
Beberapa saat kemudian,..
Saat ini semua orang, tengah berada di ruang VIP bersama dengan Mikaila yang masih belum membuka matanya. Arthur masih dengan setia menemani wanita itu Seraya menggenggam tangannya.
sementara orang-orang yang ada di sana, satu persatu memutuskan untuk mengundurkan diri dari dalam ruangan itu. karena mereka merasa, semua telah baik-baik saja dan tidak ada yang perlu untuk dikhawatirkan.
"berhubung Mikaila dan juga Putri kalian sudah membaik, gue mau pergi dulu."pamit Aditya pada Arthur.
"Makasih udah datang. dan Maaf kalau sudah mendapatkan kalian."ucapnya dengan tersenyum simpul.
"tidak perlu sok asik seperti itu."cibir Aditya Seraya pergi dari sana.
"Oma juga mau pergi kamu jaga istrimu baik-baik. jangan sampai, ada sesuatu hal yang buruk terjadi pada wanita kesayangan Oma. jika itu sampai terjadi, maka kamu akan tahu sendiri apa akibatnya!"ancam Oma Juwita dengan nada suara tegas dan ekspresi wajah yang mengerikan.
"iya Oma iya."sahut Arthur dengan memutar bola mata malas. hingga membuat wanita tua itu, seketika mencebikkan bibirnya ke bawah. dan segera pergi dari sana setelah berpamitan dengan kedua orang tua Mikaila.
"kalau gitu Mama sama Papa juga mau pulang sebentar mau ambil pakaian ganti untuk kalian berdua."ucap Ruri Seraya menggandeng tangan sang suami.
Walaupun sebenarnya, laki-laki paruh baya itu sedikit merasa keberatan dengan apa yang dilakukan oleh sang istri. karena Winarto sendiri, masih ingin bersama dengan putrinya. namun tidak bisa berbuat apa-apa saat mendapatkan tatapan tajam dari wanita yang telah menemaninya cukup lama itu.
Arthur yang melihat itu hanya mengulum senyum. karena laki-laki itu, masih merasa takut terhadap keganasan yang ditunjukkan oleh laki-laki paruh baya yang menjabat sebagai ayah mertuanya itu.
Setelah Semua orang pergi dari sana, Arthur kembali menatap lekat ke arah istrinya itu dengan berbagai rasa yang berkecamuk di dalam dadanya.
"kapan kamu akan bangun, sayang? apakah kamu tidak ingin melihat bagaimana rupa dari Putri kita?"tanya laki-laki itu menggenggam tangan dari Mikaila."maafkan aku karena telah gagal menjadi pelindung yang baik untukmu."lanjut laki-laki itu dengan tubuh bergetar hebat.
Selain karena merasa kasihan dengan kondisi putrinya yang terlahir prematur, Arthur juga merasa sangat perih jika mengingat kenyataan bahwa kemungkinan besar istrinya itu tidak bisa memiliki keturunan lagi akibat parah yang ditimbulkan dari luka goresan dari perutnya itu. entah bagaimana nanti dirinya akan menjelaskan semua itu pada Mikaila.
__ADS_1
Arthur hanya berharap, semoga Mikaila bisa selalu tabah dalam menjalani takdir Tuhan yang begitu menyakitkan dan sedikit tidak adil itu. karena Arthur yakin, di setiap cobaan pasti akan ada hikmah setelah.
Samar-samar, jemari dari Mikaila terangkat ke atas. dan Hal itu membuat Arthur yang tengah asik menggenggam tangan dan juga berbicara dengan wanita itu, seketika tersentak kaget. dengan langkah cepat, laki-laki itu segera menghubungi dokter lewat tombol yang otomatis tersambung pada mereka.
Tak lama berselang, para tenaga medis itu segera datang untuk memeriksa keadaan dari Mikaila. sementara Arthur, laki-laki itu hanya menunggu dengan harap-harap cemas.
