
"jadi, dia adalah putrimu?" tanya Mikaila dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.
Membuat Fandy yang mendengar itu seketika menganggukkan kepala."namanya Moza usianya baru 2 tahun."jelas laki-laki itu Soraya tersenyum simpul.
Dan entah mengapa, dada dari Mikaila terasa begitu berdenyut. ada sesuatu yang sepertinya menohok di dalam sana. sekuat tenaga, wanita itu tersenyum dengan begitu tulus.
"di mana Mamanya?"tanya wanita itu dengan ada suara yang begitu gugup entah apa penyebabnya. karena Mikaila juga tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Fandy yang mendengar itu seketika tersenyum menyeringai. karena momen ini, adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu.
"Dia anak angkatku Mikaila."ucapnya Seraya tersenyum simpul.
degh
Entah mengapa, wanita cantik itu berdetak lebih cepat dari biasanya. dan hal itu, sama sekali tidak dimengerti oleh Mikaila sendiri.
"kenapa dengan jantungku ini? kenapa aku merasa terharu dan juga senang luar biasa?" tanya wanita itu, dengan raut wajah kebingungan.
Sementara diam-diam, Fandy tersenyum dengan penuh arti. ' sebentar lagi,baku akan jatuh ke dalam pelukanku.' ucapnya sumbang.
"kau kenapa Mikaila?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah yang begitu kebingungan.
"ah aku tidak apa-apa."jawab wanita itu dengan nada suara sedikit gelagapan.
Fandy sama sekali tidak menyahut karena laki-laki itu sangat menikmati momen di mana wanita yang ada di hadapannya saat ini begitu terpukul.
"jadi bagaimana? apakah aku bisa menjadi salah satu donatur tetap di sini?" tanya laki-laki itu. setelah mereka terdiam cukup lama. dan tenggelam dalam lamunan masing-masing.
"o..oh, kau ingin menjadi Donatur tetap di tempat ini?" tanya wanita itu, dengan nada suara gelagapan.
__ADS_1
Fandy hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis. sesekali, laki-laki itu, akan mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. dan itu sukses membuat Mikaila sedikit terkejut.
Karena setahu wanita itu, Fandy adalah sosok laki-laki yang sangat dingin dan kasar. tidak mudah di taklukan. walaupun dengan anak kecil sekalipun.
Setelah tersadar dari rasa terkejutnya, Mikaila bergegas menuju ke dalam untuk mengambil berkas yang harus ia serahkan kepada laki-laki itu. untuk persyaratan agar Fandy bisa menjadi donatur tetap.
Setelah selesai dengan urusannya, Fandy memutuskan untuk segera keluar dari tempat itu bersama dengan putrinya.
"terimakasih ya Mikaila, aku harap, kita bisa menjadi rekan bisnis yang profesional. dan maaf atas apa yang pernah aku lakukan padamu beberapa tahun yang lalu." ucapnya dengan raut wajah yang begitu tulus.
Sehingga, membuat semua orang yang ada di sana, seketika sedikit terenyuh.
"aku sudah memaafkanmu Fan. jadi, kau tidak perlu merasa bersalah seperti ini." sahutnya tersenyum lembut.
Kena kau pikir laki-laki itu. mulai sekarang, Fandy akan merubah strateginya. agar dapat memuluskan rencana besarnya itu.
Setelah berbasa-basi, pada akhirnya Fandy memutuskan untuk segera pergi dari sana dengan membawa Moza bersamanya.
Di sepanjang perjalanan laki-laki itu akan tersenyum dengan begitu bahagianya karena dapat bertemu dengan wanita incarannya itu.
Sementara Moza sendiri, gadis kecil berusia 2 tahun itu sudah terlelap di dalam carset yang memang telah disediakan oleh Fandy jika mereka sedang berpergian kemanapun itu.
****
Mikaila masih mematung di tempatnya. dan tak lama berselang wanita itu menangis tersedu-sedu hingga membuat teman-teman dan juga sepupunya datang menghampirinya dengan tatapan yang begitu khawatir.
"Kau kenapa Mikaila?"tanya Sarah dengan raut wajah yang begitu khawatir karena melihat keterpurukan dalam diri sahabatnya itu kini kembali lagi.
Keterpurukan yang sempat menghampiri Mikaila beberapa tahun yang lalu. saat wanita itu, baru saja kehilangan orang-orang tersayangnya.
__ADS_1
"aku tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini padahal aku sudah pernah melihat beberapa anak yang bahkan kehilangan kedua orang tuanya. tapi saat aku melihat gadis itu aku seperti merasakan sakit yang luar biasa. aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada diriku sendiri."sahut wanita itu dengan nada suara terbata-bata.
Aditya dengan segera, langsung menghampiri sepupunya itu. dan memeluknya dengan begitu erat laki-laki jangkung itu mencoba untuk menenangkan adik sepupunya itu agar tidak kembali histeris seperti kemarin-kemarin.
"sudahlah mungkin kamu hanya kecapean saja. lebih baik, kita kembali ke dalam."setelah itu Aditya segera mengajak semua orang untuk segera masuk ke dalam bangunan panti asuhan.
***
"bagaimana pak apakah anak saya sudah bisa keluar dari penjara ini?"tanya Bahrun menetap ke arah salah seorang polisi yang berjaga untuk menangani kasus dari Arthur.
"bisa Tuan apalagi tuan muda Arthur selama berada di penjara sangat berkelakuan baik. sehingga itu memudahkan untuk keluar dari tempat ini.
Bahrun yang mendengar itu, seketika menghela nafas lega. dan dengan segera, memerintahkan kuasa hukum keluarganya untuk mengurus semua keperluan yang diperlukan untuk kebebasan Putra tunggalnya.
Sementara Arthur sendiri laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu sebenarnya masih merasa keberatan dengan tindakan sang ayah. karena laki-laki itu sendiri masih ingin berada di dalam penjara.
Bukan karena merasa betah. melainkan dirinya ingin terlihat sedikit saja oleh Mikaila. jika wanita itu tahu bahwa dirinya sudah bebas, Mikaila pasti akan makin membencinya. dan Arthur sama sekali tidak ingin hal itu sampai terjadi.
Karena sampai saat ini, laki-laki itu masih sangat mencintai mantan istrinya itu. bahkan mungkin untuk beberapa tahun ke depan laki-laki itu akan merasa susah untuk mencari pasangan hidup yang baru karena sangat mencintai Mikaila.
Namun, Arthur tidak bisa berbuat apa-apa Karena laki-laki itu adalah anak laki-laki satu-satunya dari keluarga Stanley sehingga harus siap untuk menggantikan Bahrun di perusahaan keluarganya. karena memang ayahnya itu harus pensiun.
Karena tidak memiliki alasan yang lain, pada akhirnya Arthur dibebaskan hari itu juga dan laki-laki itu saat ini telah berada di dalam mobil bersama dengan kedua orang tua dan juga keluarga yang lain.
"akhirnya kau bebas juga sayang."ucap Claudia dengan senyuman yang begitu mengembang.
Wanita paruh baya itu tak henti-hentinya memeluk tubuh dari putranya itu karena saking merasa bahagia dengan apa yang terjadi saat ini. sementara Arthur sendiri, lebih banyak diam dan sesekali akan melamun.
"Kau masih memikirkan mantan istrimu?"tanya Claudia dengan nada suara hati-hati. karena wanita paruh baya itu tahu, bahwa putranya tengah dalam keadaan sensitif untuk saat ini.
__ADS_1