Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 99


__ADS_3

Di sepanjang aktivitas makan siang mereka, Mikaila juga Ruri tak henti-hentinya memandang ke arah Moza. karena gadis kecil itu, sangat mirip dengan Mikaila kecil.


"kenapa dia sangat mirip dengan Mikaila?"tanya Ruri masih bergumam pada dirinya sendiri.


Sesekali wanita paruh baya itu, akan menggelengkan kepalanya. karena menurutnya, hal itu tidak masuk akal. bukankah putri dari Mikaila dan juga Arthur sudah lama tiada? lalu kenapa tiba-tiba saja wanita paruh baya itu memikirkan akan hal itu.


hal yang menurutnya, benar-benar sangat mustahil. mana mungkin gadis kecil yang ada di hadapannya saat ini, adalah putri dari mikaila dan juga Arthur?sungguh itu adalah hal yang tidak masuk. dan lama-kelamaan memikirkan akan hal itu, Ruri merasa kepalanya begitu pusing.


"Mama kenapa?"tanya Mikaila saat melihat gerak-gerik mencurigakan dari ibu kandungnya itu.


"ah, Mama tidak kenapa-napa. sebaiknya, kita lanjutkan saja aktivitas makanan ini."setelah mengatakan hal itu, Ruri kembali pada rutinitas awalnya.


Setelah menyelesaikan acara makan siang mereka, Ruri mengajak bocah kecil itu untuk bermain di taman belakang yang memang telah didesain sedemikian rupa. karena dulu, keluarga dari Wardani telah mengidam-idamkan akan bermain di hari tua mereka bersama dengan putri dari Mikaila.


Namun apa boleh buat, karena sepertinya Tuhan belum mengizinkan hal itu terjadi. sehinggalah, bangunan itu akhirnya terbengkalai.


"kenapa banyak mainan di sini?"tanya Musa dengan matanya tak henti-hentinya memandang ke arah tumpukan mainan itu yang begitu banyaknya.


Sementara Mikaila dan juga Ruri yang mendengar itu, sama-sama hanya tersenyum simpul Seraya sesekali akan saling tetap satu sama lain. dan tak lama berselang, kedua wanita berbeda generasi itu akan menhela nafas panjang.


Tak lama berselang, mereka sama-sama tersenyum saat melihat Moza menatap ke arah mereka secara bergantian.


"kamu mau main boneka itu?"tanya Mikaila Seraya menunjuk ke arah istana boneka yang disusun indah di hadapan mereka saat ini.


Memang, sebegitu niatnya keluarga dari Wardani saat mendengar mereka akan mendapatkan cucu perempuan. Sehingga Winarto dengan semangat mempersiapkan semuanya. namun sayangnya, pernyataan tidak sesuai dengan ekspektasi. sehingga semua barang itu hanya tersimpan rapi di tempatnya.


"woah bagus sekali!"pekik gadis kecil itu Seraya sesekali melompat-lompat kecil karena merasa begitu kegirangan saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Sementara Mikaila yang melihat itu, sekali akan mengusap air matanya yang akan mengalir dari dalam mata indahnya itu.


"tidak usah terlalu sedih. bukankah sekarang kau sudah bahagia?'hanya Ruri yang langsung memeluk tubuh putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


Setelahnya ketiga wanita berbeda generasi itu, segera menuju ke tempat yang mereka inginkan. dan di sana, tercipta kebahagiaan yang begitu sempurna.


****


Sementara itu di kantor milik keluarga Fandy, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, sekali akan menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. karena laki-laki itu merasa sudah sangat berhasil dalam mempermainkan hati dari Mikaila.


"kau benar-benar akan menjadi milikku Mikaila sayang."gumam laki-laki itu seraya memejamkan matanya dan memilih untuk bersandar di sandaran kursi kebesaran itu.


