
Beberapa hari kemudian,....
Kini Mikaila sudah benar-benar siap. wanita cantik itu saat ini tengah berada di dalam kamarnya tengah di makeover oleh make up artis ternama di kota itu. ditemani oleh kedua sahabatnya dan juga sang ibu yang merasa sangat excited saat melihat pemandangan itu.
Yap hari ini Mikaila akan resmi menikah dengan Fandy setelah sebelumnya mengalami prosesi sebelum pernikahan yaitu tidak boleh dipertemukan satu sama lain.
"bagaimana apakah anda suka model make up seperti ini?"tanya salah seorang perias menatap ke arah Mikaila.
Membuat wanita itu seketika menoleh dan mulai memindai satu demi satu gambar-gambar itu. hingga pada akhirnya, pilihan dari wanita itu jatuh pada sebuah make up yang terlihat sangat natural namun berkelas.
Setelah menyetujui apa yang ia inginkan, para orang-orang itu segera mengerjakan apa yang telah mereka rancang sebelumnya. Sedangkan Ruri dan kedua teman Mikaila itu memutuskan untuk keluar dari dalam kamar karena tidak ingin mengganggu konsentrasi dari para orang-orang berprofesional itu.
"aku yakin banget setelah ini pasti Mikaila akan menjadi pusat perhatian."ucap Sarah Seraya tersenyum cerah.
Sementara Hana dan juga Ruri yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepalanya.
"ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Aditya?"tiba-tiba saja tanpa ada angin dan tanpa ada hujan, wanita paruh baya itu bertanya sedemikian rupa.
Hal itu sukses membuat Sarah yang mendengarnya tersedak salivanya sendiri. kemudian langsung mengatur detak jantungnya yang tak mengapa, membuat jantung yang berdebar-debar tidak karuan.
Sarah juga merasa bingung sendiri dengan hatinya saat ini kenapa Harus berdebar-debar saat mendengar nama laki-laki itu disebutkan? sungguh sangat-sangat membingungkan.
"Tante Ini ngomong apa sih? aku nggak ngerti!"ucap Sarah mencoba untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Namun hal itu sama sekali tidak membuat rasa curiga dari Ruri berkurang. justru dengan sikap wanita yang ada di hadapannya itu, Malah semakin membuat yakin semua orang jika Sarah masih memiliki perasaan pada laki-laki itu.
"Sarah kenapa tiba-tiba wajahmu berubah menjadi merah seperti itu?"tanya Hana Seraya menunjuk ke arah wajah milik sahabatnya itu yang semakin lama semakin merah padam seperti kepiting rebus.
__ADS_1
Tentu saja perkataan dari sahabatnya itu, membuat Sarah sedikit merasa gelagapan. dan tak lama berselang, wanita yang sedikit tomboy itu seketika menggeleng-gelengkan kepalanya. Hana sudah tertawa terbahak-bahak saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. sementara Ruri sendiri, wanita paruh baya itu memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Karena menurutnya sangat lama menunggu putrinya selesai didandani. sehinggalah Dia memutuskan untuk pergi dari sana untuk menyiapkan sesuatu yang diperlukan untuk acara di gedung itu.
"Tante dari mana saja?"pertanyaan dari seseorang yang berada di belakang sana, sukses membuat wanita paruh baya itu tersentak. dan tak lama berselang, tubuhnya berputar dan menghadap kepada sumber suara.
"astaga Aditya kenapa kamu ngagetin aja?!"tanya wanita itu Seraya mengeram kesal. namun hal itu malah membuat Aditya seketika terkekeh kecil.
"aku udah panggil tante dari tadi tapi Tante malah nggak denger dan malah jalan aja terus."ucapnya memberitahu.
Ruri yang mendengar itu seketika langsung menatap ke arah keponakannya. dan tak lama berselang, wanita paruh baya itu mengingat akan sesuatu.
"ini karena tante melihat reaksi dari mantan pacarmu."ucapnya setengah berbisik. dua bola mata dari laki-laki itu seketika membulat dengan sempurna saat mendengar penuturan dari wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"maksud anda apa?"tanya Aditya dengan raut wajah kebingungan.
"apakah kamu masih mencintai Sarah?"bukannya menjawab pertanyaan dari sang keponakan, Ruri justru malah balik bertanya menatap ke arah ponakannya itu dengan tatapan yang begitu lekat.
Aditya seketika membuang nafasnya kasar. dan tak berselang lama, segera memalingkan wajah ke arah lain.
"kalau boleh jujur, aku masih sangat mencintai wanita itu. hanya karena kebodohanku, aku kehilangan wanita yang benar-benar aku cintai dengan tulus."ucapnya Seraya menundukkan kepala. sepertinya, laki-laki itu benar-benar merasakan penyesalan yang luar biasa saat ini.
Puk
Aditya menoleh saat merasakan punggungnya ditepuk oleh wanita paruh baya itu.
"kalau kamu memang benar-benar mencintainya, tante mendukungmu untuk mengejarnya kembali raih dan genggam hatinya dan jangan sampai dia terluka kembali."ucapnya penuh dengan nasehat.
__ADS_1
Aditya tampak memejamkan mata. "tapi bagaimana caranya tante. dia saja kalau bertemu denganku, langsung menatapku seperti seseorang yang menatap kepada musuh bebuyutannya."ucapnya dengan raut wajah frustasi.
Ruri yang mendengar itu seketika tersenyum kecil."itu yang namanya tantangan. dan tante harap, kamu bisa menaklukkan tantangan itu."setelah mengatakan hal itu, Ruri segera pergi dari sana meninggalkan Aditya yang masih terdiam di tempatnya.
****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman keluarga Fandy, terlihat semua orang tengah sibuk mempersiapkan hantaran yang akan dibawa ke gedung pernikahan tempat di mana prosesi sakral itu berlangsung.
"apakah semuanya sudah siap?"tanya Fandy sekali lagi mencoba untuk memastikan semuanya.
"sudah Fandy kamu tidak usah khawatir semuanya sudah benar-benar masuk ke dalam mobil."ucap Ratih yang mulai jengah dengan kelakuan yang ditunjukkan oleh putranya itu.
Fandy yang mendengar itu seketika menatap ke arah ibunya dengan tatapan garamnya.
"nggak bisa seperti itu dong Ma, ini adalah pernikahan pertamaku dan aku tidak ingin semuanya kembali kacau seperti dulu lagi. maka semuanya harus serba dipersiapkan dengan mata."sahut laki-laki itu dengan ada suara tidak terima.
Ratih yang mendengar itu seketika membuang nafasnya beberapa kali. sebenarnya wanita itu tidak termasuk orang-orang yang sabar. Jika saja tidak dalam kondisi seperti ini, maka dapat dipastikan bahwa wanita paruh baya itu akan memberikan beberapa siraman rohani untuk putranya.
Namun karena situasinya seperti ini, Ratih mencoba untuk sedikit mengalah. ingat ya guys sedikit mengalah.
"Ya sudah kalau kamu tidak percaya kamu bisa cek lagi."mengucap Ratih Seraya terlalu pergi dari sana Seraya menggandeng tangan Moza yang sudah tampil begitu memukau.
Fandy segara kembali masuk ke dalam rumahnya untuk kembali memastikan apakah semuanya baik-baik saja atau tidak.
Tak lama berselang, laki-laki itu kembali lagi dan langsung masuk ke dalam mobil.
"gimana apakah ada yang ketinggalan?"tanya Ratih dengan nada suara menyindir. namun hal itu sama sekali tidak digubris oleh Fandy. karena laki-laki itu memilih untuk fokus pada jalanan.
__ADS_1