
Saat ini, susana di rumah sakit itu terlihat sangat tegang. Apalagi di depan ruang pemeriksaan yang menangani Mikaila. suasananya begitu mencekam dan juga menakutkan.
Bahkan Ruri sesekali akan jatuh pingsan karena tidak tahan melihat penderitaan yang dialami oleh Putri kesayangannya itu.
"Mah, Mama ya sabar ya,"laki-laki paruh baya mencoba untuk menenangkan sang istri agar tidak semakin histeris.
"kenapa semuanya ini bisa terjadi Arthur? kenapa?!"bentak wanita paruh baya itu dengan dada naik turun. yang menandakan, bahwa wanita paruh baya itu tengah dalam keadaan emosi yang luar biasa.
Seketika itu pula, Arthur menundukkan kepala."maafkan aku mah aku memang lalai menjaga Putri kalian."ucapnya penuh dengan penyesalan.
Winarto yang mendengar itu hendak melayangkan pukulannya kembali. namun hal itu segera ditahan oleh Ruri.
"jangan seperti ini Pah. ini tidak akan pernah mengembalikan Putri kita ke keadaan semula. yang harus kita lakukan saat ini, adalah berdoa memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan anak dan juga cucu kita."ucap Ruri mencoba untuk menasehati.
Walaupun di dalam hati wanita paruh baya itu, juga sama seperti Winarto hancur berkeping-keping tak tersisa.
Winarko seketika terdiam. laki-laki paruh baya itu, seketika mendudukkan dirinya dengan lemas di kursi panjang yang ada di depan ruangan itu. tak lama berselang, tubuh Winarko bergetar dengan sangat hebat. disertai dengan isak tangis yang sangat memilukan.
Bayangkan, hati orang tua mana yang rela melihat putri semata wayangnya kesakitan di dalam sana. semua pasti tidak akan pernah menginginkan hal itu terjadi. begitu pula dengan begitu pula dengan Winarto dan juga Ruri mereka tidak ada yang rela hal itu terjadi.
Namun mereka tidak bisa melawan takdir. karena mereka percaya, apa yang terjadi saat ini adalah adanya campur tangan Tuhan. sehingga Ruri dan juga Winarto, harus mengikhlaskan semuanya.
Tak lama berselang terdengar suara langkah kaki yang begitu ramai menghampiri Arthur dan yang lain yang masih terdiam di tempatnya.
"bagaimana keadaan cucuku?"tanya Oma Juwita dengan nada suara serak.
"masih ada di dalam Oma."sahut Arthur dengan raut wajah pucatnya.
Seketika itu pula pandangan dari semua orang yang baru saja tiba, tertuju pada laki-laki itu. dan sesaat kemudian,..
__ADS_1
plak
satu tamparan keras seketika mendarat mulus di wajah tampan milik Arthur. membuat mereka semua yang ada di sana, seketika terlunjak kaget. tak terkecuali Bahrun dan juga Claudia yang juga ikut ke sana.
"kenapa kau bodoh sekali, hmm?"tanya Oma Juwita Seraya mencengkeram kerah baju milik laki-laki itu.
Membuat Arthur yang mendengarnya, sedikit mendongakkan kepalanya. saat tubuh laki-laki itu, sedikit ditarik ke atas oleh wanita sepuh itu.
"tolong jangan seperti ini Bu. ini semua musibah tidak ada seseorang pun yang menginginkan hal buruk ini terjadi."ucap Claudia mencoba untuk menenangkan Ibu mertuanya.
Oma Juwita yang mendengar itu, seketika mendengus kesal. dan tak lama berselang, wanita sepuh itu segera memalingkan wajah dan memutuskan untuk ikut duduk bersama dengan orang-orang yang ada di sana.
Mereka semua seakan larut dalam kesedihan. bahkan Arthur sesekali akan melihat ke arah lampu masih menyala atau tidak. dan tak lama berselang, lampu di ruangan itu pun padam. yang menandakan bahwa proses persalinan sesar itu pun selesai.
