Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 151


__ADS_3

Sementara itu di kediaman keluarga Fandy,terlihat seorang wanita yang tampak gelisah dari tadi. kaki jenjangnya,berjalan ke kiri dan ke kanan karena memikirkan sesuatu hal yang menurutnya sangat janggal.apalagi jika bukan pemikiran tentang perubahan sikap Fandi yang begitu drastis kepada Moza.


Apa mungkin,perubahan yang terjadi pada diri Fandi itu disebabkan karena laki-laki itu sempat kesal akibat diganggu oleh Moza malam itu ?tapi Bukankah dia sudah mendapatkan gantinya setelahnya ? Lalu kenapa masih saja merasa kesal pada bocah kecil itu ?Sampai saat ini pun, Mikaila benar-benar tidak mengerti Apa yang mendasari Fandi melakukan hal itu pada Moza.


Bukankah laki-laki itu pernah mengatakan Jika dia sangat menyayangi Moza ?tapi kenapa semuanya bisa menjadi seperti ini ?


"Tante, hiks hiks hiks."


Lamunan dari Mikaila, seketika terhenti. saat mendengar suara tangisan yang begitu melengking dari bocah kecil berusia 2 tahun itu.


Tanpa pikir panjang lagi, Mikaila segera menghampiri.dan bertepatan dengan itu Fandi baru saja pulang dari kantor dengan raut wajah lelahnya.


"Sayang Kau mau ke mana ?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah yang begitu sumringah saat mendapati istrinya berdiri di ambang pintu kamar mereka.

__ADS_1


"Maaf Fandy. aku, harus mendatangi Moza karena anak itu, menangis sejak tadi. "tanpa melihat raut wajah dari Fandy yang sudah begitu masam, Mikaila melangkahkan kakinya tergesa-gesa untuk menghampiri bocah kecil itu yang sudah berada di ruang tengah.


Seketika tatapan dari laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu semakin menajam ke arah bocah kecil itu.


"memang, itu tidak bisa dibiarkan seperti ini terus. aku harus segera memberikan pelajaran pada bocah kecil itu agar dia menjadi cerah dan tidak mengulanginya lagi."ucapnya dengan ekspresi wajah yang begitu keruh. pertanda, bahwa laki-laki itu sangat marah saat ini.


Tanpa pikir panjang lagi Fandi langsung masuk ke dalam kamarnya kemudian menutup pintu dengan Sedikit keras.


Mikaila dan juga Moza, seketika terkejut luar biasa saat mendengar pintu kamar yang ditutup dengan begitu kencangnya.


"Pipi pasti marah sama Moza. karena Moza, tidak mendengarkan ucapan dari Pipi."ucap gadis kecil itu dengan tubuh bergetar hebat karena menahan takut luar biasa.


Mikaila yang mendengar itu, seketika langsung menggendong tubuh dari Moza. dan membawanya, untuk menuju ke kamar gadis kecil itu guna menenangkannya.

__ADS_1


"tenang Sayang, semua akan baik-baik saja."ucap Mikaila penuh dengan kelembutan. Hingga membuat Gadis itu seketika merasa sangat tenang dan langsung memutuskan untuk memejamkan mata.


Setelah memastikan Moza tertidur dengan lelapnya, Mikaila memutuskan untuk kembali ke kamar pribadinya.sebenarnya, wanita cantik itu juga merasa sangat takut saat ini. namun, Mikaila sekuat mungkin untuk menenangkan dirinya agar tidak panik.


ceklek


"Sayang, tolong buatkan makanan untukku." perintah Fandy dengan senyuman yang begitu manis.


Bukannya malah lega,akan tetapi Perasaan dari mikayla justru tambah Semakin menjadi saat melihat raut wajah biasa dari laki-laki itu.Entahlah intinya selalu mengatakan bahwa seperti itu bahkan lebih mengerikan dari wajah yang terlihat sangat marah.


"sayang, kau mendengarkanku, kan?"tanya Fandy Seraya melangkahkan kakinya untuk menghampiri wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.


Membuat Mikaila yang mendengar itu,seketika menganggukkan kepalanya dengan cepat dan langsung memutuskan untuk keluar dari dalam kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2