
Saat ini, Arthur tengah berada di hadapan kedua orang tuanya. laki-laki itu sempat melihat raut wajah khawatir yang terpancar dari binar mata sang ibu. membuat Arthur yang melihatnya, sedikit merasa kebingungan.
"Ada apa Pak, Bu?"tanya laki-laki itu Seraya menatap ke arah kedua orang tuanya secara bergantian.
Untuk beberapa saat, Bahrun menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelahnya menghembuskan secara perlahan. hal itu semakin membuat Arthur merasa ada sesuatu yang sedang berusaha kedua orang tuanya.
"ada apa?"tanya Arthur mendesak.
"nama sudah dinyatakan bebas oleh polisi."jawab Claudia dengan raut wajah sedikit kecewa.
"kenapa bisa?"tanya Arthur dengan raut wajah terkejut. ingatannya langsung melayang ke tempat di mana istrinya kini berada.
"dia itu kan bisa membeli hukum."jawab Bahrun dengan santai.
Yap. miris memang bahwa sebuah lembaga yang bertugas untuk menegakkan keadilan bisa dengan begitu mudahnya dibeli hanya karena orang tua ataupun keluarganya berkuasa. dan seharusnya Arthur sadar akan hal itu.
Tanpa pikir panjang lagi, laki-laki berusia hampir mencapai usia 40 tahun itu, segera beranjak dari tempat duduknya. laki-laki itu hendak melangkahkan kakinya untuk bisa melindungi sang istri.
"Kau mau ke mana?"tanya Claudia mencoba untuk mencegah pergerakan dari putranya itu.
"lepaskan aku Bu aku harus menemani Mikaila. pastinya saat ini dia sedang merasa ketakutan."ucap Arthur mencoba untuk menepis tangan ibunya.
"Dari mana kamu tahu jika Mikaila berada seorang diri di kamarnya?"tanya Bahrun secara tiba-tiba.
"karena kami baru saja ke sana Om. dan yang ada di sana, hanya punya saja. sementara yang lain, memutuskan untuk pulang." bukan Arthur yang menjawab melainkan Debby.
Bahrun tampak menghela nafas panjang."apa kalian lupa tentang keluarga Wardani? mereka tidak akan pernah membiarkan Putri mereka berada dalam bahaya. kalaupun mereka meninggalkan tanpa pengamanan yang ketat, pasti sebentar lagi mereka akan sampai ke sana."ucap laki-laki paruh baya itu mencoba untuk menjelaskan.
Namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Arthur. karena laki-laki itu, tetap teguh pada pendiriannya untuk berada di sisi wanita yang sangat ia cintai. dan pada akhirnya, laki-laki itu pun nekat untuk menemui Mikaila.
__ADS_1
"dasar keras kepala!"gumam Bahrun Seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. sementara Claudia, wanita paruh baya itu sudah heboh dan meminta untuk Debby menemani Arthur.
"udahlah tante. tante tenang aja Arthur akan baik-baik saja."setelah mengatakan hal itu, wanita yang sedikit tomboy itu segera keluar dari kediaman Stanley.
Niat hati wanita itu untuk refreshing dan bersenang-senang sejenak, seketika pupus. karena yang didapat bukannya ketenangan dan juga kesenangan, melainkan pusing akibat masalah yang dialami oleh Arthur itu sendiri.
***
"ini makanannya." ucap Aditya Soraya menyerahkan paper bag berisi makanan kepada wanita hamil itu. dan hal itu langsung disambut dengan begitu riang oleh wanita hamil itu.
"Terima kasih sepupuku tersayang."ucapnya dengan senyuman riang. Hal itu membuat Aditya yang mendengarnya, seketika ikut terkekeh. tiba-tiba saja,..
brakk
Pintu terbuka dengan begitu kencangnya. nggak membuat dua manusia yang berada di dalam kamar itu, seketika terjingkat.
