Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 104


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Kondisi dari Arthursama sekali tidak ada perubahan laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu masih tetap Murung di dalam kamar.bahkan mungkin saja semakin lama semakin kacau.


Dan hal itu sudah berbagai cara dilakukan oleh keluarga dari Stanley untuk membuat kembali seperti semula.namun pada kenyataannya,sama sekali tidak ada yang berhasil untuk membujuk laki-laki itu.


Karena sampai saat ini pun, Arthur masih tetap sama bersikap seperti beberapa hari yang lalu. sontak saja, hal itu membuat semua orang yang ada di sana merasa begitu pusing tak terkecuali Oma Juwita.


ceklek


Pandangan mata dari semua orang, seketika teralihkan. saat menyaksikan, dalam kamarnya itu terbuka.


"Kau mau ke mana Arthur?Bukankah ini sudah malam tanya Oma Juwita dengan raut wajah heran.


Membuat laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu seketika menoleh."aku hanya ingin pergi sebentar."sahutnya dengan menoleh sekilas ke arah wanita renta itu.


"apakah kau ingin mengulang dengan kejadian beberapa hari yang lalu? apakah kau belum cukup untuk membuat malu keluarga Stanley?"tanya wanita renta itu dengan nada suara yang begitu dingin.


tentunya Hal itu membuat Arthur yang mendengarnya seketika mendengus kesal. Namun demikian, laki-laki itu tidak bisa berbuat apa-apa.hingga pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk masuk dalam kamar.


Sepertinya Arthur memutuskan untuk mengubah rencananya laki-laki itu akan mendatangi Mikaila esok hari.


"Iya mungkin itu lebih baik daripada saat ini suasananya juga tidak memungkinkan untuk aku pergi."gumamnya kembali merebahkan diri di atas tempat tidurnya.


****


Sementara itu di lain tempat lebih tepatnya di keluarga Wardani terlihat Mikaila tengah menghubungi seseorang dan berbincang-bincang dengan orang itu dalam suasana hati yang begitu hangat.


Pasti kalian sudah bisa menebak bukan siapa orang itu jika sudah berbincang-bincang dengan hangat pada putri satu-satunya dari keluarga Wardani? Yap Bila saat ini tengah berbincang-bincang dengan Fandy dan juga Moza.

__ADS_1


Pasti semua orang tidak akan pernah menyangka jika seorang yang pernah bermusuhan di masa lalu dan pernah berniat untuk mencelakai salah satunya, kini malah teman akrab.sama seperti Mikaila Karena Wanita itu juga awalnya tidak pernah menyangka jika akan bersikap hangat dengan Fandy.


"Moza di sana Lagi apa Sayang? tanya Mikaila pada bocah kecil berusia 2 tahun itu.


"Saya lagi menulis dan menggambar tante Musa akan memberikan kerjaan ini pada tante untuk memberikan nilai."ucap gadis kecil itu dengan nada yang begitu antusias hingga membuat mikaila yang mendengarnya seketika terkekeh pelan.


"Boleh banget sayang tante besok juga tidak ada kerjaan kok kamu datang ke sini pagi aja ya, supaya kita bisa sarapan bareng."ucap wanita itu dengan lembut dan juga penuh kasih sayang.


Tampak dari seberang sana, Moza tampak menatap ke arah Fandy dengan tetapan meminta izin dan hal itu sangat menggemaskan di mata Mikaila. andai saja dirinya ada di sana mungkin akan langsung memeluk tubuh dari bocah mungil itu.


"apakah tidak apa-apa jika kita ke sana terus-menerus?"tanya Fandy yang saat ini telah mengalihkan pemandangan dari Moza kepada dirinya.


"memangnya ada apa?"tanya Mikaila Seraya mengerutkan kening karena merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh laki-laki itu.


"aku takut mengganggu Mikaila. jika kau memang tidak mau diganggu besok, aku tidak akan pernah mengantarkan Moza lagi padamu."ucapnya Seraya tersenyum simpul.


"jangan pisahkan aku dengan Moza. aku sudah sangat menyayanginya."pinta wanita itu dengan nada bersungguh-sungguh. dan tak lama berselang, kedua sudut matanya menitihkan air mata.


Dan hal itu sukses membuat Fandy yang melihatnya,merasa begitu terkejut dengan Respon yang dimiliki oleh Mikaila. karena pada awalnya, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu berniat untuk mengerjai saja. namun Fandi sama sekali tidak menyangka jika Respon yang ditunjukkan oleh Mikaila akan sebesar ini.


"eh aduh jangan nangis dong emangnya aku keterlaluan Ya? kalau gitu aku minta maaf Aku nggak bermaksud untuk buat kamu nangis."entah mengapa Fandi merasa begitu panik saat melihat respon yang ditunjukkan oleh Mikaila.


"jadi besok kamu bisa kan bawa Moza?"tanya wanita cantik itu dengan raut wajah memohon.


Dan pada akhirnya Fandy tidak bisa untuk menolak permintaan dari wanita itu. sontak saja hal itu membuat Mikaila merasa girang luar biasa.


"halo Moza cantik! besok kita ketemu lagi, ya?" sapa wanita itu dengan nada girangnya. Mikaila, seketika memejamkan mata karena sudah merasa tidak sabar untuk bertemu dengan Moza esok hari.


Dan hal itu diam-diam disaksikan oleh Winarto dan juga Ruri. mereka bahkan harus saling tatap satu sama lain karena melihat tingkah aneh dari Putri mereka itu.

__ADS_1


"Apakah itu tidak apa-apa? apakah Mikaila perlu dibawa untuk berobat ?"tanya Ruri yang mulai cemas dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh putri tunggalnya itu.


Winarto yang mendengar penuturan dari istrinya itu seketika menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya itu belum perlu karena ini masih di batas wajar ."sahut laki-laki paruh baya itu segera mengajak sang istri untuk beristirahat.


Pagi harinya....


Terlihat dari kediaman Stanley seorang laki-laki sudah tampak rapi dengan berpakaian formal. karena sepertinya laki-laki itu akan pergi ke kantor.


"kau mau berangkat sama Bapak atau sendiri?"tanya Bahrun mencoba untuk memecah keheningan saat mereka menyantap makanan.


"Arthur sendiri Saja. lagi pula arthurmu bertemu dengan Morgan dan juga Bastian sebelum menuju ke kantor."ucapnya memberitahu.


Bahrun hanya menganggukkan kepalanya saja. karena laki-laki paruh baya itu, tidak terlalu ingin masuk campur terhadap tanah dari putranya itu.


Berbeda dengan Claudia yang menatapnya langsung dengan tatapan tidak suka saat putranya itu mengatakan nama dari kedua sahabat Arthur itu.


"mau apa lagi kau ketemu dengan mereka?"tanya Claudia dengan nada yang sangat ketus.


Membuat Arthur yang mendengar itu seketika menatap ke arah ibunya dengan tatapan heran.


"memangnya ada apa kenapa aku tidak boleh bertemu dengan mereka?" heran ArthurSeraya menatap ke arah sekeliling tempat itu.


"huh bukankah mereka yang telah menjerumuskanmu sampai kau harus bertanggung jawab pada wanita itu?"tanya kau dia Seraya memalingkan muka ke arah lain.


Arthur yang seakan paham dengan apa yang dimaksud oleh ibunya itu, seketika hanya dapat membuang muka.


"mereka tidak bersalah aku yang salah karena terlalu bodoh."ucapnya Setelah sekian lama terdiam.

__ADS_1


__ADS_2