Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~ Bab 134


__ADS_3

Puk


tersentak kaget. saat sebuah tangan menepuk bahunya dari arah belakang. hal itu membuatnya, refleks mengumpat. dan tak lama berselang, telinga dari laki-laki itu seperti tertarik ke samping. yang rupanya, itu adalah perbuatan dari Mikaila. wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri orang itu menjewer telinga milik kakak sepupunya karena berani-beraninya mengumpat seperti itu.


"awwww sakit sakit sakit sakit sakit sakit!" erangnya Seraya mencoba untuk menyelamatkan telinganya agar tidak kembali ditarik oleh wanita itu.


"ngomong apa kamu barusan?"tanya wanita itu dengan tatapan mata yang begitu galak.


Aditya tampak menghela nafas panjang."aku minta maaf aku hanya merasa terkejut saja. karena tiba-tiba, kamu menjewer ku seperti ini."ucapnya mencoba untuk membela diri.


Mikaila yang mendengar itu seketika mendengus kesal. dan tanpa memikirkan apa-apa lagi, wanita cantik itu segera pergi dari sana meninggalkan Aditya yang tampak menggerutu kesal. sementara Hana, wanita yang paling dalam di antara ketiga wanita itu hanya dapat menatap sepupu dari sahabatnya itu dengan tatapan mengejek. seolah-olah sedang mengatakan 'makanya jadi orang gak usah rese."begitulah kira-kira ungkapan yang tersirat dari mata Hana.


Membuat Aditya yang melihat itu, semakin merasa kesal. dengan langkah lebar, laki-laki itu segera pergi dari sana meninggalkan Hana yang masih berdiri di tempatnya dengan sesekali tertawa pelan karena melihat tingkah laku dari sepupu sahabatnya itu.


****


Sementara itu di dalam keluarga Stanley, keributan masih saja terjadi di sana. karena dua wanita penguasa keluarga itu masih belum bisa untuk akur. siapa lagi orangnya jika bukan Claudia dan juga Naima.


Dua wanita berbeda generasi itu saling tatap satu sama lain dengan pandangan yang begitu sengit seolah tidak ingin kalah satu sama lain.


"pokoknya aku minta Kita pindah sekarang."ucap Naima sepertinya tidak bisa diganggu gugat.


"dan sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah membiarkan Putraku ikut bersama denganmu. karena aku bisa memastikan, Kau pasti akan seminar mana jika Putraku ikut denganmu. Bisa-bisa, Putraku akan berubah menjadi babu di keluargamu."ucapnya dengan menatap tajam ke arah wanita itu.


Naima seketika mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. sepertinya wanita itu tidak bisa melawan jika menggunakan cara terang-terangan seperti ini. tak lama berselang, sebuah rencana licik seketika berputar-putar di dalam otaknya.


Dengan mengambil nafas yang begitu dalam, dan menghembuskannya secara perlahan, pada akhirnya Naima memutuskan untuk sedikit mengalah.

__ADS_1


"hufftt baiklah baiklah aku merasa mengalah saja karena sepertinya Arthur juga tidak akan pernah setuju dengan rencanaku ini."dengan tersenyum manis, wanita itu seketika mengatakan hal itu.


Membuat semua orang yang ada di sana seketika bernafas dengan lega. sungguh mereka tidak ada yang menyangka jika mereka semua telah terjebak dalam permainan wanita licik itu.


"aku akan menghancurkanmu Claudia."ucap wanita itu tersenyum dalam hati Seraya menatap tajam ke arah wanita paruh baya itu.


****


"kenapa Oma merasa ada yang aneh dengan tingkah istrimu itu Arthur?"setelah terdiam cukup lama, wanita renta itu memutuskan untuk mengeluarkan asumsinya.


"maksud Oma bagaimana?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah tidak mengerti.