"apa yang lu lakuin? kenapa lu bisa ada di sini?"tanya Aditya dengan tatapan yang sangat tajam mengarah kepada orang itu yang tak lain adalah Arthur.
greepp
Tanpa pikir panjang lagi dan juga tindakan secara tiba-tiba, laki-laki berusia 36 tahun itu segera memeluk tubuh istrinya dengan begitu erat. jangan lupakan raut wajah penuh dengan kekhawatiran dari laki-laki itu.
Tentunya Hal itu membuat Mikaila yang melihatnya, tertegun untuk beberapa saat. namun tak lama berselang, Mikaila segera mendorong tubuh dari laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu. saat kesadarannya pulih.
"apa yang Anda lakukan?"tanya mikhaila dengan nada suara yang begitu dingin dan juga seperti membentengi dirinya dari laki-laki itu.
"please Sayang maafkan aku aku benar-benar tidak pernah berniat membuatmu celaka seperti ini. semua itu, di luar kendaliku karena aku merasa begitu frustasi bagaimana caranya untuk mendapatkanmu kembali. untuk itu tolong maafkan aku!"ucapnya penuh dengan penyesalan.
Namun hal itu sama sekali tidak membuat Mikaila luluh. justru wanita itu malah sedikit merasa tersadar dengan tindakan yang baru saja dilakukan oleh Arthur.
__ADS_1
"maaf Mas Sepertinya aku sudah tidak bisa bersama denganmu lagi!"ucap Mikaila secara tiba-tiba.
duaaarr.
Sontak saja, ucapan dari Mikaila itu sukses membuat dua mata Arthur membulat sempurna.
"tidak aku tidak ingin kita berpisah. aku sungguh-sungguh mencintaimu aku sungguh-sungguh menyesal telah berbuat kasar padamu. tolong maafkan aku!"kita punya Seraya mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan deraian air mata yang membasahi wajah tampannya.
Sebenarnya Hal itu membuat Aditya sedikit merasa kasihan pada laki-laki itu. Namun demikian, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena yang menjalani semua itu adalah Mikaila sendiri.
"udahlah lebih baik lu pulang aja dulu. siapa tahu nanti setelah suasananya kembali kondusif, kalian bisa berbicara lagi dari hati ke hati."ucap Aditya mencoba untuk menasehati laki-laki itu.
Akhirnya, Arthur pun menurut. laki-laki itu segera berjalan untuk keluarga dari ruangan tempat Mikaila dirawat. namun sebelum itu, Arthur sempat berhenti tepat di samping Aditya.
"tolong jaga Mikaila dengan baik. karena gue tidak bisa selalu berada di sisi dia."setelah mengatakan hal itu, Arthur segera pergi dari sana.
Meninggalkan Aditya yang masih mematung di tempatnya. perkataan dari Arthur itu memang terkesan biasa saja. namun entah mengapa, laki-laki itu memiliki firasat buruk yang cukup kuat di balik ucapan suami dari sepupunya itu.
"semoga saja tidak ada apa-apa."ucap Aditya Seraya kembali kepada aktivitasnya semula.
****
sementara itu di lain tempat, terlihat dua orang wanita tengah menyusun rencana yang begitu matang untuk melenyapkan seseorang.
"kapan kita akan mulai melakukan hal ini?"tanya salah satu dari mereka yang tak lain bernama Citra.
"kau tenang saja. tidak lama lagi, rencana ini akan langsung dijalankan."ucap Naima penuh dengan ekspresi wajah yang begitu angkuh.
"baiklah kalau begitu aku sudah merasa tidak sabar menunggu hari itu tiba. karena aku benar-benar sudah sangat muak dan juga membenci wanita yang bernama Mikaila itu." ucap Citra Seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat karena menahan amarah yang begitu luar biasa.
__ADS_1
Sementara Naima sendiri, wanita itu hanya tersenyum penuh dengan makna yang entah apa.