Tentunya hal itu membuat Arthur yang melihatnya, seketika bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri pintu ruangan operasi itu. disusul oleh semua orang yang ada di sana.
"semua baik-baik saja Tuan. tapi kami harus memeriksa putri Anda terlebih dahulu. karena dia, terlahir dalam keadaan prematur sehingga keadaannya berbeda dari bayi-bayi biasanya."jelas dokter itu Seraya meletakkan bayi mungil itu ke dalam sebuah kotak yang Baru saja datang dibawa oleh dua orang perawat.
Mereka semua yang ada di sana, segera mengerubungi kotak kaca itu dengan ekspresi wajah yang tidak bisa digambarkan. "kalau begitu, kami akan bawa bayi ini ke ruangan khusus untuk bayi prematur. permisi semuanya!"setelah mengatakan hal itu, dokter dan juga dua perawat itu segera pergi dari sana.
Meninggalkan Arthur yang memandangi kepergian dari bayi perempuannya itu untuk segera mendapatkan pertolongan.
"Terima kasih Tuhan. setidaknya engkau memberikan kemudahan di situasiku yang sulit seperti ini."ucap laki-laki itu Seraya mengusap air matanya yang mulai berjatuhan di area pipinya.
Tak berselang lama dari itu, pintu ruangan operasi kembali terbuka. dan tak berselang lama, suara brangkar didorong memenuhi indra pendengaran mereka.
"berikan perawatan terbaik untuk putri saya. saya akan membayar berapapun yang kalian minta. asalkan putri saya, mendapatkan perawatannya yang terbaik."ucap Winarto dengan ekspresi wajah yang sukar untuk digambarkan.
Arthur dan juga kedua orang tuanya, seketika berjalan untuk menuju ke ruang khusus untuk bayi prematur. mereka bertiga, seketika menangis dalam diam karena merasa bahagia dapat melewati masalah seberat ini.
__ADS_1
"siapa yang berani mengusik keluarga putraku?"tanya Bahrun Soraya mengeraskan rahangnya.
Arthur yang mendengar itu seketika menggelengkan kepala."anak buahku, masih belum bisa untuk mencari keberadaan mereka. karena mereka semua, seperti manusia-manusia yang hilang tertelan bumi."ucapnya mencoba untuk menjelaskan.
"apa ini semua pekerjaan dari Naima?"tanya Claudia kepada putranya itu.
"sepertinya tidak. karena yang aku tahu, Naima sudah dibawa oleh keluarganya ke benua Eropa semenjak kedua orang tuanya membeli hukum waktu itu."jelas Arthur sedikit mengingat tentang informasi yang baru aja didapatkan dari anak buahnya.
"apa ini perbuatan Citra?"tanya Claudia tiba-tiba.
"tidak Bu. dia sekarang ada di penjara bersama dengan Fandy."
"lalu siapa yang melakukan ini jika bukan mereka?"tanya Claudia yang merasa semakin frustasi dengan masalah yang dihadapi oleh putranya itu.
"untuk saat ini, aku masih mencari informasi yang kuat untuk mencari tahu siapa dalang sebenarnya."jawab Arthur dengan menghela nafas panjang.
Tak lama berselang, ketiga orang itu segera pergi dari sana. meninggalkan ruang perawatan bayi itu dengan dada yang berkecamuk hebat menahan semua rasa.
Hingga tak sadar, ada sepasang mata yang menyaksikan percakapan mereka dari awal hingga akhir itu dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan.
"kalian tidak akan pernah bisa menangkapku."ucapnya Seraya tersenyum menyeringai.
"yang jelas, selama aku masih ada aku akan terus menjadi bayang-bayang hitam untuk keluarga kalian."ucap Naima segera pergi dari sana.
****
"Naima, Kau dari mana saja?"tanya sang Ayah dengan raut wajah khawatir.
Entah bagaimana caranya, yang jelas saat ini Naima telah berada di negara belahan Eropa dan berhadapan dengan kedua orang tuanya yang berada di ruang tamu.
__ADS_1