Pura-pura Menikah

Pura-pura Menikah
PPM~Bab 112


__ADS_3

Setelah berputar-putar cukup lama dengan berbagai belanjaan yang ada di tangan masing-masing, pada akhirnya Mikaila dan juga Fandy beserta Moza, memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. karena memang, hari sudah menjelang malam.


"kita pulang masing-masing saja ya?"tanya Mikaila dengan perasaan tidak enak.


"memangnya kenapa?"tanya laki-laki itu Seraya mengerutkan keningnya. karena memang, tujuan awal dari Fandy mengajak wanita itu ke mall, adalah untuk lebih dekat dengan dirinya dan juga Moza.


Karena seperti dugaannya, Wanita itu sudah mulai masuk ke dalam perangkapnya.


Mikaila yang merasa tidak enak karena terlalu direpotkan, seketika angkat bicara."aku hanya merasa tidak enak karena terlalu merepotkanmu."sahut wanita itu dengan raut wajah sendunya.


Fandy seketika menggelengkan kepala Seraya terkekeh pelan."tidak ada yang merasa direpotkan di sini. justru, aku yang merasa tidak enak karena selalu merepotkanmu dengan menitipkan Moza kepada keluargamu."balas Fandy pada akhirnya.


Mikaila seketika yang bergantian menggelengkan kepalanya dengan kuat mendengar penuturan dari laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


"tidak Fandy tidak ada yang harus tidak enakan. karena memang, aku yang meminta Moza untuk bersama denganku dan juga keluargaku. seharusnya aku merasa bersyukur karena kalian mau menerima dan mau mengizinkanku untuk bersama dengan bocah kecil itu. padahal kalian tahu, bahwa aku adalah orang lain bukan merupakan anggota keluarga."ucapnya tersenyum manis.


Fandy memilih untuk tidak membalasnya. karena dapat dipastikan, semuanya akan panjang jika terus berdebat satu sama lain. dan pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk melanjutkan aktivitas makan mereka.


Setelah selesai menghabiskan menu makanan masing-masing, mereka bertiga segera keluar dari dalam restoran itu. saking antusias dan excited nya, mereka bertiga sampai tidak sadar jika ada seseorang yang memperhatikan tingkah laku itu.


Siapa lagi orangnya jika bukan Arthur. laki-laki yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu, terus memperhatikan wanita yang sebenarnya masih berada di tahta tertinggi dalam hatinya itu. bahkan laki-laki itu, sama sekali tidak memperdulikan ocean yang dilakukan oleh wanita yang ada di sampingnya.


Karena fokus dari Arthur saat ini adalah wanita tercantik sejagat raya versi dirinya sendiri. siapa lagi orangnya jika bukan Mantan istrinya. karena laki-laki itu sampai saat ini masih sangat mencintai Mikaila. mungkin, sampai kapanpun juga akan tetap sama.

__ADS_1


"heh kamu itu liatin apa sih?"tanya nayma dengan raut wajah kesalnya. karena sejak tadi, laki-laki itu tidak memperhatikannya untuk berbicara dan malah memperhatikan objek lain.


Dengan gemas dan juga kesal, Naima segera menoleh ke arah pandangan yang dituju oleh Arthur. dan tak lama berselang, kedua bola mata dari Naima membulat sempurna. rahang dari wanita itu seketika mengeras dengan dada yang naik turun. Menandakan, bahwa wanita itu saat ini tengah menahan emosi yang luar biasa.


Dengan langkah tergesa-gesa, Naima segera menghampiri Mikaila yang masih berbincang-bincang dengan Fandy. dan tiba-tiba saja,....


Plak Plak Plak


Suara tamparan keras itu, seketika menggema di ruang terbuka itu. dan beberapa detik kemudian, mereka berdua menjadi pusat perhatian para pengunjung mall yang memang masih ada di sana.


"apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menamparku?!"tanya Mikaila dengan raut wajah merah padam. pertanda bahwa wanita itu saat ini, tengah menahan amarah yang luar biasa.


"karena itu pantas untukmu!"hardik Naima dengan menunjuk wajah dari Mikaila. membuat wanita cantik itu seketika mengerutkan keningnya merasa tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri dari mantan suaminya itu.


Membuat wanita itu, seketika tersenyum sinis."nggak usah sok polos! bukankah kamu memang Yang merencanakan hal ini? kau ingin kembali kepada mantan suamimu itu, kan? ih dasar murahan!"hardiknya menjadi-jadi.


Kedua bola mata dari Mikaila seketika membulat sempurna. Hati dari wanita itu seketika tertohok begitu saja saat mendengar penuturan dari wanita yang ada di hadapannya saat ini.


Plak... Plak Plak Plak


Dengan tatapan yang begitu bengis, Mikaila menampar wajah dari Naima bahkan lebih keras dan lebih banyak dari wanita itu menampar Mikaila. hingga membuat Naima, seketika terhuyung ke samping. benar-benar merasakan pusing yang luar biasa akibat tamparan yang begitu keras yang di terima dari Mikaila.


"kau...!!"tunjuk Naima tepat di hadapan Mikaila.

__ADS_1


"apa, kau mau apa?!"tantang Mikaila dengan tatapan yang semakin menatap penuh dengan kebencian ke arah wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"jangan kau pikir, kemarin aku takut menghadapimu karena aku diam saja! itu sama sekali tidak benar. aku tidak selemah itu!"desisnya Seraya pergi dari sana. meninggalkan Naima yang masih berteriak-teriak seperti orang yang tidak waras.


"kau baik-baik saja?" tanya Fandy mencoba untuk memastikan keadaan dari wanita yang dia cintai dan dia obsesikan itu.


Mikaila menoleh ke arah Fandy dengan senyuman yang sangat manis." aku baik-baik saja kau tidak usah khawatir." ucapnya menatap ke arah Fandy dengan senyuman tulus.


Membuat laki-laki itu juga ikut menyunggingkan senyuman tipis. mereka segera pulang. Dengan Fandy mengantarkan wanita itu terlebih dahulu.


Sesampainya mereka di rumah kediaman keluarga Wardani, Mikaila langsung disambut heboh dengan Ruri dan juga Winarto yang berada di halaman rumah tengah berbincang-bincang dengan keluarga yang lain.


"Mikaila, ini kenapa?!"teriak Ruri dengan wajah yang begitu panik saat melihat wajah dari putrinya itu yang bapak blur akibat tamparan yang cukup keras bertubi-tubi yang menderita di wajahnya.


Mendengar teriakan itu, buat atensi dari semua orang seketika teralihkan. dan tak berselang lama, nenek Kamila datang bersama dengan Aditya.


"ini kenapa bisa begini??"tanya wanita rentak itu dengan raut wajah yang begitu panik. dan tak lama berselang, kedua sudut bibir dari wanita rentak itu tertarik ke bawah disertai dengan lelehan air mata yang membasahi pipi.


"eh Nenek kenapa nangis?!"tanya Mikaila dengan raut wajah yang panik. Karena Wanita itu tidak menyangka, bahwa luka yang ia dapatkan saat ini benar-benar membuat wanita renta itu menangis seperti itu.


"maafkan aku, maafkan aku karena membuat nenek menjadi menangis seperti ini tolong maafkan aku."wanita itu dengan nada bersungguh-sungguh.


sementara Fandy sendiri, laki-laki itu masih terdiam di tempatnya dengan menggendong Moza.

__ADS_1


"ini semua gara-gara kamu, kan?"tiba-tiba saja Aditya menuduh Fandy yang melakukan hal itu.


__ADS_2