
Plak
Satu tamparan keras, seketika mendarat mulus di wajah Arthur. membuat si pemilik, seketika tersungkur ke arah samping.
"sudah puas Kau menghancurkan hati dan juga hidupku? aku tak menyangka kau dapat melakukan hal ini!"kecap Mikaila dengan tubuh bergetar hebat.
Sementara Arthur sendiri, laki-laki itu terseok-seok mencoba untuk menggapai tubuh istrinya yang masih mematung tidak jauh dari tempatnya bersimpuh saat ini.
"percaya padaku sayang, aku tidak pernah melakukan hal ini. ini semua fitnah!"ucap laki-laki itu meraung-raung.
sementara Mikaila yang mendengar itu, sejenak terdiam. karena memang, hatinya mengatakan bahwa sang suami tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan oleh semua orang. namun rasa sakit hati yang terlanjur menggerogoti hatinya, membuat pandangan wanita itu pada suaminya, sedikit menghitam.
"aku lebih percaya dengan kenyataan yang ada daripada mendengar ucapan dari manusia yang bisa saja berdusta."sahut wanita itu dengan tatapan dinginnya.
Setelah mengatakan hal itu, Mikaila segera pergi dari sana meninggalkan Arthur dengan rasa kesakitannya yang luar biasa.
Di depan pintu masuk kantor polisi itu, Mikaila berpapasan dengan ibu mertua dan keluarga yang lain hendak menjenguk laki-laki itu. membuat wanita yang baru saja melahirkan itu, sesekali akan tersenyum tipis menatap ke arah mereka. dan tak lama berselang, wanita itu segera pergi dari sana. membawa rasa sakit hati yang begitu luar biasa.
****
"apa yang akan kamu lakukan sekarang?"tanya Winarto pada Sang Putri. saat wanita itu baru saja sampai di kediaman Wardani.
Mendengar pertanyaan dari sang ayah, membuat Mikaila seketika mengangkat wajahnya. wanita itu sempat berpikir sejenak. sebelum akhirnya, mengedikkan bahunya rendah. menandakan bahwa wanita itu, tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
"sebaiknya kalian bercerai saja!"ucap Winarto. setelah mereka berdiam cukup lama.
degh
__ADS_1
Mikaila yang mendengar itu, sempat membelalakkan kedua matanya. karena jujur saja, wanita itu merasa sangat berat untuk melakukan tindakan yang diusulkan oleh sang Ayah. hatinya merasa tidak rela. walaupun logikanya, memaksa nikahilah untuk melaksanakan niatan itu secepatnya.
"kau tidak ada pikiran untuk kembali bersama dengan laki-laki seperti itu, bukan?"tanya Winarto mencoba untuk memahami keterdiaman dari Sang Putri.
membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika menatap sang ayah dengan tatapan tidak percaya.
Bagaimana ia tahu? apakah ayahnya itu memiliki kekuatan supranatural sehingga dapat membaca pikiran orang lain? memikirkan hal itu saja, membuat kepala dari Mikaila mendadak menjadi pusing.
"Mikaila, kau tidak...."ucapan Winarto seketika terhenti saat menatap wajah putrinya yang tampak sekali terpancar aura tidak suka di sana. membuat laki-laki paruh baya itu, seketika terdiam.
"baiklah kalau kamu masih belum siap untuk memikirkan tentang cara apa yang akan kamu tempuh nantinya. Papa pergi dulu."ucap Winarto Soraya bangkit dari tempat duduknya.
"Jika kamu sudah berubah pikiran, Maka jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi papa."lanjut laki-laki paruh baya itu sebelum benar-benar menghilang dari pandangan mata Mikaila.
Setelah kepergian dari sang papa, wanita itu segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dengan gontai menuju ke kamar pribadinya.
"kenapa Kau jahat sekali Mas!" seru Mikaila Seraya memukul-mukul kasur yang tengah ia tempati saat ini. karena merasa kelelahan akibat menangis cukup lama, pada akhirnya wanita itu pun tertidur pulas dengan memeluk sebuah foto yang memang sengaja diambil saat putrinya baru saja lahir ke dunia.
****
"apakah kalian tidak bisa menolongku untuk bebas dari tempat seperti ini?"tanya Fandy dengan raut wajah frustasi.
Karena jujur saja laki-laki itu merasa begitu iri melihat teman-teman komplotannya sudah bebas dan saat ini tengah menatapnya dengan tatapan penuh ejekan.
Mereka berdua, selalu dibela oleh keluarga untuk terbebas dari penjara sialan itu. sementara dirinya, harus bersabar menjalani hukuman yang sebenarnya bukan salah dirinya sendiri. ini membuat Fandy merasa sangat tidak adil. kenapa mereka bertiga yang berulah tapi yang harus mendapatkan hukuman hanya bagi seorang saja? apakah itu yang dinamakan adil? Tentu saja tidak itu sama sekali tidak adil.
Namun, apa boleh buat. keluarga dari Fandy tidak ada satupun yang membantu untuk laki-laki itu keluar dari masalah ini. Mereka terlihat begitu abai hingga membuat laki-laki itu, perlahan-lahan mulai menaruh dendam pada keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Maaf Fandy kami tidak bisa membantumu!."ucap Citra dengan nada tenangnya.
"kenapa? bukankah kalian bisa dengan mudah terbebas dari sini? lalu kenapa aku tidak bisa?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah kebingungan.
"karena ada yang harus kau lakukan terlebih dahulu sebelum kau keluar dari tempat ini."sahut Naima dengan senyuman tipisnya.
Membuat Fandy yang mendengar itu, terdiam cukup lama."apa yang harus aku lakukan?"tanya laki-laki itu dengan harga penasaran.
Citra dengan segera melangkahkan kakinya untuk mendekati laki-laki itu. dan dengan segera, mulai membisikkan sesuatu di telinganya.
Kedua bola mata dari Fandy seketika membulat sempurna."a...apa kalian berdua serius?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah tidak percaya.
Naima dan juga Citra yang mendengar pertanyaan dari laki-laki itu segera menganggukkan kepala.
"baiklah kalau begitu aku setuju. apakah dia juga ada di penjara ini juga?"tanya laki-laki itu dengan antusias. langsung dijawab anggukan kepala oleh kedua wanita itu.
" oke! besok adalah waktunya para orang-orang yang ada di penjara ini untuk menghirup udara bebas. karena besok, ada beberapa kegiatan. aku akan memanfaatkan momen itu."ucapnya dengan senyuman lebar.
"bagus laksanakan apa yang sudah kita sepakati sebelumnya!"setelah mengatakan hal itu, dua wanita iblis itu segera pergi dari sana. meninggalkan Fandy yang tersenyum dengan begitu lebarnya.
****
"bapak, Ibu, tolong aku untuk keluar dari sini."ucap laki-laki itu dengan ekspresi wajah penuh harap.
Tapi, mereka semua tidak ada yang bisa untuk membantu laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu. sebenarnya Bahrun bisa saja membebaskan putranya itu dengan menggunakan uang yang ia miliki.
Namun laki-laki paruh baya itu, terlalu merasa begitu kecewa dengan apa yang dilakukan oleh putranya itu. bagaimana bisa, seorang suami dan seorang ayah bisa melakukan hal sejauh itu pada darah dagingnya sendiri. sungguh, baru tidak bisa berpikir jernih akan masalah yang saat ini mereka hadapi itu.
__ADS_1
"maafkan bapak Arthur. sungguh bapak tidak bisa melakukan hal itu."setelah mengatakannya, Bahrun dan keluarganya segera pergi dari sana.