
Beberapa hari kemudian....
Kondisi dari Mikaila sudah semakin membaik. wanita yang tengah berbadan dua itu, sudah semakin ceria dari sebelumnya. tentunya itu semua, membuat kedua orang tua, sepupu, beserta sahabat-sahabatnya, merasa begitu senang.
"Tante minta, tolong jaga terus emosi dan juga hati dari Mikaila. karena biasanya wanita yang tengah hamil itu rentan akan stress. Jadi, tante mohon sama kalian jangan pernah ungkit atau bahas masalah yang membuat Mikaila stress. kalian mengerti, kan?"tanya wanita paruh baya itu pada ketiga anak manusia yang berada tepat di hadapannya.
Hana, Sarah, dan juga Aditya seketika menganggukkan kepala secara bersamaan.
"tante tenang saja. Adit akan menjaga Mikaila dengan sepenuh hati."ucapnya penuh dengan keseriusan.
"kami juga akan berjanji untuk menjaga Mikaila dengan baik karena jika bukan karena Mikaila dan juga keluarga, kami tidak tahu nasib kami selanjutnya."ucap Sarah dengan tersenyum teduh.
Sontak saja, Ruri yang mendengar itu segera membalas senyuman mereka. wanita paruh baya itu patut bersyukur putrinya dikelilingi oleh orang-orang yang begitu tulus.
Karena sebuah ketulusan, merupakan hal yang langka di tengah-tengah manusia-manusia yang ambisius dan juga serakah dengan tujuannya masing-masing.
"kalian lagi ngomongin apa?"pertanyaan dari seseorang yang ada di belakang sana, mampu membuat keempat orang itu, menoleh secara bersamaan.
"kepo lo!" ucap Aditya Seraya terkekeh pelan. membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika menatap tajam ke arah laki-laki itu.
"kita nggak lagi ngomongin apa-apa kok Sayang. lagi ngomongin kebiasaan Aditya yang sering buang ingus sembarangan."sahut Ruri.
Aditya yang mendengar itu seketika membulatkan kedua matanya. dan raut dari laki-laki itu, seketika berubah 180 derajat. dan hal itu sukses membuat keempat wanita yang ada di sana, tertawa bersamaan.
Acara tawa mereka terpaksa harus berhenti. saat Winarto, datang menghampiri dan mengatakan, bahwa di depan sana ada keluarga dari Stanley.
Membuat raut wajah dari Mikaila seketika berubah total. dan tak lama berselang, wanita yang tengah berbadan dua itu, merasakan kedua tangannya digenggam oleh seseorang yang berada di kiri dan juga kanan tubuhnya. dan disaat wanita itu menoleh, mendapati kedua sahabatnya menggenggam kedua tangannya mencoba untuk menenangkan.
__ADS_1
"kamu mau menemui mereka atau langsung masuk ke dalam kamar?"tanya Ruri dengan raut wajah sedikit khawatir.
"udahlah tante. lebih baik, Mikaila segera dibawa ke kamarnya saja. Adit tidak rela Jika dia harus bertemu dengan laki-laki seperti Arthur itu." sahut Aditya dengan raut wajah yang sangat kesal.
Namun, tanpa diduga-duga, Mikaila malah mengatakan sesuatu yang membuat mereka semua melongo tidak percaya.
"aku ingin menemuinya sebentar."ucapan itu Terdengar sangat jelas di indra pendengaran kelima orang itu. Membuatnya saling melempar pandang satu sama lain.
"kamu serius sayang?"tanya Winarto meyakinkan. jika dirinya, tidak salah mendengar.
"aku yakin Pah."takutnya dengan keyakinan penuh. dan pada akhirnya, mereka semua pasrah karena yang menjalani Itu semua adalah Mikaila.
''''
Sementara itu di depan pintu terlihat Arthur tengah berharap-harap cemas. takut jika kedatangan dirinya dan juga keluarga langsung akan ditolak oleh keluarga Wardani.
Jika kalian bertanya dari mana keluarga dari Stanley mengetahui bahwa Mikaila berada di rumah itu, jawabannya adalah insting. insting dari Arthur yang mendadak sangat kuat dan juga tajam.
