
Beberapa hari kemudian....
Kondisi dari Mikaila, sudah semakin membaik. dokter mengatakan, wanita yang tengah mengandung selama 3 bulan itu sudah diperbolehkan pulang. tentunya Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, merasa begitu senang.
Hana dan juga Sarah seketika segera mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa pulang oleh sahabatnya itu. mereka berdua tampak sekali antusias.
"akhirnya kamu bisa pulang juga!"ucapnya Seraya memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat.
semua orang yang ada di sana, merasa sangat senang. karena pada akhirnya, orang yang mereka khawatirkan selama ini, sudah dalam keadaan baik-baik saja. sementara Mikaila sendiri, terlihat sangat tidak bersemangat.
Membuat Sarah yang pertama kali menyadari hal itu, seketika menghampiri dan langsung merangkul tubuh wanita hamil itu.
"kamu kenapa Mikaila?"tanya Ruri yang juga melihat raut wajah dari sang putri yang tampak berbeda dari sebelumnya.
"apa kita tidak bisa pergi dari rumah?"tanya wanita itu ambigu dengan nada sedikit khawatir.
Winarto yang mendengar itu, seketika langsung paham apa yang dimaksud oleh putrinya. lantas, laki-laki paruh baya itu segera menghampiri dan menggenggam tangan Mikaila dengan erat.
"memangnya kamu mau ke mana?"tanya laki-laki paruh baya itu dengan nada suara yang sangat lembut dan juga menenangkan.
Membuat siapapun yang mendengar itu, sedikit merasa lega. termasuk juga dengan Mikaila sendiri.
"boleh ke rumah nenek?"tanya wanita itu dengan raut wajah ragu-ragu. karena Mikaila takut, bahwa kedua orang tuanya tidak akan pernah mengizinkan dirinya untuk datang ke rumah wanita sepuh itu.
Karena memang di sana, penjagaannya cukup lenggang. mereka masih merasa trauma atas apa yang terjadi baru-baru ini pada Putri mereka. namun, Mikaila tidak menyangka bahwa kedua orang tuanya langsung mengiyakan permintaannya.
"kenapa tidak? sepertinya nenek juga sudah sangat merindukanmu."ucap Ruri Seraya mengusap kepala putrinya penuh dengan kasih sayang.
Sontak saja, Hal itu membuat Mikaila yang mendengarnya merasa sangat senang. bahkan tanpa sadar, wanita itu segera mengangkat kedua tangannya ke udara. membuat siapapun yang melihat itu, akan merasa sangat gemas.
__ADS_1
"kalian pokoknya harus temenin aku di rumah nenek. aku nggak mau tahu!"ucap Mikaila Seraya menatap ke arah kedua sahabatnya secara bergantian.
Sarah dan juga Hana yang mendengar itu, sejenak saling pandang. dan tak lama berselang, mereka berdua memutar bola mata malas. membuat Mikaila sendiri, seketika merengek seperti anak kecil. dan hal itu sukses membuat semua orang yang ada di sana, tertawa karena tingkah mereka.
Tak terkecuali, seorang laki-laki yang sejak tadi menatap ke arah salah satu sahabat Mikaila. kalian pasti tahu dong siapa orangnya? Yap dia adalah Aditya. yang secara diam-diam, mengamati Sarah dengan menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang begitu tipis dan juga tidak terlihat.
"Ya sudah! kalau begitu, kalian berempat segera berangkat. dan kau, harus menjaga sepupumu dengan baik. laporkan semua kejadian apapun padaku. apakah kamu mengerti?"tanya Winarto menatap ke arah Putra mendiang adiknya itu.
"aku mengerti Om."setelahnya, kendaraan yang mereka tumpangi, segera melesat menjauh dari area rumah sakit itu. meninggalkan Ruri dan juga Winarto, yang masih memandang kepergian dari orang-orang itu.
"kenapa?"tanya laki-laki paruh baya itu Seraya menatap ke arah istrinya untuk sesaat.
"apakah dia aman tinggal di sana?"tanya Ruri dengan raut wajah sedikit khawatir.
"kau tenang saja. aku tidak akan pernah mungkin meninggalkan putriku seorang diri!"ucapnya terdengar tegas namun juga tenang.
Ruri yang mendengar itu, seketika tersenyum lebar. mereka Segera menaiki mobil yang berbeda untuk segera menuju ke kediaman Wardani.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang telah melihat semua pergerakan dari keluarga Winarto. dan tanpa pikir panjang lagi, Arthur segera mengikuti mobil yang membawa Mikaila itu.
****
Sementara itu di dalam mobil, Mikaila tak henti-hentinya tersenyum kecil. karena wanita yang tengah berbadan dua itu, akan melepas rindu pada sang nenek.
Namun setelah mengingat akan pertanyaan yang mungkin saja akan dilontarkan oleh wanita sepuh itu, senyuman dari Mikaila, perlahan-lahan mulai luntur. dan hal itu disadari oleh Sarah.
"kenapa?"
Mikaila langsung menoleh ke arah bangku yang paling belakang. di mana Di sana, ada Aditya Yang tengah bermain ponsel. Aditya yang merasa diperhatikan, seketika mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"kenapa?"tanya laki-laki bersetubuh jangkung itu.
"nanti kalau sampai di rumah nenek, aku harus jawab apa saat beliau bertanya di mana suamiku?"tanya Mikaila dengan raut wajah cemas.
Aditya yang mendengar itu, lantas tersenyum kecil. dan sedikit mengacak-acak rambut milik sepupunya itu.
"Lo tenang aja. gue udah ada jawabannya."balasnya meyakinkan. Mikaila yang mendengar itu, Seketika menghembuskan nafasnya lega.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil itu telah berhenti tepat di depan rumah milik nenek Mikaila. di saat wanita hamil itu ingin turun, Hana menarik ujung bajunya. membuat si wanita, seketika menoleh ke arahnya.
"ada apa?"tanya Mikaila dengan dahi mengerut.
"apakah di rumah ini ada kamar lebih?"tanya Hana dengan polosnya. dan hal itu langsung membuat Mikaila yang mendengarnya, tertawa renyah.
"kamu tenang saja. semuanya aman. di rumah ini, ada tiga kamar. kamu bisa tidur dengan Sarah. sementara kamar yang satunya, akan ditempati oleh Adit."jawab wanita itu masih dengan senyuman.
Hana segera mengganggu dan membawa Mikaila untuk menemui wanita sepuh. Yang sepertinya, sudah menunggu kedatangan mereka.
"nenek!"panggil Mikaila Seraya berhambur ke dalam pelukan wanita renta itu.
"nenek gimana keadaannya apakah semua baik-baik saja? aku benar-benar sangat rindu."ucap wanita itu dengan suaranya yang tidak bisa berhenti untuk berbicara.
Hingga membuat nenek Kamila sendiri, seketika tertawa pelan karena melihat tingkah laku dari cucunya itu.
"bagaimana keadaanmu sayang?"tanya wanita itu Seraya mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih sayang.
"Mikaila baik-baik saja."jawabnya Seraya tersenyum simpul.
Nenek Kamilah, sempat menjatuhkan pandangannya ke area perut dari Mikaila. membuat si empu, juga melakukan hal yang sama. dan tak lama berselang, senyuman itu terbit dari bibir wanita hamil itu.
__ADS_1
"nenek akan punya cicit."beritahu Mikaila. yang membuat mata wanita renta itu, seketika melebar dengan sempurna.