
Beberapa waktu kemudian,...
Kini Mikaila tengah berada di dalam kamarnya. wanita cantik itu tengah bersiap-siap. karena sebentar lagi, seseorang akan menjemputnya. siapa lagi orangnya jika bukan Fandy. laki-laki itu memaksa Mikaila untuk ikut bersamanya menghadiri acara pernikahan dari Arthur.
Sebenarnya Wanita itu benar-benar sangat malas jika harus menghadiri acara yang menurutnya sangat tidak penting itu. tapi apa boleh buat tuduhan dari Fandy yang mengatakan Dirinya belum bisa move on, membuat wanita itu bertekad kuat ingin membuktikan bahwa pernyataan dari laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, tidaklah benar.
Enak saja dirinya dikatain manusia gagal move on. bahkan, sejak wanita itu tahu bahwa Arthur menjadi pelaku yang membuat dirinya kehilangan sang buah Hati, Wanita itu benar-benar sudah move on dan mengubur semua perasaan itu dalam-dalam.
Tok tok tok tok
Lamunan dari Wanita itu seketika teralihkan saat mendengar suara seseorang yang mengetuk pintu dari luar kamarnya.
"Mikaila, apa kamu sudah siap?"suara dari Ruri membuat atensinya teralihkan.
"sudah Mah sebentar lagi aku siap."sahut wanita itu Seraya mulai merapikan apa yang perlu dirapikan.
Dan setelah semuanya siap, wanita cantik itu segera mengatakan kakinya untuk menghampiri pintu kamarnya dan mulai keluar dari sana.
"kamu serius ini mau ikut Fandy ke acara pernikahan Arthur?"tanya Ruri dengan raut wajah yang begitu cemas.
Mikaila yang mendengar pertanyaan dari ibundanya itu, seketika menganggukkan kepalanya dengan cepat."aku sudah siap Ma. Lagi pula, kenapa aku harus merasa tidak siap? bukankah kami sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi?"tanya wanita itu menatap ke arah sang ibu.
Ruri yang mendengar itu seketika tersenyum simpul. kemudian segera mengusap punggung dari Putri semata wayangnya itu. Ruri benar-benar merasa bangga pada putrinya. karena sudah bisa melepaskan sedikit beban yang pernah mengganjal di kepala Mikaila. dan bahkan, tempat membuat wanita itu terpuruk beberapa tahun kemudian.
__ADS_1
Beruntungnya Ruri dan juga Winarto, segera bertindak cepat dengan mengusulkan pada putrinya itu untuk mendirikan panti asuhan. agar wanita itu, tidak merasa kesepian atau hampa hidupnya karena kehilangan seseorang yang kali ini Sayang di dunia ini.
Mikaila segera melangkahkan kakinya untuk menemui Fandy dan juga Moza. yang ternyata, dua orang itu sudah menunggu dan sesekali berbincang-bincang pada nenek Kamila. dan sesekali, gadis kecil itu akan digoda oleh wanita rentah itu. hingga membuat tawa, mereka bersahut-sahutan.
"kamu sudah siap?"tanya Fandy. saat laki-laki itu, tak sengaja menoleh dan mendapati wanita yang mulai ada dalam hatinya itu berdiri tepat di samping Ruri.
Mikaila yang mendengar itu pun, seketika menganggukkan kepala. dan tak lama berselang, langsung menggendong tubuh mungil dari Moza dan membawanya masuk ke dalam mobil yang memang terparkir tepat di halaman rumah keluarga Wardani.
"jaga putriku dengan baik!"pesan Winarto pada Fandy. saat laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, hendak melangkahkan kakinya menyusul Mikaila yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Om tenang saja dia akan aman bersamaku."sahud Fandy dengan mantap. karena memang, perkataan itu keluar dari mulut Fandi dengan kesungguhan hati yang luar biasa.
****
Dan sebelum hal itu terjadi, Arthur masih sempat berharap bahwa Mikaila datang dan menghalangi rencana itu. karena laki-laki itu masih mengharapkan bisa terlepas dari genggaman wanita iblis seperti Naima.
Beberapa saat kemudian,...
Semua orang saat ini tengah berada tepat di ruangan yang begitu luas dengan konsep warna yang begitu elegan dan juga menarik. semua pasang mata tengah menatap ke arah dua pasang pengantin yang sebentar lagi akan sah menjadi suami istri. ekspresi wajah keduanya, benar-benar sangat kontras.
Bagaimana tidak? saat pengantin wanita tersenyum begitu lebarnya dan juga bahagia yang luar biasa, pengantin prianya justru malah menatap datar dan juga dingin. pandangan mata itu, seperti tidak ada gairah hidup di dalamnya.
Bahkan sesekali, Arthur akan disenggol oleh Naima agar merubah ekspresi wajahnya. namun hal itu sama sekali tidak berhasil. Karena laki-laki itu tetap melakukan hal yang sama. yaitu, bersikap dingin dengan wajah yang begitu datar.
__ADS_1
Sampai beberapa saat kemudian, kedua mata dari Arthur tidak sengaja melihat penampakan dari seorang wanita yang sebenarnya sangat ia cintai. dan sampai saat ini pun, masih berada tepat di dalam hatinya.
Senyumnya seketika merekah laki-laki itu hendak berdiri dan menghampiri wanita pujaan hatinya itu. namun seketika terhenti saat melihat pergelangan tangannya, dicekal oleh seseorang. hingga membuatnya, seketika menoleh.
"mau ke mana kau?!"ada wanita itu dengan tatapan yang begitu tajam membunuh sampai ke jantung.
"lepaskan aku!"bukannya menjawab, laki-laki itu justru malah berbalik menatap tajam wanita yang ada di sebelahnya itu.
"apa kau ingin membuat acara kita berantakan? jika memang iya, maka bersiap-siaplah semuanya akan hancur!" desisnya mencoba untuk memperingati laki-laki itu.
Dan sepertinya hal itu berhasil dilakukan. karena laki-laki itu kembali ke posisi awalnya dan langsung menatap kepada pemuka agama dan juga petinggi keluarga dari Stanley untuk membacakan ikrar pernikahan.
Sementara itu di tempat yang sama, terlihat Mikaila yang tersenyum canggung di depan Kedua orang tua dari mantan suaminya. wanita itu semakin canggung, saat wanita rentah yang dulu sangat mencintainya, nggak ikut menyambut dengan begitu hangat.
"bagaimana keadaanmu, sayang?"tanya Oma Juwita Seraya memeluk tubuh dari mikayla dengan begitu erat.
"aku baik-baik saja Oma."jawabnya dengan perasaan sedikit tidak enak. apalagi saat beberapa pasang mata, sempat memperhatikan interaksi di antara mereka semua.
"andai kamu masih menjadi istri dari Arthur, Ibu tidak akan pernah sesedih ini dan tidak akan pernah mendapatkan menantu modern wanita itu."ucap Claudia dengan lelehan air mata Seraya menatap ke arah Mikaila dengan tatapan sendu.
Kemudian beralih menetap ke arah Naima dengan tatapan yang begitu tajam dan juga penuh dengan kebencian.
"dulu kan Ibu juga melakukan hal yang sama padaku. buktinya sekarang, Ibu sudah sangat menyayangiku. dan aku yakin, hal itu juga pasti akan berlaku untuk Naima.
__ADS_1
Claudia yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya."itu beda sayang. dulu Ibu bersikap seperti itu karena belum mengetahui sifat asli kamu. sementara Naima, wanita itu dari awal sudah tidak menunjukkan perangai baik."balas wanita itu dengan cepat.