Oma Juwita tampak membuang nafasnya kasar beberapa kali."apakah kamu tidak merasa curiga dengan apa yang dilakukan oleh istrimu itu. kenapa dia bisa secepat ini mengalah pada ibumu? apakah benar kamu tidak merasa curiga sedikitpun?"tanya wanita rendah itu menatap ke arah sang cucu.


Arthur tampak membuang muka ke arah lain. sebenarnya laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu juga merasakan hal yang sama. tapi karena merasa sangat lelah dengan apa yang ada, Arthur memutuskan untuk memejamkan mata dan juga telinga mengabaikan semuanya.


****


Bahkan wanita paruh baya itu mempersiapkan semuanya seorang diri. karena mungkin saja, Wanita itu sudah merasa sedikit terbuka pikirannya. sementara Moza sendiri, bocah kecil berusia dua setengah tahun itu hanya bisa menatap kebingungan pada orang-orang yang berlalu lalang yang tengah mempersiapkan acara pernikahan besok lusa itu.


"Pipi kita nggak ke rumah tante cantik?"Tanya bocah kecil itu dengan raut wajah cemberut. karena Moza, saat ini benar-benar merasa sangat bosan. karena biasanya, gadis kecil itu akan pergi ke rumah Mikaila untuk bermain bersama. tapi sudah hampir satu minggu ini, dirinya tidak diperbolehkan keluar.


Fandy yang mendengar rengekan dari putrinya, seketika menoleh dan tak lama berselang, laki-laki itu pun tersenyum kecil. "sabar ya Sayang, besok kita sudah bisa bertemu dengan tante."ucapnya Seraya mengusap kepala bocah kecil itu dengan begitu lembutnya.


Kedua bola mata dari Moza seketika membulat sempurna dengan ekspresi wajah berbinar saat mendengar penuturan dari sang ayah.


"Pipi beneran, kan?"tanya bocah kecil itu dengan ekspresi wajah menggemaskan.

__ADS_1


Fandy yang mendengar itu seketika menganggukkan kepala. kemudian langsung memeluk tubuh putrinya itu dengan begitu erat.


"Sepertinya aku sudah mulai menyayangi bocah kecil ini."ucapnya dalam hati Seraya memberikan satu kali kecupan di kening Moza.


*****


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah hutan belantara, terlihat seorang wanita yang masih bersembunyi di balik pohon besar yang digunakan untuk melindungi diri dari orang-orang itu.


"jangan sampai aku ketahuan."ucap Citra Seraya menggigil ketakutan. wanita itu bahkan membekap mulutnya sendiri karena merasa begitu ketakutan saat ini.


Wanita itu sama sekali tidak bisa membayangkan jika hidupnya akan berubah menjadi sedramatis ini. dulu hidup mewah dengan berkelimpangan harta, sekarang bisa menjadi terlunta-lunta seperti gembel.


"hiks hiks hiks mama papa Citra merindukan kalian."dengan isakan pelan, wanita cantik itu segera menumpahkan semua rasa yang ada di dalam dadanya.


Sraaakk Sraaakk


Kedua bola mata dari Citra seketika membelalak sempurna saat mendengar suara langkah kaki yang menginjak daun kering itu. dengan sekuat tenaga, wanita itu segera semakin kencang dalam membekap mulutnya sendiri. agar orang-orang itu tidak mengetahui keberadaannya.


"di mana dia kenapa larinya cepat sekali?"


"apakah dia sudah keluar dari hutan ini?"


"itu tidak akan pernah terjadi."


Citra mendengar suara sahutan demi sahutan yang keluar dari mulut orang-orang itu. semakin lama, derap langkah itu semakin terdengar menjauh. Hal itu membuat Citra, merasa begitu lega.


Dengan cucuran air mata yang membasahi wajah cantiknya, wanita itu mulai melangkahkan kakinya untuk merebahkan dirinya dan beristirahat di belakang pohon beringin itu.

__ADS_1


__ADS_2