Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 96


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,...


Setelah mendapatkan informasi secara tidak langsung dari sang ibu, membuat Fandy semakin gencar untuk mendekati Mikaila. bahkan terkadang, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, sengaja menunggu kedatangan dari wanita yang memang telah ia idam-idamkan selama ini.


Tentunya itu dilakukan, bersama dengan Moza. karena memang, bocah kecil berusia 2 tahun itu sangat menyukai dan dekat sekali dengan Mikaila. ditambah lagi, wanita cantik itu akan selalu menangis jika berhadapan dengan putrinya. membuat Fandy, semakin merasa di atas angin.


"sebentar lagi, kau benar-benar akan menjadi milikku."ucap laki-laki itu dalam hati Seraya tersenyum penuh makna dari dalam mobilnya.


Saat ini, Fandy dan juga Moza, tengah berada di seberang jalan yang tidak jauh dari tempat Mikaila saat ini berdiri. memang sepertinya, laki-laki itu sudah merasa sangat kecanduan dengan sosok seorang Mikaila Sahara Putri Wardani. bahkan laki-laki itu, melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang dia inginkan saat ini. dan sialnya, keinginan terbesarnya saat ini adalah bersama dengan wanita itu. dan hal itu tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. termasuk juga dengan kedua orang tuanya.


"nanti setelah wanita yang ada dalam ponsel Pipi ini keluar, nanti Moza juga ikut keluar ya."perintah Fandy dengan begitu lembut. membuat bocah kecil itu, hanya menganggukkan kepala dan tersenyum simpul ke arah depan sana.


("bagaimana apakah kau yakin akan berhasil?")


Terdengar suara seseorang dari seberang sana melalui sebuah alat yang ditempelkan di Telinga laki-laki itu.


Fandy yang mendengar itu, seketika menembus kesal."tentu saja berhasil kau pikir aku ini cemen."semburnya dengan galak.


Sementara orang yang ada di seberang sana, seketika hanya tertawa sumbang. ("oke kalau begitu. kita akan memulai rencana kita masing-masing. dan jangan lupa, untuk mengabari satu sama lain jika semua pekerjaan yang kita lakukan telah sama-sama berhasil.")

__ADS_1


"hmm." Fandy hanya menjawabnya dengan berdehem kecil dan sekenanya saja. setelah berbincang-bincang cukup lama, pada akhirnya laki-laki itu kembali fokus pada satu. yang tidak lain dan tidak bukan, adalah sosok dari seorang Mikaila. mau dilihat dari sudut manapun, wanita itu tetap saja terlihat begitu cantik dan juga menawan.


Membuat Fandy yang melihat itu, semakin merasa tidak sabar untuk bisa bersanding dengan wanita itu secepatnya.


Namun sayangnya, untuk saat ini dirinya harus benar-benar bersabar. Karena Wanita itu sulit sekali untuk didekati. lagipula Dia memiliki Moza. yang bisa dia gunakan sesuka hatinya dan sewaktu-waktu.


Sementara itu di dalam rumah panti itu, terlihat Mikaila yang tengah sibuk berbincang-bincang dengan beberapa orang yang diperintahkan oleh Winarto untuk mengurus Pati itu. karena memang, semakin lama pantai itu semakin banyak sekali kedatangan bocah-bocah kecil yang tidak berdosa. Hal itu membuat Mikaila yang melihatnya, merasa miris dan juga senang di waktu bersamaan.


Miris karena banyak sekali orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan membuang darah daging mereka seperti sebuah barang. tapi juga merasa senang karena semakin lama, pastinya itu semakin berkembang dengan sangat pesat. dan itu membuat hatinya terasa lebih senang karena banyak anak-anak yang tertolong atas berdirinya panti asuhan miliknya itu.


"berarti ini sudah semua, kan?"tanya wanita cantik itu Seraya menatap ke arah beberapa petugas yang ada di sana yang tengah memberikan imunisasi dan juga beberapa obat pada bayi dan juga balita yang ada di sana.


Dan pada akhirnya wanita itu memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu karena tidak ingin terlalu dipuja oleh para pekerja dan juga para petugas itu.


Dan setelah beberapa saat kemudian, Mikaila tertegun di tempatnya. saat kedua matanya tidak sengaja melihat Fandy dan juga Moza datang berjalan menghampirinya.


Tubuhnya terasa lemas seketika hingga beberapa saat kemudian, hampir saja tumbang. beruntungnya, wanita itu segera ditangkap oleh Fandy. dengan raut wajah panik, laki-laki itu segera berteriak pada orang-orang yang ada di dalam sana untuk segera keluar dan memeriksa kondisi dari Mikaila.


Laki-laki itu benar-benar terlihat begitu panik saat melihat raut wajah pucat dari wanita yang sangat ia cintai itu. dia tidak menyangka. efek dari pertemuan antara dirinya dan juga Moza, dapat menimbulkan sedahsyat itu.

__ADS_1


"apakah kesakitan dari Mikaila begitu sangat kuat? sehingga dirinya akan merasa linglung dan juga gemetar jika bertemu dengan Moza Karena rasa bersalah yang luar biasa?"pertanyaan demi pertanyaan seketika berputar-putar dalam kepala laki-laki itu.


Namun secepat kilat, Fandy membuang semua pikiran itu jauh-jauh."bukankah itu adalah memang tujuanku dari awal? lalu kenapa aku harus merasa kasihan pada wanita ini?"tanya laki-laki itu merasa begitu bodoh dan juga sesekali akan merutuk kecil pada dirinya sendiri.


"kenapa dia bisa pingsan seperti ini?"tanya Aditya menatap ke arah Fandy dengan tatapan mengintimidasi.


"aku tidak tahu apa-apa aku juga baru datang dan langsung menghampiri Dia berjalan dengan Moza. lalu setelah itu tiba-tiba saja, sepupumu ini limbung. Mungkin saja dia belum makan." sahut Fandy dengan raut wajah polos.


"ck," Aditya mendecak kesal. kemudian menatap ke arah sepupunya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"kamu ini sebenarnya kenapa sih? masa cuma karena melihat anak dari seseorang yang berada dalam masa lalu kamu? membuat kamu seperti ini? jika memang benar, semua ini tidak masuk akal Mikaila."sembur laki-laki itu dengan galak.


membuat wanita itu yang awalnya masih dalam posisi berbaring, seketika menatap tajam ke arah sepupunya itu.


"kamu bilang apa tadi? tidak masuk akal? apa yang aku rasakan ini memang tidak masuk akal. aku terlalu lebay dan juga terlalu terbawa suasana. tapi asal kamu tahu, aku sangat merasa bersalah dengan kejadian waktu itu. Jika saja aku tidak menurut keinginan dari atur untuk pergi ke ruang rawat, dan memintanya untuk membelikan pompa asi itu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini!": semburnya dengan lelehan air mata yang membasahi pipi.


Tentunya Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, terbelalak kaget. mereka kompak menatap tajam ke arah Aditya yang dirasa sembarangan dalam berbicara.


"dasar bodoh!"hardik Sarah Seraya langsung menghampiri sahabatnya itu yang tengah menangis tersedu-sedu saat ini.

__ADS_1


"sudahlah tidak usah dipikirkan omongan dari Aditya. kamu kan tahu sendiri, dia itu kan rada-rada._ucap wanita itu mencoba untuk menenangkan sahabatnya. sesekali akan menatap tajam ke arah Aditya. hingga membuat laki-laki itu, seketika menundukkan kepalanya.


__ADS_2