Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
Mendapatkan Cibiran


__ADS_3

Karena tidak kunjung berhenti, akhirnya Mikaila memiliki sebuah ide. yang sedikit nyeleneh. tiba-tiba saja, wanita itu mengeluarkan ponselnya dan langsung menyetel sebuah sirine yang merupakan sirine milik kepolisian.


Tentu saja hal itu membuat orang-orang yang ada di sana seketika merasa panik tak terkecuali, Arthur dan juga Fandy. kedua laki-laki tampan itu seketika menghentikan aktivitasnya. dan disaat seperti itulah, Mikaila segera menarik tangan suaminya untuk segera menjauh dari tempat itu.


"sudah Om, lebih baik kita pulang saja."setelah mengatakan hal itu, Mikaila segera menarik tangan Arthur. membuat laki-laki itu akhirnya pasrah. dan mengikuti langkah sang istri dengan sesekali meringis kesakitan akibat luka pukulan itu.


****


"kenapa harus diladeni si Om? kan Om bisa anggap laki-laki itu tidak waras. kenapa malah berantem seperti ini?"tanya Mikaila dengan raut wajah kesal. sementara Arthur yang mendengar ocehan dari istrinya itu, hanya dapat terdiam. dan sesekali menatap sekilas ke arah wanita yang saat ini tengah mengemudikan kendaraannya itu.


"kamu tidak usah berisik. ini adalah harga diri seorang laki-laki."ucap Arthur mencoba untuk menenangkan ocehan dari istrinya itu.


"harga diri seorang laki-laki itu jika istri yang ia cintai digoda oleh orang lain? sementara Om, bukankah kita hanya menikah secara kontrak? seharusnya Om itu bersikap biasa saja."jelas Mikaila menatap ke arah laki-laki itu.


Membuat Arthur yang mendengarnya sejenak terdiam. laki-laki itu seperti tertampar dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang menjabat sebagai istrinya itu.

__ADS_1


"ya bener juga sih kata dia. kenapa aku menjadi emosi seperti ini saat melihat laki-laki itu mengganggu Mikaila? apakah aku sudah memiliki rasa padanya? ah tapi itu tidak mungkin!"ucap Arthur mencoba untuk menyangkal apa yang ada di pikirannya.


Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang ditumpangi oleh Mikaila dan juga Arthur, telah sampai di depan gerbang rumah mewah laki-laki itu. dan dengan segera Mikaila memasukkan mobilnya ke dalam garasi setelah gerbang itu dibuka oleh penjaga rumah.


"Ya ampun kenapa dengan Arthur?"tanya semua orang yang memang masih berada di rumah laki-laki itu.


"Dia baru saja dipukuli orang."ucap Mikaila penuh dengan kejujuran. Tentu saja, itu membuat semua orang yang ada di sana seketika merasa tercengang.


"siapa orangnya?"tanya Claudia dengan raut wajah merah padam. sepertinya wanita paruh baya itu sudah benar-benar tersulut emosi. karena mendapati, putranya pulang dalam keadaan lebam-lebam seperti itu.


"sudahlah Bu, tidak perlu diperpanjang lagi. lagi pula, Ini hanya salah paham."ucap Arthur dengan cepat. saat laki-laki itu melihat, istrinya hendak membuka mulut.


"ini pasti Karena istrimu yang tidak becus menjagamu."ucap Claudia mencibir. membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah sumber suara. dan mendapati sang ibu mertua menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.


"sudahlah Bu, ini bukan salah Mikaila. lagi pula sejak kapan seorang suami harus menjadi tanggung jawab seorang istri? bukankah harusnya sebaliknya?"tanya Arthur menatap ke arah sang ibu. membuat Claudia yang mendengar itu, seketika mencebik. wanita paruh baya itu, seketika melangkahkan kakinya dengan melengos.

__ADS_1


"kamu yang sabar ya sayang. jangan pernah mendengarkan ucapan dari orang-orang yang tidak menyukaimu. karena di mata mereka, kamu tetap salah walaupun telah melakukan suatu kebenaran."ucap Oma Juwita mencoba untuk menenangkan cucu menantunya itu.


"Terima kasih Oma. kalau begitu aku bawa suamiku dulu ke kamar."ucap Mikaila sedikit canggung. karena tidak mungkin, Mikaila mengatakan bahwa dirinya memanggil Arthur dengan sebutan "Om."karena dapat dipastikan, wanita itu akan semakin mendapatkan cibiran dari orang-orang yang tidak menyukainya.


***


"sekarang Om istirahat ya."ucap Mikaila saat wanita itu telah membaringkan Arthur di atas tempat tidur.


"tunggu,"tahan Arthur Seraya menarik tangan sang istri. membuat wanita itu, seketika menoleh.


"Ada apa Om?"tanya Mikaila dengan raut wajah bingung.


"bisakah kamu jangan memanggilku Om? aku merasa sangat tua jika mendengar kamu memanggilku dengan sebutan itu."ucap Arthur dengan jujur.


"lalu aku harus memanggilmu apa?"tanya Mikaila dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


"terserah asal jangan Om, sayang juga boleh."ucapnya Seraya menaik turunkan alisnya. membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika memutar bola mata malas.


"yang ada aku merasa mual jika memanggil dengan sebutan itu."sahut Mikaila dengan tubuh bergidik ngeri. sementara Arthur yang mendengar itu, seketika terkekeh pelan. seraya sesekali, menyentuh area wajahnya yang terasa perih.


__ADS_2