
Beberapa saat kemudian,...
Saat ini, Arthur telah sampai di depan rumah mewah milik kedua orang tuanya. dan dengan segera, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu segera melangkahkan kakinya untuk menemui sang ibu. karena dia yakin, saat ini ibunya tengah berada di ruang tamu.
Karena Wanita itu, pasti tengah mau memainkan perannya. karena memang dari awal Fandy berhubungan dengan Mikaila, wanita paruh baya itu sudah menunjukkan reaksi tidak suka kepada wanita cantik itu. dan sekarang, wanita paruh baya itu justru malah berulah.
Membuat Fandy benar-benar merasa begitu kesal. dengan langkah tergesa-gesa, laki-laki itu segera menghampiri sang Ibu dan langsung melayangkan tatapan tajamnya.
"kenapa kamu menatap Mama seperti itu?"tanya Ratih dengan tatapan yang kebingungan.
membuat laki-laki itu, seketika memutarkan bola mata malas karena melihat tingkah laku dari ibunya yang menurutnya begitu kekanak-kanakan.
"bisa nggak sih, Mama itu gak usah bersikap seperti anak kecil seperti ini?"hanya laki-laki itu Seraya langsung menata tajam ke arah sang ibu.
"maksud kamu apa Mama benar-benar tidak mengerti?"tanya wanita itu dengan raut wajah yang begitu kebingungan.
"please lah Mah, nggak usah sok polos."ucapnya dengan nada suara yang begitu kesal dan ekspresi wajah yang bersungut-sungut. menandakan bahwa laki-laki itu, benar-benar merasa sangat kesal saat ini.
Membuat Ratih yang melihat itu, ketika memutar bola mata malas."Mama hanya tidak ingin, kamu kembali disakiti oleh wanita itu. cukup sekali saja kamu disakiti oleh wanita itu. dan Mama tidak akan pernah rela jika hal itu sampai terjadi kembali."ucapnya dengan ekspresi wajah yang begitu dongkol.
'justru aku yang sekarang ini menyakiti dirinya dengan rasa palsu yang aku miliki.' batin Fandi menjerit.
Fandy seketika mendengus kesal."pokoknya aku tidak mau tahu Mama harus memberikan Restu Mama pada Mikaila. atau jika tidak, aku akan langsung pergi dari sini."ancam laki-laki itu Seraya langsung pergi dari sana.
"ancam aja terus. Menyebalkan!" gerutu minta paruh baya itu Seraya langsung pergi dari sana untuk menuju ke kamar pribadinya.
__ADS_1
Sungguh saat ini, wanita paruh baya itu benar-benar merasa begitu terluka akibat apa yang dilakukan oleh putranya itu. Ratih benar-benar merasa begitu kesal pada wanita yang bernama Mikaila itu. Berani-beraninya, wanita itu mempengaruhi anaknya untuk membangkang ucapannya.
Ratih tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lama-lama. dia akan menyadarkan, putranya kembali. bahwa wanita yang ada di sampingnya saat ini, bukanlah wanita yang baik-baik.
Memikirkan hal itu saja, sungguh membuat emosi dari Ratih benar-benar teruji. dan menjadi langsung bad mood.
****
Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di kediaman keluarga Wardani, Mikaila baru saja melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah mewah itu.
"bagaimana acara makan malamnya?"pertanyaan dari seorang laki-laki paruh baya, membuat langkah kaki dari Mikaila terhenti.
Dengan gerakan cepat, wanita cantik itu segera mengusap air matanya yang mulai jatuh membasahi pipi.
"semuanya baik-baik saja kok."ucapnya dengan nada suara yang sangat lirih. namun hal itu sama sekali tidak dipercayai oleh semua orang yang ada di sana. terutama Aditya. karena laki-laki yang menjabat sebagai kakak sepupu dari Mikaila itu, langsung menarik tangan dari wanita itu dan melihat raut wajahnya.
Tes..
Seketika itu pula, air mata yang hampir saja ditahan oleh Mikaila, tiba-tiba saja meluncur dengan bebas membasahi wajah cantiknya.
Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, semakin merasa terkejut. dengan gerakan spontan, Aditya langsung menarik tubuh dari sepupunya itu dan mendudukkannya tepat di antara mereka semua.
"kenapa Ada apa coba ceritakan."titah laki-laki itu tak terbantahkan.
"se... sepertinya, ke... keluarga dari Fandy, tidak menyukaiku hiks. Bahkan, mamanya Fandi, langsung masuk ke dalam kamar sebelum acara makan malam itu selesai. hiks hiks aku sangat takut. hiks. aku takut, jika aku nekat, aku akan mendapatkan kesialan seperti pernikahanku yang dulu."dengan tangisan yang berderai, pada akhirnya Mikaila mengatakan semua hal pada semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
Dan hal itu sukses membuat Aditya yang mendengarnya, seketika mengepalkan tangannya kuat-kuat. laki-laki itu merasa tertampar dan juga merasa terinjak-injak dengan apa yang dilakukan oleh Fandy terhadap adik sepupunya itu.
"kurang ajar! aku akan membalas rasa sakit hati ini!"dengan emosi yang meluap-luap di dalam dada, pada akhirnya Aditya memutuskan untuk berdiri. laki-laki itu mencoba untuk menghampiri Fandy dan meminta pertanggung jawabannya.
"sudah Fandy tidak usah!"tegur Ruri juga dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.
"tapi Tante,..."suara dan ucapan dari Aditya seketika terhenti saat melihat bagaimana rapuhnya wanita itu. Membuatnya, seketika membuang nafasnya kasar.
"menyebalkan sekali!" gerutunya Seraya melenggang pergi dari sana. Karena laki-laki itu benar-benar tidak bisa melihat seorang wanita menangis. apalagi yang menangis itu, adalah adik sepupunya sendiri. wanita yang seharusnya ia jaga dan ia lindungi. tapi sekarang malah mengeluarkan air mata kesedihan.
"lalu apa yang sekarang kamu lakukan?"tanya nenek Kamila. sesaat, setelah kepergian dari Aditya.
"aku memutuskan untuk melepaskan semuanya. Karena aku tahu, tidak ada kebaikan atas apa yang dilakukan karena keterpaksaan."ungkapnya dengan nada suara yang begitu pilu dan juga pedih.
Ruri dengan segera langsung memeluk tubuh dari putrinya itu dengan sangat erat. karena wanita paruh baya itu, juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Mikaila.
"sabar ya Sayang, semoga saja setelah ini kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih lama dan juga lebih besar sebelum-sebelumnya."ucapnya dengan bercucuran air mata.
Mikaila yang mendengar itu pun hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum kecil.
****
Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di keluarga Stanley, Arthur tengah mempersiapkan pernikahannya bersama dengan Naima dengan raut wajah yang tidak bersemangat dan juga tidak ada gairah hidup.
"kenapa kau tidak semangat sekali?"tanya Claudia menghampiri Putra semata wayangnya itu yang baru saja datang dari luar.
__ADS_1
"apa yang diharapkan dari sesuatu yang dipaksakan seperti ini?"tanya laki-laki itu dengan nada suara lirih dan juga sangat lelah.
Claudia yang mendengar itu sebenarnya merasa begitu kasihan. namun, wanita paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mengikuti saran dari ibu mertuanya. karena Oma Juwita benar-benar sudah merasa malu dengan nama baik dari keluarga Stanley yang benar-benar hancur.