
Sesampainya di depan rumah keluarga Wardani, Mikaila segera turun dari sana. dan tanpa pikir panjang lagi, wanita cantik itu sudah melangkahkan kakinya terlebih dahulu untuk masuk ke dalam rumah. rasa sakit hati dan juga kesal karena terus diganggu oleh laki-laki yang sudah menjadi masa lalunya itu, membuat wanita itu menghiraukan semuanya. termasuk juga, Moza. gadis cilik yang memiliki rambut ekor kuda itu bahkan sejak tadi memanggil nama Mikaila. namun, wanita cantik itu tak menghiraukannya sama sekali.
Puk
Wanita itu sontak terkejut. saat Pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang.
"apa?"tanya Mikaila malas. karena memang, wanita itu masih merasa begitu kesal akibat kejadian yang baru saja terjadi itu.
Sementara Fandy sendiri, laki-laki yang memiliki tanda lahir di lengannya itu refleks melangkah mundur. jujur Saja, laki-laki itu merasa takut saat ini.
Menyadari akan reaksi dari Fandy, Mikaila seketika meringis karena merasa sedikit malu dengan dirinya sendiri karena telah bersikap arogan terhadap orang lain.
"aku cuma mau bilang, kamu dari tadi dipanggil sama Moza tapi malah kamu menghiraukannya."balas laki-laki itu Seraya menunjuk ke arah gadis kecil itu yang masih menatap keduanya dengan tatapan penuh kebingungan.
Mendengar kalimat dari laki-laki itu, sontak saja, Mikaila langsung menoleh ke arah bocah kecil itu. tanpa basa-basi lagi, langsung berlari untuk menghampirinya.
"aduh Sayang, maafkan tante ya, tante nggak bermaksud untuk cuekin kamu."ucap wanita itu penuh dengan rasa bersalah yang luar biasa.
Membuat Mikaila sendiri, seketika merasa tertegun karena menyadari akan sesuatu. kenapa dirinya menjadi merasa bersalah seperti ini? padahal sebelumnya saat bersama dengan seorang anak kecil dan melakukan kesalahan, Kayla tidak pernah melakukan hal itu. bisa dibilang, ini adalah kali pertamanya dia mengatakan permohonan maaf itu.
"nggak papa kok tante Moza mengerti."ucap gadis kecil itu Seraya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis.
Mikaila dengan gemas, langsung menggendong. dan langsung menciumi wajah dari gadis kecil itu karena sudah benar-benar merasa gemes.
"kita pulang sekarang ya?"tiba-tiba saja, Fandy datang kedua wanita itu seketika menoleh ke arah sumber suara dengan raut wajah yang sama-sama tidak rela.
"kenapa kamu mengajak pulang Moza? apakah kamu marah karena aku mendiamkanmu sejak tadi?"tanya wanita itu menebak.
__ADS_1
Fandy yang mendengar itu seketika terkekeh geli. kemudian dengan segera, menggelengkan kepalanya.
"kamu ini ngomong apa, sih? kenapa aku harus marah hanya karena kamu mendiamkanku?"tanya laki-laki itu masih tetap terkekeh kecil.
Mikaila mendengus dan sedikit menatap malas ke arah laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"terus kenapa ngajak Moza pulang cepet?"tanya wanita itu masih dengan raut wajah yang begitu masam seperti baju yang belum disetrika untuk beberapa hari.
Fandy yang mendengar itu semakin tertawa lebar. hingga beberapa kali, laki-laki itu harus meringis karena mendapatkan beberapa jepitan maut dari Mikaila. hingga membuat tawanya pun berhenti.
"Mama mau ngajak Moza jalan-jalan. ini Mama baru saja menelponku."ungkap laki-laki itu Seraya mengangkat teleponnya dan memang benar di sana terlihat nama dari Ratih.
Mikaila yang melihat itu, seketika menghembuskan nafasnya kasar. karena sebenarnya, wanita itu masih tidak rela jika harus kehilangan Moza untuk hari ini. karena memang, wanita itu merasa sebentar bertemu dengan gadis kecil itu.
"nanti kalau urusannya sudah selesai, aku janji akan membawa Moza ke sini lagi."seakan paham apa yang dirasakan oleh Mikaila, pada akhirnya, Fandy mengucapkan hal itu.
"kamu janji ya, setelah nanti urusannya beres sama nenek, kamu bisa main ke sini lagi."ucap wanita itu Seraya menjawil hidung mancung milik sang gadis kecil itu.
Moza yang mendengar itu, seketika hanya tertawa. kemudian tak lama berselang, tangan Fandy pun terulur. dan langsung disambut oleh tubuh kecil dari Moza.
"dadah tante! Moza pergi dulu!"pekiknya keras Seraya melambaikan tangan pada wanita yang sudah benar-benar berada dalam hatinya saat ini.
"dadah sayang nanti kalau sudah selesai, kamu harus main ke sini lagi."balas wanita itu tak kalah lantang.
Bahkan saking lantangnya, beberapa orang yang ada di dalam rumah seketika keluar.
"kenapa teriak-teriak?"tanya Ruri Seraya berkacak pinggang. membuat Mikaila sendiri, seketika terkekeh kecil kemudian langsung mengecup pipi kedua orang tuanya dan kabur dari sana.
__ADS_1
membuat Ruri dan juga Winarto yang melihat itu, seketika menggelengkan kepalanya masing-masing. karena melihat tingkah laku dari Putri semata wayang mereka itu yang seperti seorang anak kecil.
****
Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di keluarga kediaman Stanley, terlihat tamu undangan baru saja membubarkan diri. dan yang tersisa di sana, hanyalah keluarga dan kerabat dari kedua mempelai.
"kamu mau tinggal di mana setelah menikah?"tanya ibunda dari Naima saya tersenyum ke arah orang-orang yang ada di sana.
"Sepertinya kita akan pindah ke apartemen."sahut wanita itu dengan cepat tanpa menoleh dan meminta persetujuan dari laki-laki yang ada di sebelahnya saat ini.
Claudia dan juga Bahrun yang mendengar itu, seketika saling pandang satu sama lain. tak lama berselang, mereka berdua menatap ke arah Putra semata wayang mereka itu yang masih terdiam di tempatnya.
"apakah itu benar, Arthur?"tanya Claudia dengan raut wajah cemasnya. karena wanita paruh baya itu memang belum bisa menerima jika putranya harus tinggal berjauhan.
Mungkin memang bisa dibilang, Claudia egois karena tidak membiarkan Arthur memiliki privasi yang lain seperti orang-orang pada umumnya. tapi apa boleh buat, wanita itu hanya memiliki Arthur sebagai penerus keluarga besarnya. dan lagi, Claudia tidak ingin berjauhan dari putranya sendiri.
Arthur yang tersadar dari lamunannya seketika menoleh. kemudian tak lama berselang, laki-laki itu pun menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"tidak aku tidak ingin ke mana-mana aku hanya ingin bersama dengan ibuku."sahutnya dengan ekspresi wajah datar.
"Arthur, apa yang kau---"
"jika kau tidak ingin mengikuti saran dariku, lebih baik kau kembali saja kepada keluargamu."potong Arthur dengan cepat.
Naima yang mendengar itu seketika membulatkan kedua matanya. Namun demikian, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.
"baiklah terserahmu saja."sahutnya dengan pasrah.
__ADS_1
Kemudian setelah berbincang-bincang cukup lama, laki-laki itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. karena memang hari ini, benar-benar sangat melelahkan. Naima dengan segera mengikuti langkah dari laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya itu.