
Pagi harinya...
Tak seperti biasanya, pagi ini Fandy langsung menuju ke kantor tanpa memperdulikan bocah kecil itu. membuat Moza sendiri, merasa begitu sedih atas berubahnya sikap dari laki-laki yang sebenarnya sangat ia cintai itu.
"Moza kenapa bersedih?"tanya Mikaila Seraya menghampiri gadis kecil itu dan menatapnya dengan tatapan yang begitu lekat.
"Pipi kenapa tidak mencium Moza? apa Pipi sudah nggak sayang lagi sama Moza?"tanya gadis kecil itu dengan nada suara terisak.
Membuat Mikaila yang mendengarnya, sebenarnya merasa teriris. wanita itu juga merasa kebingungan dan juga tidak tahu apa yang mendasari Fandy sampai tega berbuat seperti itu pada Moza.
"mungkin Pipi hanya kecapean saja sayang."beritahu Mikaila pada gadis kecil yang saat ini sudah resmi menjadi anaknya itu.
Moza yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala. "enggak Tante dulu Pipi juga sangat capek tapi Pipi selalu meluangkan waktu untuk Moza. tapi sekarang, sepertinya Pipi sudah tidak sayang lagi sama Moza."gadis kecil itu seketika menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Mikaila yang melihat itu, seketika langsung memeluk tubuh milik Putri sambungnya Seraya mengusap kepalanya dengan begitu lembut.
'keterlaluan kamu Fandy Kenapa kamu bersikap seperti ini?'tanya Mikaila Seraya mengeram kesal.
Tak lama berselang terdengar dengkuran halus dari bibir gadis kecil itu. hingga membuat Mikaila sendiri, seketika terkekeh kecil. kemudian dengan segera, mulai menghitung tubuh mungil dari Moza itu untuk dibawa ke kamar pribadinya.
"kasihan sekali kamu Sayang kenapa kamu mendapatkan perlakuan seperti itu dari seseorang yang sudah berada di dalam hatimu?"tanya Mikaila dengan raut wajah yang begitu sedih.
tanpa sadar, wanita itu sampai menitikan air mata karena merasa sudah tidak tahan dengan situasi saat ini.
****
Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di kediaman keluarga Stanley, mereka baru saja selesai melaksanakan sarapan pagi. tentunya dengan suasana yang sedikit tidak mengenakan. karena orang-orang yang ada di sana saling menatap curiga satu sama lain.
__ADS_1
"Ibu yakin yang meracuni ibu itu adalah istri kesayangan kamu itu Arthur."petunjuk Claudia dengan nada suara yang begitu sini menatap ke arah wanita yang sama sekali tidak dia sukai itu.
"kenapa ibu selalu menuduhku seperti itu?"tanya Naima dengan nada yang begitu sedih.
Membuat Arthur yang mendengar itu seketika langsung menoleh. kemudian secara tiba-tiba, langsung mengusap kepala dari wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Tentunya Hal itu membuat semua orang yang ada di sana seketika merasa begitu terkejut. bahkan kalau dia sekalipun, langsung menutup mulutnya dengan cepat.
Mereka pergi ke seketika saling pandang satu sama lain saat melihat respon dari laki-laki itu.
"apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Arthur bisa berubah menjadi seperti itu?"tanya ketiga manusia itu secara bersamaan dalam hatinya.
Bagaimana tidak merasa terkejut. Arthur yang awalnya sangat membenci Naima, kini malah bersikap lembut terhadap wanita itu. padahal malam tadi, laki-laki itu masih bersikap dingin. tapi lihatlah Sekarang dia sudah bersikap manis pada wanita bahkan beberapa kali, sempat menyuntingkan senyuman tipisnya.
__ADS_1
"apa yang kau lakukan pada Putraku?"karena merasa sudah tidak tahan, Claudia seketika langsung memberikan pertanyaan itu pada Naima.
"memangnya aku melakukan apa?"tanya wanita itu dengan raut wajah kebingungan.