
Beberapa hari kemudian,....
Kini, sudah satu Minggu Arthur resmi menjadi suami dan wanita yang sangat ia benci. setiap harinya, waktu yang mereka habiskan hanyalah sebuah keributan semata. karena memang, kedua orang itu, sudah tidak ada kecocokan satu sama lain.
Mereka berdua hanya di paksa bersatu demi sebuah ambisi. sungguh, mereka berdua sangat miris sekali.
Seperti sekarang ini, pasangan suami istri itu baru saja keluar dari dalam kamar. namun dengan kondisi yang sudah marah-marah satu sama lain.
"pokoknya, sampai kapanpun, aku nggak mau kalau harus tinggal di sini!" terdengar suara seseorang yang berteriak dengan sangat kencang.
"maksudnya apa?! bukankah kau tahu sendiri, kalau aku adalah anak satu-satunya?!" tanya Arthur tak kalah lantangnya.
"dan aku juga tidak memiliki saudara asal kau lupa!" ucap Naima untuk mengingatkan laki-laki itu.
Arthur yang mendengar penuturan dari wanita yang saat ini telah menjadi istrinya itu, seketika terdiam. karena memang, laki-laki itu tidak akan pernah bisa menang melawan Naima.
"pokoknya, aku tidak mau tahu. kau harus tinggal bersama keluargaku!" ucapnya dengan nada yang sangat lantang.
Oma Juwita yang mendengar itu, seketika memijat pelipisnya yang terasa berdenyut akibat pertengkaran yang terjadi di hadapannya saat ini.
"sudahlah Arthur, baik, kau mengalah saja. jangan pernah kau mendebatkan masalah ini pada dia. karena pastinya, kau akan kalah
Karena sudah merasa begitu jengkel, pada akhirnya wanita tua itu memutuskan untuk segera pergi dari sana tanpa memperdulikan orang tua wajah dan juga ekspresi kesal dari Naima.
__ADS_1
Sementara Claudia sendiri, wanita setengah baya itu juga wanita yang saat ini telah menjadi menantunya itu dengan tatapan yang begitu mematikan.
"jangan pernah kau meracuni pikiran anakku untuk ikut bersama denganmu. Karena bagaimanapun juga, seorang laki-laki itu adalah kepala keluarga dia adalah pemimpin. bukan orang yang dipimpin!"desis tahu dia dengan tatapan yang begitu tajam.
Sementara Naima sendiri, wanita cantik itu malah tersenyum miring. Seakan-akan, tidak memperdulikan ucapan dari ibu mertuanya itu.
"sayangnya aku sama sekali tidak memperdulikannya."ucapnya dengan suara yang begitu enteng. Hal itu membuat Claudia benar-benar sangat merasa geram. wanita paruh baya itu, dengan segera mengepalkan tangannya kuat-kuat. jika tidak mengingat bahwa keluarganya ada di ujung tanduk, mungkin saja, wanita itu sudah habis di tangannya.
"Arthur Ibu tidak akan pernah rela Jika kamu ikut bersama dengan wanita ini!"setelah mengatakan hal itu, wanita paruh baya itu segera pergi dari sana meninggalkan Naima dan juga Arthur yang masih terdiam di tempatnya.
"dasar nenek lampir! kalau aja dia bukan wanita yang berarti bagi Arthur, mungkin saja gue udah memberikan pelajaran padanya."kram wanita itu dalam hati cara yang menatap tajam, pergerakan dari ibu mertuanya itu sampai tidak terlihat oleh tembok yang mudah.
****
"Apakah kamu masih sangat mencintai, Mikaila?" Celetuk Winarto secara tiba-tiba. membuat semua orang yang ada di sana, ketika langsung menoleh ke arah laki-laki paruh baya itu dengan tatapan terkejut mereka.
Terutama Mikaila. wanita cantik itu bahkan hampir saja tersedak salivanya sendiri karena merasa sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ayah kandungnya itu.
Sementara Ruri sendiri, wanita paruh baya itu justru terkekeh pelan saat melihat bagaimana tingkah lucu dan menggemaskan dari Putrinya itu.
"palingan juga sudah merasa tidak sabar ingin menjadi Ibu sambung dari Moza. bener, nggak?"goda wanita paruh baya itu pada putrinya.
"Mama apaan sih?!"tanya mikhayla dengan ekspresi wajah tidak suka. apakah kedua orang tuanya itu melupakan sesuatu hal bahwa keluarga dari Fandy masih belum bisa menerimanya? kenapa bisa-bisanya, mereka malah menggoda Mikaila seperti itu? sungguh sangat menyebalkan!
__ADS_1
"aku juga masih belum tahu. Karena sekarang ini, Putri om dan tante masih sangat bersikeras untuk menjauh dariku. padahal ada seseorang yang sudah tidak bisa hidup tanpa dia."sindir Fandy Seraya melirik ke arah Mikaila dan juga Moza secara bergantian.
"dia juga seperti itu karena ulah dari ibumu. andai saja ibumu langsung memberikan Restu pada Mikaila, pasti dia tidak akan pernah seperti itu."sembur Aditya dengan nada suara yang begitu ketus.
Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, seketika terdiam. karena mereka semua hampir saja melupakan sesuatu fakta. fakta bahwa keluarga dari Arthur masih belum memberikan izin atas hubungan antara Putra mereka bersama dengan Mikaila.
Mungkin hal itu memang sudah sewajarnya. mengingat bagaimana perlakuan wanita itu kepada Fandi pada zaman dahulu. tapi apa mungkin harus seperti itu? bukankah setiap manusia itu pernah melakukan kesalahan? dan saat ini, keluarga dari Mikaila sudah memaafkan atas perbuatan Fandy yang pernah membahayakan gadis itu. dan sekarang, hanya karena penolakan kasar yang dilakukan oleh keluarga dari Mikaila, apa pantas keluarga itu mendapatkan balasan ini? rasa-rasanya masih tidak setimpal!.
"sudahlah jangan main salah-salah aja. lebih baik sekarang, kita lanjutkan makan siangnya saja. setelah ini, kita harus mencari cara agar hubungan antara Mikaila dan juga Fandy, bisa berjalan dengan mulus sesuai dengan rencana kita pada awalnya."sergah Winarto mencoba untuk melerai semua yang ada saat ini.
****
Sementara itu di lain tempat, terlihat seorang wanita yang tengah berlunta-lunta di hutan Citra telah berlari beberapa hari. setelah wanita itu, berhasil meloloskan diri dari beberapa orang yang memang ditugaskan oleh Naima dan juga Fandy untuk menangkap dan menyandera wanita itu.
"hei, tunggu! kau mau ke mana wanita sialan?!"
"jangan sampai, wanita itu lolos. karena kalau sampai itu terjadi, maka kita akan habis di tangan para Bos itu!"
Citra semakin merasa sangat ketakutan. saat wanita itu, mendengar obrolan dari orang-orang itu. sembari terus mengejarnya.
"aku tidak boleh sampai ketahuan sama mereka. karena aku, tidak ingin kembali merasakan kesakitan yang semakin parah!_ gumam wanita itu, di sela-sela kegiatan berlari.
Semakin lama, tenaga dari wanita itu, semakin dikuras aja. membuat laju langkahnya, semakin lama, semakin melemah.
__ADS_1
"hiks hiks hiks. aku sudah tidak kuat lagi ya Tuhan." dengan deraian air mata, wanita itu menangis sesenggukan. sesekali ia akan melihat ke arah belakang untuk memastikan bahwa semuanya masih dalam keadaan aman dan baik-baik saja.