"maaf tuan kita ada meeting."sapaan dari asisten pribadinya itu, membuat Fandy seketika membuka matanya. dan tak lama berselang, melayangkan tatapan tajam ke arah laki-laki paruh baya itu. karena dianggap telah lancang karena mengganggu kesenangannya.


Tentu saja hal itu membuat laki-laki paruh baya itu, seketika menundukkan kepala karena merasa takut dengan tatapan yang begitu mengerikan dari bosnya itu.


Membuat Fandy yang mendengar itu, seketika membuang nafasnya kasar. dan pada akhirnya, laki-laki itu segera bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti langkah dari asistennya itu.


****


Sementara itu di belahan bumi yang lain, terlihat seorang laki-laki tengah terbaring di kursi panjang sebuah club' ternama di kota itu.


"kenapa kamu melakukan ini Mikaila? apa salahku? aku sama sekali tidak pernah melakukan hal yang mereka tuduhkan."rancau laki-laki itu Soraya berjalan sempoyongan dengan tangan yang lain menyentuh kepala yang terasa berdenyut.


"Kau kenapa minum sebanyak ini? kan kalau begini ?!" gerutu Morgan dan juga Bastian yang memang berada di satu sisi tempat bersama dengan laki-laki itu.


Tak lama berselang, salah seorang dari mereka segera menoleh ke arah belakang saat mendengar suara seseorang yang memanggil Arthur dengan suara yang begitu lantang.

__ADS_1


"sebaiknya kalian pulang saja. biar Arthur ini, bersama denganku saja."ucap Naima dengan senyuman yang begitu menghipnotis.


Sehingga membuat mereka berdua, seketika mematuhi perintah dari wanita itu tanpa sadar. dengan segera, melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam klub itu.


Naima segera mengajak mantan kekasihnya itu untuk menuju ke sebuah kamar yang memang disediakan di dalam klub itu.


"malam ini kau akan menjadi milikku."ucap wanita itu dengan senyuman menyeringai.


***


Sementara itu di dalam perjalanan, terlihat Bastian dan juga Morgan baru saja menyadari apa yang mereka lakukan. setelah mobilnya, melesat cukup jauh dari tempat itu.


"kenapa kita malah ke sini?"tanya Morgan dengan raut wajah kebingungan. sementara Bastian sendiri, hanya menatap kebingungan dengan tingkah temannya itu.


Bukankah memang, laki-laki itu yang mengajak dia untuk segera kembali? kenapa malah dia sekarang yang marah-marah? Bastian sampai menggelengkan kepalanya karena merasa aneh dengan sikap dan perilaku dari temannya itu.


Memang hari sudah hampir malam. karena saat ini, waktu hampir menunjukkan pukul 06.00 sore. memang Arthur memutuskan untuk tidak bekerja. karena laki-laki itu, berada dalam mode galau. Sehinggalah, laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu mengajak kedua temannya untuk menuju klub ternama di kota itu.


Sungguh saat ini, Arthur benar-benar menjadi sosok laki-laki yang begitu mengenaskan. Kebahagiaannya, hanya bertahan dalam beberapa tahun saja. dan setelah itu, semuanya diputar balikan menjadi suasana yang begitu menyedihkan.


"dia benar-benar sungguh laki-laki Yang Malang." gumamnya dalam hati Seraya memejamkan mata.


"bagaimana kalau nanti Tante Claudia dan juga Om Bahrun mengetahui akan hal ini? apa yang akan kita katakan nantinya?"tanya Bastian Seraya menatap ke arah Morgan dengan ekspresi wajah cemasnya.


"apa kita balik saja ke tempat itu?"usul Morgan.


"oke kalau begitu. kita balik sekarang."putus Bastian pada akhirnya. dengan segera, mobil itu kembali melaju ke arah klub ternama itu berada.

__ADS_1


Namun sayangnya, ekspektasi mereka tidak semudah dengan realita yang ada. karena tepat di depan sana, ada tawuran antar pelajar.


__ADS_2