
Beberapa hari kemudian....
Kondisi hubungan dari Arthur dan juga Naima, semakin lama semakin membaik. Tentu saja, itu karena pengaruh sebuah obat yang diberikan pada minuman laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu. sementara Claudia dan juga yang lain yang melihat itu, saling pandang satu sama lain karena mereka tidak menyangka dengan perubahan yang di lakukan oleh.
"Arthur Kenapa kamu menjadi berubah seperti ini? apa yang sudah dia lakukan untukmu?"tanya Claudia menatap ke arah putranya itu dengan tatapan heran.
Arthur yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah sumber suara. kemudian menatap ke arah orang-orang itu dengan tatapan datar.
"aku sudah sangat mencintai Naima. Jadi aku harap, kalian jangan pernah mengganggu istriku lagi."setelah mengatakan hal itu, Arthur segera menarik tangan dari Naima dan membawanya untuk masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan aktivitas mereka.
"apa yang dilakukan oleh wanita itu sehingga membuat Arthur seperti itu?"tanya wanita paruh baya itu kepada suami dan juga Ibu mertuanya.
Kedua orang itu juga menatap ke arah kamar Arthur yang kini telah tertutup. mereka juga tidak tahu apa yang terjadi pada laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu.
__ADS_1
"kita harus selidiki apa yang dilakukan oleh wanita itu pada Arthur."putus Oma Juwita pada akhirnya dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari mereka semua.
***
Sementara itu di dalam kamar terlihat Naima yang bergelayut manja di lengan Arthur. sementara laki-laki itu, seketika hanya tersenyum kecil dan memberikan beberapa kali ke depan di wajah Naima. tentunya Hal itu membuat wanita itu sendiri merasa sangat bahagia.
"ternyata ramuan itu sangat mujarab sekali. aku benar-benar menyukainya. Terima kasih profesor."batin Naima tersenyum senang.
***
"Sayang, kenapa wajahmu murung seperti itu?"tanya Ratih saat melihat cucu perempuannya hanya terdiam Seraya mengaduk-aduk makanan yang ada di hadapannya itu.
Moza yang mendengar itu, seketika mendongakkan kepalanya. kemudian secara perlahan-lahan tersenyum kecil Seraya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"aku tidak apa-apa Oma."balasnya dengan senyuman yang sengaja diperlihatkan begitu ceria.
Namun sepertinya, Ratih tidak percaya akan hal itu. karena wanita tua itu dapat melihat raut wajah dan juga pacaran mata dari Moza yang tidak bersemangat. sontak saja, wanita paruh baya itu menatap ke arah Fandy yang tengah menikmati makanannya tetapan penuh selidik.
"apa yang kau lakukan pada putrimu ini?"tanpa basa-basi lagi, Ratih menanyakan hal itu pada Fandy.
Membuat laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu, seketika menoleh."memangnya, apa yang aku lakukan?"tanya laki-laki itu dengan cueknya.
Tak lama berselang, Fandy langsung berdiri dan memilih untuk pergi ke kantor tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di hadapannya saat ini. namun sebelum itu, Fandy sempat memberikan beberapa kali kecupan di wajah dan juga rambut milik Mikaila. kemudian langsung melenggang pergi tanpa memberikan kecupan pada Moza.
Hingga membuat gadis kecil itu, seketika menundukkan kepala dengan raut wajah lesu. Ratih langsung menatap ke arah Mikaila dengan tatapan bertanya. membuat wanita cantik itu, seketika menghela nafas panjang. kemudian segera menceritakan apa yang terjadi pada pasangan ayah dan anak itu sebelum suasananya menjadi canggung seperti ini.
Ratih tampak tercengang. karena wanita paruh baya itu benar-benar merasa tidak mengerti dengan jalan cerita yang dimiliki oleh Fandy. bisa-bisanya dia memusuhi bocah kecil hanya karena urusannya tidak selesai.
__ADS_1