
Setelah melalui drama yang cukup panjang, pada akhirnya Mikaila dan juga Fandy memutuskan untuk pergi ke mall di mana tempat itu, memang sudah dijanjikan laki-laki itu pada Moza. dan di sepanjang perjalanan itu, ketiganya tak henti-hentinya bersikap ceria.
Terutama Moza sendiri. karena gadis kecil berusia 2 tahun itu, benar sangat antusias karena bisa pergi bersama dengan Ayah dan juga wanita yang sangat ia sayangi yang sudah dianggap sebagai ibu kandungnya.
"kamu bisa melihat Moza, kan?"tanya Fandi menunjuk ke arah bocah kecil itu yang tahan intinya menyanyi dan bercelup teh di belakang sana bersama dengan pengasuhnya.
Mikaila tampak terdiam cukup lama. hingga pada akhirnya, wanita cantik itu pun menganggukkan kepalanya.
"ngomong-ngomong bagaimana kamu bisa mendapatkan Moza pada waktu itu?"tanya Mikaila mencoba untuk mengorek informasi.
Memang wanita itu tidak mengetahui cerita pasti yang dialami oleh Fandy. mendengarkan hal itu, membuat laki-laki itu terdiam cukup lama.
"Dia di temukan di semak-semak jalan raya akan menuju ke rumahku." ungkap laki-laki itu senyuman yang begitu mengembang.
Cessss
Seketika itu pula hati dari Mikaila seperti diremas oleh tangan yang sangat besar. hingga membuat wanita itu, seketika merintih kecil. itu membuat Fandy yang menyadarinya, seketika sedikit panik.
Dengan segera laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, segera menepikan kendaraannya.
"apakah kamu baik-baik saja?"hanya laki-laki itu dengan raut wajah yang begitu khawatir dan juga cemas.
Sementara Mikaila sendiri, wanita itu hanya meringis dan menganggukkan kepala."aku baik-baik saja aku hanya merasakan kasihan pada gadis kecil itu. dan entah mengapa, dadaku terasa begitu sakit saat mendengar penuturan yang keluar dari mulutmu itu.
Sontak saja, Fandy tersenyum miris.'andai saja kamu tahu jika yang kamu rasakan itu adalah ikatan batin antara ibu dan batin laki-laki itu mencoba untuk menahan dirinya.
__ADS_1
Karena semakin lama Fandy mengenal Mikaila, laki-laki itu semakin merasa tidak tega pada wanita yang ada di sebelahnya saat ini.
"tidak Fandy kamu tidak boleh lemah." gumam laki-laki itu mencoba untuk menahan dirinya sekuat tenaga agar jangan sampai mengocokkan rencana yang telah ia susun sedemikian rupa dan selamat 2 tahun itu.
"kamu kenapa Fandy?"tanya Mikaila yang saat melihat raut wajah dari laki-laki itu yang seperti menahan tangis.
"O...oh tidak apa-apa."setelah mengatakannya Fandi sekedar melajukan kembali kendaraannya untuk menuju ke pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
Sesampainya di sana, toko yang akan mereka kunjungi adalah perlengkapan anak-anak khususnya anak perempuan. Karena di jalan tadi, Mikaila mengatakan ingin membelikan sesuatu pada Moza. dan hal itu tidak boleh diganggu gugat ataupun ditolak oleh Fandy.
Dan pada akhirnya, yang dapat dilakukan oleh laki-laki itu hanyalah berpasrah dan menuruti keinginan dari wanita yang sebenarnya perlahan tapi pasti masuk ke dalam hatinya. namun hal itu sama sekali tidak disadari oleh si empunya.
"Moza apakah kamu suka ini?"tanya Mikaila Seraya menunjuk sebuah dress berwarna peach yang begitu memukau.
"jangan Mikaila itu terlalu mahal!"ungkap Fandy Seraya mencekal pergelangan tangan dari wanita itu.
