
Mikaila menatap sejenak ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh suaminya itu. ekspresinya begitu khawatir dan juga sangat menggemaskan di mata wanita itu.
Perlahan tapi pasti, wanita yang tengah mengandung 6 bulan itu pun menganggukkan kepala.
Arthur dengan segera membawa wanita kesayangannya itu ke dalam pelukan kemudian memberikan beberapa kecupan di wajah cantiknya.
"kamu tenang saja sayang. aku akan berjuang untuk tidak membiarkan wanita itu menyentuhmu."ucapnya mencoba untuk menenangkan.
Mikaila yang mendengar itu pun, hanya tersenyum simpul."Makasih sayang."ucapnya Seraya membenamkan wajahnya di dada bidang milik sang suami.
Membuat Arthur yang melihat itu, seketika tersenyum simpul.
gruukk gruukk
Tiba-tiba saja di tengah-tengah aktivitas romantis mereka, terdengar suara yang begitu nyaring dari dalam perut. hingga membuat mereka berdua sejenak saling tatap. dan tak lama berselang, mereka tertawa secara bersamaan.
*kamu lapar, sayang?"tanya Arthur begitu lembut. seraya tangannya mulai mengusap perut milik wanitanya itu.
Sementara Mikaila sendiri, wanita itu hanya tersenyum dengan sedikit malu-malu. padahal rencananya, wanita itu ingin menahan demonstrasi yang dilakukan oleh para cacing-cacing di tubuhnya agar bisa lebih lama bermesraan dengan sang suami.
Namun, apa daya. mungkin saja cacing-cacing di dalam tubuh Mikaila itu berjumlah sangat banyak sehingga mereka melakukan demo secara besar-besaran hingga membuat perut itu pun akhirnya bunyi.
"kenapa tidak bilang jika sudah merasa lapar?"tanya laki-laki itu Seraya menjawil hidung mancung milik sang istri.
Seketika itu pula, wajah dari Mikaila bersemu merah."aku hanya ingin meluangkan waktu bersama dengan suamiku tercinta. apakah itu tidak boleh?"tanyanya Seraya menampilkan ekspresi wajah yang begitu menggemaskan.
Oh astaga! sungguh saat ini, Arthur ingin sekali menerkam istrinya itu. namun dirinya terlalu takut untuk melukai dua orang yang paling berarti dalam hidupnya itu. perlu kalian tahu, bahwa Arthur sebenarnya ingin sekali menyentuh istrinya itu. Namun semua keinginannya harus terpaksa dihentikan mengingat kondisi terakhir dari Mikaila.
__ADS_1
Lagi pula masih ada waktu walaupun harus menahan untuk beberapa bulan ke depan. yang terpenting sekarang, istri dan calon anaknya bisa hidup damai di sekitarnya.
"boleh sayang tentu saja boleh siapa yang melarang untuk bermesraan dengan suamimu sendiri, hmm?"tanya Arthur dengan ekspresi wajah semakin menahan kegemasan terhadap wanita itu.
Dengan langkah cepat namun juga terkesan sangat lembut, Arthur dengan segera menggendong tubuh milik istrinya itu. hingga sih empunya, berteriak karena refleks.
"Mas turunkan aku!" pekik wanita hamil itu dengan suara tertahan. namun hal itu sama sekali tidak digubris oleh Arthur. karena laki-laki itu tetap melangkahkan kakinya untuk menuju ke lantai bawah. di mana letak ruang makan itu berada.
Sementara Mikaila sendiri, wanita itu semakin menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang milik sang suami. karena yang pasti, wanita itu akan merasa malu yang luar biasa terhadap kedua mertua dan juga Oma Juwita.
"ekhem."
Mikaila dan juga Arthur seketika menoleh dengan kompak saat mendengar seseorang berdehem cukup keras. dan hal itu sukses membuat wanita hamil itu, semakin memanas karena merasa makin malu.
"turunkan aku Mas!"perintah wanita hamil itu Seraya melayangkan tatapan tajamnya.
