakuan wanita itu.


Dan pada akhirnya, laki-laki itu juga mengikuti langkah sepupunya untuk masuk ke dalam kamar. sesampainya di sana, laki-laki itu semakin menahan kekesalan. bagaimana tidak, Debby sekarang sudah berada di atas tempat tidur dengan posisi tertelungkup dengan membawa laptop di depannya.


"keluar dari kamarku!"ucap laki-laki itu dengan nada suara yang sangat dingin.


"ck," Terdengar decakan kesal dari mulut wanita itu."kenapa sih memangnya, kamu ini pelit sekali dengan sepupumu sendiri."lanjutnya Seraya menatap serius ke arah laki-laki itu.


Jika sudah seperti itu, maka yang dapat dilakukan oleh Arthur hanyalah menghela nafas panjang.


"Ada apa kamu datang kemari?"tanya laki-laki itu dengan nada yang sudah sedikit diturunkan dari sebelumnya.


Memang hubungan antara dua sepupu itu tidak terlalu harmonis. namun akan saling membutuhkan satu sama lain Jika salah satu dari mereka mengalami kesulitan ataupun kondisi dalam bahaya.


"aku kabur dari rumah!"jawab wanita itu dengan sedikit nada kesal di dalam ucapannya.


"kenapa memangnya? Tante Moza memaksa dan menyuruhmu untuk menikah?"tanya laki-laki itu Seraya menaikkan sebelah alisnya.


Seketika itu pula, Debby mengajak acak rambutnya sendiri karena merasa frustasi dengan perlakuan yang diterima.


"kenapa sih, keluarga kita harus memiliki paham seperti itu? apa coba untungnya menikah cepat-cepat? hanya untuk menghindari ucapan miring dari masyarakat sekitar? itu konyol namanya!"sungut Debby tidak suka.

__ADS_1


Arthur yang mendengar itu seketika ikut terdiam. setelah mendengar penuturan dari sepupunya itu, ada sedikit rasa menyesal dari dalam hatinya. andai saja dirinya tidak terburu-buru untuk menikahi Mikaila, mungkin saja semuanya tidak akan seperti ini. dan andai saja Naima kembali lebih cepat, Mungkin wanita itu tidak akan terobsesi sampai sejauh ini.


"kamu bener Debby. memang pernikahan itu membutuhkan kesiapan dari diri sendiri dan juga pasangan. bukan karena faktor lain."sahut Arthur dengan tenang. tak lama berselang, terdengar helaan nafas dari laki-laki itu.


"ada apa? apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui selama ini?"tanya wanita itu berubah menjadi serius.


"dia kembali."ucap Arthur lirih. membuat Debby yang mendengar itu sejenak terdiam. hingga tak lama berselang, kedua matanya membulat sempurna saat menyadari akan sesuatu.


"apa yang dilakukan oleh wanita itu?"tanya Debby dengan raut wajah penasaran.


Tanpa menunggu lama, laki-laki itu mulai menceritakan semuanya pada sepupunya itu. dan tugas Debby sendiri, menjadi pendengar yang baik.


"kau gila!" kalimat itu berhasil keluar dari mulu Debby. dengan nafas tersengal-sengal. Menandakan, bahwa wanita itu juga menahan amarah yang luar biasa.


"jika aku menjadi Mikaila, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama bahkan lebih. karena tidak akan ada seorang wanita pun yang rela jika suaminya berpelukan dengan wanita lain apapun alasannya."lanjut wanita itu Seraya menatap lurus ke depan.


Debby yang mendengarnya, mengedikkan bahunya rendah. menandakan, bahwa wanita itu juga tidak mengetahui apa yang harus dilakukan oleh Arthur setelah ini.


"apakah kau tidak ingin menjenguk istrimu di rumah sakit?"tiba-tiba saja wanita itu menanyakan sesuatu hal.


Membuat Arthur yang mendengarnya seketika menoleh ke arah sumber suara."tentu saja ingin. tapi aku tidak memiliki cara untuk datang ke sana. karena keluarga dari Mikaila, sepertinya sudah benar-benar membenciku."jawabnya dengan menundukkan kepala sedih.


"aku memiliki ide."ucap wanita itu dengan wajah sumringah. dengan segera mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu pada laki-laki itu.


"apa kamu yakin rencana ini akan berhasil?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah sedikit tidak percaya.


Debby mengganggu cepat." saja akan berhasil. apakah kau lupa tidak ada orang yang mengetahui tentang hubungan keluarga di antara kita selain teman-temanmu?"tanya wanita itu menyombongkan dirinya.

__ADS_1


"baiklah kalau begitu kita segera berangkat sekarang."ucapnya penuh dengan semangat.


membuat Debby yang mendengar itu, seketika mendengus geli. setelah mempersiapkan diri, mereka segera untuk menuju ke rumah sakit tempat di mana Mikaila dirawat..


****


"apakah aku masih lama berada di sini?" sejak tadi, yang tengah berbadan dua itu tak henti-hentinya merengek memintanya untuk segera pulang. namun para dokter itu belum ada yang berani untuk mengizinkan. karena memang, mereka masih harus melakukan pengecekan secara menyeluruh agar tidak ada Yang terlewatkan.


"sabarlah. emangnya lu mau ke mana sih?"tanya Aditya dengan raut wajah kesalnya.


"aku kan ingin pulang! aku bosen ada di sini."cicitnya dengan wajah merenggut. menandakan bahwa wanita itu, baru saja ingin mengeluarkan air matanya.


plak


Tiba-tiba saja tanpa diduga-duga, ada seseorang yang memukul belakang kepala laki-laki itu. hingga sih pemilik, seketika menoleh.


"kenapa lu malah mukulin gue?"tanya Aditya dengan tatapan yang sangat tajam kepada Sarah. ya sahabat dari Mikaila itulah yang baru saja memukul Aditya.


"karena lu sembarangan ngomong!"jawab Sarah dengan kardus.


Aditya yang mendengar itu seketika membuka mulutnya lebar-lebar. sembarangan ngomong katanya? padahal Aditya hanya bertanya Mikaila mau ke mana karena terkesan buru-buru seperti itu. kenapa malah dipukul seperti ini? dasar wanita aneh!


"sudahlah tidak usah berkelahi seperti itu. lama-lama kalian akan Om jodohkan!"celetuk Winarto yang sebelumnya terdiam karena memperhatikan interaksi dari mereka.


Serempak, Aditya dan juga Sarah yang mendengar itu, membulatkan kedua matanya. tak lama berselang, keduanya sama-sama memperagakan seperti orang yang ingin muntah.


Tentunya Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, tertawa karena melihat tingkah laku dari Aditya dan juga Sarah itu. tak terkecuali, Mikaila itu sendiri. wanita yang tengah hamil itu, merasa sedikit terhibur dengan kehadiran sahabat dan juga sepupunya itu. yang entah sejak kapan, mereka tidak pernah bisa untuk di akurkan. karena jika sudah bertemu, mereka lebih mirip seperti anjing dan juga kucing.

__ADS_1


__ADS_2