Entah itu mahal, entah itu kekecilan, kebesaran, terlalu glamour, terlalu pas di badan, dan masih banyak lagi. bahkan saking kesalnya, ingin sekali Mikaila menyumpal mulut dari laki-laki itu menggunakan sapu tangan yang sedang ia bawa karena terlalu berisik.
"sudahlah Fandi jangan pernah halangi aku untuk membelikan sesuatu pada Moza. anggap saja, Ini adalah sebuah kado dari ibu untuk anaknya."tanpa sadar, Mikaila mengatakan hal itu. hingga tak lama berselang, dua orang itu terdiam dengan pikiran masing-masing.
"e...eh, maksudku bukan begitu Fandy."dengan suara terbata-bata, Mikaila mencoba untuk menjelaskan semuanya.
"aku paham apa yang kamu katakan itu. sudah tidak usah merasa bersalah dan juga Tidak usah mencoba untuk menjelaskan semuanya. aku tidak akan pernah merasa tersinggung."ucapnya dengan bersungguh-sungguh.
Mikaila seketika bernafas dengan lega. kemudian mereka kembali mencari perlengkapan-perlengkapan ataupun barang-barang yang akan mereka beli.
__ADS_1
****
Sementara itu di tempat yang sama namun berbeda toko, terlihat Arthur bersama dengan Naima tengah mencari sebuah gaun untuk pernikahan mereka. dan Setelah beberapa jam di sana, mereka masih belum menemukan pakaian yang cocok. tentunya Hal itu membuat Naima, di sepanjang jalan mengomel tak henti.
"kau ini mau mencari baju apa sih?"tanya Arthur dengan raut wajah kesalnya. karena laki-laki itu, sudah merasa lelah lelah pikiran dan juga lelah fisik karena sejak tadi dia sejak muter-muter oleh wanita itu.
"sabarlah Sayang sebentar lagi aku juga akan mendapatkan apa yang aku mau."takutnya dengan santai.
Membuat Arthur yang mendengar itu, seketika mengepalkan tangannya kuat-kuat. hingga membuat otot-otot tangannya terlihat dengan begitu jelas. jika Naima itu bukan seorang perempuan, muda maka sudah dapat dipastikan, bahwa wanita itu akan habis di tangannya.
Sayangnya, Arthur tidak memiliki kuasa itu. laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu, masih merasa segan karena Naima memiliki kartu AS tentang kelakuannya.
Saat laki-laki itu tengah menatap ke sekeliling, kedua matanya tidak sengaja menatap ke arah pakaian bayi dan anak yang tidak jauh dari tempat Mereka berdiri saat ini.
"Mikaila dan juga Fandy?apakah mereka benar-benar sudah menikah?"tanya Arthur dengan nada yang begitu lirih.
Beruntungnya Naima tidak mendengar penuturan dari laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidung yaitu. karena jika hal itu sampai terjadi, maka akan dapat dipastikan bahwa semuanya akan hancur berantakan.
huh huh huh
Untuk beberapa kali, laki-laki itu menghembuskan nafasnya berat. dan tak lama berselang laki-laki itu segera memijat pelipisnya yang terasa berdenyut akibat masalah yang tidak henti-hentinya mengganggu kehidupannya itu.
Yah namanya juga hidup pasti banyak masalah Arthur. jika banyak makanan itu restoran. jika banyak cucian itu laundry hehehe.
Setelah puas memandangi pemandangan yang begitu menyakitkan itu, pada akhirnya Arthur segera memalingkan wajah ke arah lain. dan hal itu bertepatan dengan Naima yang baru saja kembali dari berburu bareng-bareng mewah itu.
__ADS_1
"aku belum menemukan yang aku sukai."lapor wanita itu dengan raut wajah cemberut. membuat Arthur yang melihat itu, seketika mengerutkan keningnya.
Apakah wanita di hadapannya saat ini sedang bersikap imut padanya? cih sama sekali tidak ada imut-imutnya justru tambah memuakkan!