Sebenarnya semua orang yang ada di sana tidak ada yang memperdulikan atau mempermasalahkan perilaku mereka berdua. Justru, semua orang yang ada di sana merasa sangat bahagia. karena itu berarti, hubungan mereka sudah kembali merekat seperti semula.
"Oma seneng kalau kalian seperti ini." celetuk Oma Juwita Seraya tersenyum simpul.
"Ibu juga senang kalau kalian bisa akur seperti ini. jangan pernah saling meninggalkan jika ada salah satu dari mereka yang melakukan kesalahan. Karena bagaimanapun juga, sebuah pernikahan itu akan diisi dengan berbagai macam suasana. dalam sebuah hubungan itu, pasti ada manis dan juga pahitnya. karena kehidupan yang sebenarnya, dimulai setelah menikah."ucap Claudia panjang lebar penuh dengan nasehat.
Membuat Arthur dan juga Mikaila yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. dan pada akhirnya, mereka semua menyantap makanan itu dengan suasana hikmat dan juga penuh dengan ketenangan.
tiba-tiba saja, seorang datang menghampiri Mikaila dan menyerahkan satu gelas susu. sesaat setelah wanita itu selesai menyantap makanannya.
"aku sudah kenyang Mas."rengek Mikaila dengan ekspresi wajah cemberutnya. saat wanita itu, dipaksa untuk meminum susu ibu hamil. karena sebenarnya, Mikaila juga tidak begitu menyukai susu.
__ADS_1
"Sayang aku mohon sedikit saja, ya?"bujuk laki-laki itu dengan begitu lembutnya.
"iya Mikaila. lagi pula susu ibu hamil itu sangat memberikan pengaruh yang cukup besar pada nutrisi yang akan diserap oleh bayimu nanti."sahut Oma Keisha dengan senyuman tipisnya.
"benar sayang. kamu patut bersyukur. karena di zaman kamu ini, sudah ditemukan minuman khusus untuk ibu hamil. sementara zaman Ibu dulu, kami hanya mengandalkan makan buah-buahan dan juga air putih yang banyak."sambung Claudia dengan begitu lembutnya.
Dan pada akhirnya, Mikaila pun menyetujui apa yang diperintahkan oleh suaminya itu karena melihat betapa giginya mereka dalam membujuk.
****
"selamat pagi semua!"teriak seorang wanita dengan begitu nyaringnya setelah sampai di kediaman Stanley. siapa lagi orang itu jika bukan Debby.
Tentunya Hal itu membuat Arthur yang melihatnya, berdecak kesal Seraya memutar bola mata malas karena melihat tingkah laku dari sepupunya itu.
"ck, kenapa kau pagi-pagi berada di sini?!"tanya laki-laki itu dengan nada suara yang sangat ketus.
"memangnya kenapa? bukankah ini juga rumahku?"tanya Debby dengan santainya.
Sontak saja hal itu semakin membuat Arthur yang mendengarnya, semakin merasa kesal. dan pada akhirnya, laki-laki itu memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. padahal niat awal dari laki-laki itu, ingin mengambilkan air putih untuk Mikaila. Namun ternyata, laki-laki itu malah menemukan sesuatu yang menyebalkan.
"Kau mau ke mana?!"teriak Debby dengan suara nyaringnya. hingga membuat laki-laki itu, seketika menutup kedua telinga karena merasa berdenyut.
tanpa pikir panjang lagi, Arthur segera melangkahkan kakinya untuk menuju kembali ke kamar. namun tiba-tiba saja,...
"hei kamu mau ke mana?!" teriaknya sedikit mematung di tempatnya. namun langkahnya kembali terhenti saat mendengar suara pintu yang ditutup dari dalam oleh seseorang.
Tak lama berselang, laki-laki itu segera berlari sekuat tenaga untuk mendobrak pintu itu saat kesadaran laki-laki itu, kembali.
__ADS_1
"apa yang kau lakukan? buka pintunya!"teriak laki-laki itu semakin menjadi-jadi. dirinya merasa tidak peduli jika nantinya, semoga akan terbangun karena ulahnya itu