"bagaimana keadaan istri saya?"tanya laki-laki itu sesaat setelah para tenaga medis itu selesai memeriksa istrinya.
"syukurlah. Nyonya Mikaila telah berhasil melewati masa kritisnya. kita hanya menunggu nyonya Mikaila bisa menggerakkan anggota tubuhnya lagi dengan sempurna."papar dokter itu Seraya berlalu pergi dari sana setelah selesai memeriksa semua yang perlu diperiksa.
Arthur segera menghampiri dan memeluk tubuh wanita kesayangannya itu dengan penuh perasaan bahagia. karena pada akhirnya, badai itu benar-benar bisa dilalui.
"Mas!"panggil Mikaila dengan nada suara yang begitu lemah.
"iya Sayang, ada apa?"tanya laki-laki itu dengan ada yang sangat antusias.
Arthur yang awalnya tersenyum bahagia, seketika luntur. laki-laki itu sejenak terdiam menatap istrinya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Mas, ada apa?!"tanya wanita itu dengan nada yang sedikit menuntut karena sudah merasa tidak tahan dengan rasa penasarannya itu.
"bayi kita..."ucapan dari laki-laki itu terpotong begitu saja saat mendengar suara melengking dari Mikaila.
"kenapa dengan bayi kita?"tanya wanita itu menyentak lengan dari sang suami.
"dia berada di inkubator karena terlahir prematur!"ucap Arthur Seraya menundukkan kepala. karena Arthur tidak ingin melihat raut kekecewaan dari wanita itu itu. wanita yang telah berhasil menduduki dan juga mengisi seluruh ruangan di hatinya.
Mikaila yang mendengar itu, sesaat tertegun. namun beberapa saat kemudian, wanita yang baru saja menyandang sebagai ibu muda itu menyunggingkan senyuman tipis. membuat Arthur yang melihatnya, sedikit tersentak dan melebarkan matanya.
__ADS_1
Karena laki-laki itu berpikir, Mikaila akan mengamuk seperti biasa. namun sepertinya, kali ini ekspektasinya terlalu berlebihan.
"bolehkah aku melihatnya?"tanya wanita itu dengan nada suara yang sangat serak.
"tapi sayang, kamu kan baru saja sadarkan diri apakah tidak bisa menunggu untuk beberapa saat lagi?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah cemasnya.
"aku baik-baik saja Mas."ucapnya Seraya tersenyum tipis. membuat Arthur yang mendengarnya seketika, juga ikut tersenyum.
Arthur sekarang baru menyadari bahwa kekuatan seorang ibu dan anak, itu begitu kuat. lihat saja perubahan yang terjadi pada wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Mikaila yang baru saja tersadar dari komanya,bisa langsung sehat hanya karena buah cintanya telah lahir ke dunia dengan kondisi yang baik-baik saja .
Tentu saja, hal itu adalah hal yang sangat di idamkan dari seorang Ibu kepada anaknya.
"mas aku mohon." pinta wanita itu dengan raut wajah yang sedikit kesal. karena sejak tadi, suaminya itu hanya melamun saat di ajak berbicara.
Berulah setelah mendengar suara dari istrinya , Arthur tersadar dari lamunannya. dan tak lama berselang, laki-laki itu pun menganggukkan kepala dan mengambil kursi roda yang ada di sebelahnya.
mereka segera menuju ke tempat di mana Putri mereka berada.
"apa kamu bisa melihat itu?"tanya Arthur menuju ke arah salah satu sebuah box kaca dengan lampu yang cukup terang itu.
Membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika juga ikut menatap ke arah sana. dan tak lama berselang wanita yang baru saja menyandang status sebagai seorang ibu itu, tersenyum Seraya menitihkan air mata.
"di..dia putri kita?"tanya Mikaila dengan tubuh bergetar hebat dan deraian air mata yang membasahi pipi.
Arthur yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis
__ADS_1