Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 105


__ADS_3

Di sinilah Arthur dan kedua sahabatnya itu berada. ketiga laki-laki yang memiliki profesi yang berbeda itu, tampak memandang lurus ke depan. karena di hadapan mereka saat ini, sedang ada pemandangan yang begitu menyejukkan mata bagi setiap orang yang melewati tempat itu.


Namun sepertinya hal itu tidak berlaku untuk Arthur. karena laki-laki yang memiliki tahi lalat di dunia itu, langsung merasakan perih yang luar biasa di dalam hatinya.


Yap benar sekali. di hadapan mereka saat ini, telah terlihat sebuah pemandangan yang begitu manis. di mana Mikaila, tengah bercanda tawa bersama dengan Fandy dan juga seorang anak kecil. yang Arthur sendiri tidak tahu siapa Anak kecil itu.


"apa mereka sudah menikah dan memiliki seorang anak?"tanya Arthur Seraya pandangannya kembali menerawang jauh ke depan.


Morgan dan Bastian yang mendengar itu, seketika mengedikkan bahunya. tanda mereka berdua juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di anta Fandy dan juga Mikaila. "mungkin saja iya,apalagi kalianberpisah hampir dua tahun lebih." sahut Morgan dengan cepat.


Tentu saja hal itu membuat Arthur yang mendengarnya, merasakan nyeri yang luar biasa di dalam hati. laki-laki itu keluar dari dalam mobil hendak menemui Mikaila. namun langkahnya itu langsung ditahan oleh kedua sahabatnya itu.


"santai Arthur santai."tahan Morgan dengan heboh.


"apaan sih?!"sahutnya Seraya menepis kasar tangan dari kedua sahabatnya itu.


"jangan sekarang. nanti saja setelah mereka sama-sama berpisah."ujar Bastian mencoba untuk memberitahu sahabatnya itu.


Dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Yap Arthur kembali ke dalam mobilnya Seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. sesekali laki-laki itu akan menoleh ke arah bangku taman itu. Di mana, wanita yang masih berada dalam tata tertinggi hatinya itu berada.


****


"Moza mau makan ini atau tidak?"tawar Mikaila pada bocah kecil itu dengan mengangkat sebungkus roti yang baru saja keluar dari dalam oven.


"mau tante. Moza mau."sahutnya dengan cepat dan juga girang. tentunya Hal itu membuat Mikaila yang melihat itu, seketika terkekeh gemas. dan dengan segera, membuka bungkus roti itu kemudian memotongnya secara kecil-kecil dan memberikan kepada bocah berusia 2 tahun itu.

__ADS_1


"bagaimana rasanya enak tidak?"tanya Mikaila dengan raut wajah penasaran. karena memang makanan yang saat ini tengah berada di hadapan mereka itu adalah hasil karya tangannya sendiri. itu adalah merupakan hal pertama yang dilakukan oleh Mikaila semenjak kejadian nahas yang menimpa hidupnya 2 tahun lalu.


Yap kasus pemb*n*han mengubah seluruh kehidupannya itu, juga telah mengubah semuanya. bahkan restoran yang sempat dikelola oleh wanita itu, mendadak dialihkan atas nama kedua orang tuanya. karena Mikaila, benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk berbuat apa-apa selain dengan mengurung dirinya di dalam kamar.


Dan hari ini, adalah hari perdananya kembali membuat kue. dan kue itu adalah kue kesukaan Moza. entah kebetulan atau apa, bocah kecil itu sangat menyukai makanan dengan cita rasa manis. seperti roti bakar yang ada di hadapannya saat ini. dan itu, juga merupakan makanan kesukaan dari Mikaila.


"gimana rasanya enak atau enggak?"tanya wanita itu sekali lagi dengan raut wajah kembali dengan penasaran.


"enak banget tante cantik aku suka."balasnya dengan riang Seraya mengacungkan kedua jempol mungilnya menghadap ke arah wanita itu.


Tentu saja hal itu membuat Mikaila yang melihatnya, seketika tertawa dengan renyah. dan hal itu sukses membuat seorang laki-laki yang ada di sana, merasa begitu terpesona. siapa lagi orangnya jika bukan Fandy. dan diam-diam, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, juga ikut tersenyum saat melihat interaksi antara ibu dan anak yang terpaksa terpisah itu.


drrrttt drrttt


Tiba-tiba saja ponsel dari Fandy berdering. dan setelah memeriksa benda pipih itu, Fandy segera pergi dari sana. namun sebelum itu, laki-laki itu berpamitan kepada dua wanita yang ada di hadapannya saat ini.


Kedua sudut bibirnya seketika membentuk sebuah senyuman yang begitu merekah. dan tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu segera berjalan untuk menghampiri Mikaila.


"hai, apa kabar?"tanyanya dengan raut wajah yang ramah tanpa dosa.


Mikaila yang melihat itu, seketika mendongakkan kepalanya dan menatap siapa orang yang telah menyapanya itu.


Seketika itu pula, kedua mata dari wanita itu membelalak sempurna. 'mau apa dia ke sini lagi?'tanya wanita itu membatin


"kita pergi dari sini ya?"ajak wanita itu Seraya menarik tangan Moza. mrmbuat bocah kecil itu, seketika menatapnya dengan tatapan penuh kebingungan.

__ADS_1


"tapi Moza mau di sini aja Tante."balas bocah kecil itu dengan nada polosnya. hingga membuat Mikaila yang mendengarnya, seketika berdecak sebal. akan tetapi mau tidak mau, wanita itu tetap menuruti permintaan dari Moza.


****


Sementara itu di lain tempat, terlihat seorang laki-laki yang telah berbincang-bincang dengan seorang perempuan.


"cepat juga kau melancarkan aksimu itu,"sindir Fandy dengan terkekeh sinis.


Naima seketika menganggukkan kepalanya."kalau ada peluang, kenapa harus menunggu lama-lama?"tanya Naima dengan menaikkan sebelah alisnya.


Fandy yang mendengar itu seperti kau membuang nafasnya kasar."kau memang bisa menggunakan cara ini untuk mengikat Arthur. tapi aku, punya cara sendiri untuk mengikat Mikaila."laki-laki itu dengan tersenyum lebar.


Naima seketika menganggukkan kepala."aku hargai keputusanmu itu. tapi jika kau membutuhkan bantuanku, maka aku akan selalu siap untuk membantumu."setelah mengatakan hal itu, Naima segera pergi dari sana.


Sementara Fandy sendiri, laki-laki itu masih terdiam di tempatnya. dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dada.


****


"sebentar lagi aku akan menikah dengan Naima?"lapor Arthur pada wanita yang ada di hadapannya saat ini.


Mikaila yang mendengar itu, seketika menaikkan sebelah alisnya merasa bingung kenapa laki-laki yang ada di hadapannya saat ini, malah melaporkan hal yang tidak berguna? bukankah mereka sudah tidak memiliki hubungan apapun juga? lalu untuk apa semua itu?


"terus kenapa?"tanya Mikaila dengan nada suara yang sangat datar.


"apakah kau tidak berniat ingin menggagalkan semuanya?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah frustasi. dan hal itu semakin membuat Mikaila, menganga lebar tidak menyangka.

__ADS_1


"apa urusanku?"ketus Mikaila Seraya membuang muka. karena di dalam hatinya yang paling dalam, perasaan yang begitu sakit. saat laki-laki yang ada di hadapannya ini, mengatakan hal itu.


__ADS_2