Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
Malu


__ADS_3

Beberapa saat di dalam mobil, mereka juga Tidak pernah berbicara sekalipun. kedua insan yang baru saja dipersatukan dalam ikatan pernikahan itu, masih saling mendiamkan diri satu sama lain. tanpa ingin menegur, salah satu diantara mereka terlebih dahulu.


Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi oleh Arthur dan juga Mikaila, telah sampai di depan rumah mereka. dengan segera, laki-laki itu masuk ke dalam bangunan mewahnya tanpa memperdulikan sang istri yang masih tertinggal di belakang.


"huh Untung saja aku tidak memiliki perasaan padanya dan tentu saja aku tak peduli." gumam Mikaila pada dirinya sendiri. dengan segera, wanita itu ikut masuk ke dalam hunian mereka.


Tepat di saat wanita itu membuka pintu rumahnya, Mikaila seketika mematung. karena di dalam sana terlihat orang-orang tengah berbincang-bincang di ruang tamu dan juga ruang keluarga. Sepertinya, hari ini akan ada acara. batin Mikaila.


Wanita itu, segera menyalami orang-orang yang ada di sana dengan sesekali tersenyum ramah. termasuk juga dengan Claudia dan ada Citra dan Debby yang mengaku sebagai sepupu Arthur hari itu.


"kalian kenapa datang secara terpisah seperti ini? apa kalian sedang bertengkar?"tanya Claudia menatap ke arah putra dan juga menantunya itu secara bergantian. namun di saat mata Claudia dan juga Mikaila bertemu, ada tatapan kepuasan dari wanita paruh baya itu.


"tidak apa-apa kami hanya kelelahan saja."jawab Mikaila asal. dan melangkahkan kaki untuk menghampiri Oma Juwita yang masih memandangi cucu menantunya itu dengan pandangan kagum.


"Oma apa kabar? sehat, kan?"tanya Mikaila Seraya bersimpuh di depan wanita tua itu.


Oma Juwita yang mendengar itu, seketika hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum kecil. kemudian tangan keriputnya itu, mulai terangkat membelai kepala Mikaila dengan penuh kasih sayang.


"kamu pasti capek, kan?"tanya wanita renta itu masih dengan mengucap kepala cucu menantunya dengan lembut. kemudian mengedarkan pandangan menatap ke arah Arthur yang masih berdiri di samping kursi sang ayah.

__ADS_1


"Arthur, bawa istrimu untuk istirahat."ucap wanita renta itu pada cucu laki-lakinya itu. dan hal itu segera di balas anggukkan olehnya.


"kalau begitu Mikaila pamit ke kamar dulu ya semuanya."ucapnya Seraya tersenyum simpul.


Sementara Claudia yang melihat itu, seketika memutar bola mata malas. andai saja mereka tidak berkumpul seperti ini, maka sudah dapat dipastikan wanita paruh baya itu akan memaki dan melontarkan kata-kata kasar terhadap wanita yang telah resmi menjadi istri putranya itu. namun sayangnya, Claudia tidak memiliki kehendak itu. apalagi saat ini, ada Oma Juwita yang mengawasi.


****


Sesampainya di dalam kamar, Mikaila mulai membersihkan diri tanpa menoleh ke arah sang suami sedikitpun. hatinya masih terasa sangat gondok karena dituduh yang tidak tidak oleh laki-laki itu.


"hah bagaimana bisa aku menikah dengan laki-laki over thinking seperti itu? sepertinya keputusanku untuk menikah dengannya, adalah keputusan yang sangat salah! apalagi jika mengingat perlakuan ibunya, sangat tidak respect."sampai di dalam kamar mandi pun, Mikaila masih menggerutu kesal.


"sial kenapa aku menjadi seperti ini?"tanya laki-laki itu memaki pada dirinya sendiri. seharusnya dirinya tidak perlu sampai berbuat seperti ini. karena mereka hanya melakukan pernikahan di atas kertas saja. tapi: entah kenapa sungguh sangat menyakitkan.


Tak berselang lama pintu kamar mandi pun terdengar dibuka dari dalam. dan tak berselang lama pula, seorang wanita keluar dengan pakaian tidur bergambar kucing berwarna biru di tengahnya. dan tanpa memperdulikan tatapan dari Arthur, Mikaila segera duduk di depan meja rias untuk memoles wajahnya dengan skin care malam.


"apa kau memiliki hubungan setelah kita menikah?"pertanyaan dari Arthur itu, membuat jemari lentik Mikaila terhenti. dan tak berselang lama, wanita itu menoleh ke arah laki-laki yang menjadi suaminya itu dengan yang tertaut karena merasa bingung.


"maksud Om apa?"tanya Mikaila dengan raut wajah tidak mengerti.

__ADS_1


"jawab saja pertanyaanku."ucapnya dengan tegas. kemudian, segera merogoh ponselnya dan memperlihatkan sesuatu pada wanita itu.


"ini pacar kamu kan?"tanya laki-laki itu Seraya menatap tajam ke arah Mikaila.


Sementara wanita yang dituduh itu, seketika membulatkan kedua matanya. dan tak berselang lama, wanita itu tertawa terbahak-bahak. membuat Arthur yang melihatnya semakin merasa kebingungan.


"kenapa kau tertawa seperti ini?"tanya Arthur dengan raut wajah tak suka.


"Karena Om memang sangat lucu hahaha."ucap wanita itu masih dengan tertawa Seraya menyentuh perutnya yang sedikit keram.


"memangnya apa yang lucu?"tanya Arthur yang mulai geram dengan tingkah wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"itu sepupu saya. dan juga kami pergi menjenguk nenek saya yang memang sudah lama tidak kami temui. Paham?"tanya Mikaila masih menatap laki-laki itu dengan perasaan geli


Malu? tentu saja perasaan itu yang sekarang menyeruak di dalam hati seorang Arthur. saat laki-laki itu, mengetahui fakta sebenarnya.


"la.. lalu kenapa dia berpose seperti itu?"tanya Arthur dengan raut wajah merah padam karena merasa malu.


"Adit itu memang suka seperti itu. dia memang sering sekali bercanda."ucap Mikaila dengan santai dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2