Dan kalian pasti bertanya kenapa keluarga dari Stanley bisa masuk ke kediaman Wardani, jawabannya adalah. mereka semua melihat Winarto keluar dari gerbang untuk menghampiri para penjaga yang ada di sana. dan hal itu, langsung dimanfaatkan oleh keluarga Stanley untuk bertandang ke kediaman itu.
Dan di sinilah sekarang mereka semua di ruang tamu milik keluarga Wardani. sejak tadi, Arthur menjadi sosok laki-laki yang sangat gelisah. lebih gelisah dari pertama kali dirinya bertandang ke rumah itu. dan lebih gelisah, dirinya melamar Mikaila.
"maaf semuanya. kalian jadi menunggu lama."mereka yang ada di ruangan itu, seketika terkesiap saat mendengar suara seseorang yang mengalun lembut.
Sontak saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana, seketika menatap ke arah sumber suara.
"Sayang, aku merindukanmu."ucap laki-laki itu Seraya berjalan untuk menghampiri Mikaila. sontak saja, wanita yang tengah berbadan dua itu melangkah mundur.
__ADS_1
"jangan dekat-dekat!"seru Aditya memperingati.
Membuat langkah dari Arthur, seketika terhenti. Dan dengan segera, laki-laki itu ditarik oleh kedua orang tuanya untuk kembali duduk di tempat semula.
"apa tujuan kalian datang kemari?"tanya Ruri Seraya menatap seluruh orang yang ada di hadapannya saat ini.
"maafkan saya Ma, saya tidak bermaksud untuk menyakiti Putri Mama. saya mohon, berikan kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya."ucap Arthur Seraya menundukkan kepala.
"kami semua sangat kecewa dengan perilakumu Arthur. tapi semua kembali lagi pada Mikaila. Karena Wanita itu, yang menjalani pernikahan ini."dengan suara tegasnya, Winarto mengatakan hal itu.
Perlahan tapi pasti, satu persatu dari dua keluarga itu segera pergi menyingkir dari tempat kejadian. hanya menyisakan dua manusia yang masih terlihat sangat canggung.
hening
Untuk beberapa saat kemudian, suasana di ruangan itu terasa sangat hening dan juga sangat canggung. hingga pada akhirnya, karena Arthur merasa sudah tidak tahan, laki-laki itu segera merangsak maju dan langsung berlutut di hadapan sang istri.
"tolong maafkan aku sayang. aku sungguh menyesali kebodohanku. tapi percayalah, di hatiku saat ini sudah ada namamu."ucapnya Seraya menggenggam jemari lentik milik Mikaila.
Sementara wanita itu sendiri, masih setia dengan aksi bungkamnya. Hatinya merasa begitu bimbang. karena di satu sisi, Mikaila memang masih sangat mencintai laki-laki itu. namun di dalam hati yang lain, Mikaila masih merasa jika suaminya itu masih memiliki perasaan pada mantannya.
"aku tidak bisa."pada akhirnya, Mikaila membuka suara. membuat Arthur seketika menitihkan air mata.
"aku mohon sayang. tolong jangan seperti ini. kau bisa saja menghukumku apapun itu. asal jangan dengan perpisahan ini aku tidak sanggup."ucapnya Seraya berlutut dan mengatupkan kedua tangan di depan dada.
Mulut Mikaila hendak membuka dan mengatakan sesuatu. Namun semua itu urung dilakukan saat mendengar suara keributan di depan sana.
"Ada apa itu?"tanya Mikaila yang langsung berdiri dan melihat dari kembang pintu. rupanya Bukan dia saja yang mendengar keributan-keributan itu. melainkan semua anggota keluarga juga mendengarnya.
__ADS_1
Mereka serentak berbondong-bondong keluar dari kediaman Wardani untuk melihat ada apa gerangan.
"lepaskan aku di mana Arthur!"teriak seorang wanita yang tubuhnya masih terhalang oleh badan pagar yang menutupinya.